Hi Urbie’s! Menstruasi adalah bagian dari kehidupan yang akan dialami perempuan, tetapi tidak semua remaja mendapatkan kesempatan yang sama untuk memahami apa yang terjadi pada tubuh mereka. Di Karawang, puluhan siswi tunarungu mendapat ruang untuk belajar tentang menstruasi dan kebersihan diri melalui pendekatan yang dibuat khusus agar mereka bisa memahami informasi kesehatan dengan cara yang lebih mudah.

Kegiatan bertajuk“Love Your Possibilities: We Can!”tersebut digelar Unicharm bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang pada Rabu, 12 Agustus, di SLB B Tunas Harapan, Karawang, Jawa Barat. Bukan sekadar edukasi tentang pembalut, kegiatan ini membawa pesan yang jauh lebih besar: informasi kesehatan reproduksi seharusnya bisa diakses semua remaja perempuan tanpa terkecuali.

Ketika Edukasi Kesehatan Harus Bisa Dipahami Semua Orang

Bayangkan menerima informasi tentang menstruasi tetapi materi yang diberikan tidak dibuat dengan cara yang bisa kamu akses. Bagi sebagian remaja penyandang disabilitas, situasi semacam ini masih menjadi tantangan yang membuat informasi mengenai kesehatan reproduksi tidak selalu sampai secara utuh.

Data Badan Pusat Statistik melalui Long Form Sensus Penduduk 2020 yang diterbitkan pada 2024 mencatat bahwa lebih dari 75 persen anak penyandang disabilitas belum mendapatkan akses pendidikan yang memadai. Ketimpangan tersebut pada akhirnya dapat berpengaruh pada kesempatan mereka memperoleh berbagai informasi penting, termasuk mengenai kesehatan reproduksi dan kebersihan menstruasi.

Padahal, akses terhadap kesehatan dan hak reproduksi bagi perempuan penyandang disabilitas telah mendapatkan landasan hukum melalui Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Artinya, persoalannya bukan apakah informasi tersebut penting, melainkan bagaimana memastikan informasi itu benar-benar bisa diterima oleh mereka yang membutuhkan.

Belajar Menstruasi dengan Bahasa yang Lebih Ramah

Di SLB B Tunas Harapan, pendekatan edukasi dibuat lebih interaktif. Materi disampaikan menggunakan alat bantu visual dan media yang kaya gambar, sementara guru pendamping turut membantu melalui penerjemahan bahasa isyarat.

Urbanvibes article banner

Pendekatan tersebut membuat pembahasan yang terkadang dianggap sensitif menjadi lebih mudah dicerna. Para siswi tidak hanya diajak mengenal menstruasi, tetapi juga memahami bagaimana memilih pembalut sesuai kebutuhan, menjaga kebersihan diri, serta membedakan mitos dan fakta yang beredar mengenai menstruasi.

Hal sederhana seperti memahami mengapa darah menstruasi yang menggumpal bisa menimbulkan kekhawatiran kebocoran juga menjadi bagian dari materi. Edukasi semacam ini penting karena pengetahuan mengenai tubuh bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga bagian dari kemampuan seseorang untuk merawat dirinya sendiri.

Mewakili Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang, Ketua Tim Kerja Promosi Kesehatan dr. Hardi Hermawan, MKM, menilai kolaborasi semacam ini diperlukan untuk menjangkau kelompok yang selama ini menghadapi tantangan akses informasi.

Menurutnya, anak-anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan, termasuk edukasi kesehatan reproduksi, manajemen kebersihan menstruasi dan perawatan kebersihan diri. Kolaborasi pemerintah daerah dengan sektor swasta dinilai dapat membantu memastikan tidak ada remaja putri yang tertinggal dalam mendapatkan informasi kesehatan dasar.

Baca juga:

Bukan Sekadar Bicara Soal Pembalut

Program ini juga menjadi bagian dari upaya Unicharm menghadirkan edukasi menstruasi yang lebih inklusif. Presiden Direktur Unicharm, Yasutaka Nishioka, menyampaikan bahwa perusahaan ingin menjadi perusahaan yang paling dicintai oleh perempuan di Indonesia, salah satunya melalui kegiatan edukasi kesehatan.

Komitmen tersebut, menurut Yasutaka, juga diarahkan pada inovasi produk dan inisiatif keberlanjutan yang memberikan kontribusi kepada masyarakat dan lingkungan. Semangat itu sejalan dengan slogan perusahaan,“Ethical Living for SDGs.”

Dalam kegiatan tersebut, Unicharm turut memperkenalkan teknologiPori Serap “Hingga Gumpalan”dari Charm. Berdasarkan riset Unicharm pada 2025, lebih dari 30 persen perempuan Indonesia memiliki kekhawatiran terhadap gumpalan darah menstruasi yang dapat menyebabkan kebocoran, terutama ketika tidur pada malam hari.

Gumpalan darah menstruasi memiliki tekstur yang jauh lebih kental dibandingkan darah cair biasa. Kondisi tersebut dapat membuat darah lebih sulit menembus permukaan pembalut dan berpotensi tertahan sebelum terserap.

Teknologi tersebut kemudian dikembangkan dengan ukuran pori pada permukaan penyerap yang diperbesar hingga dua kali lipat dengan kedalaman tertentu, tanpa mengubah ketebalan lapisan penyerap. Inovasi ini tersedia pada varianCharm Safe Nightdan diperkenalkan melalui karakter “Gumpy” yang dibuat untuk menghadirkan cara pandang yang lebih ringan terhadap topik menstruasi.

Karena Semua Remaja Berhak Tahu Tentang Tubuhnya

Pada akhirnya, cerita dari Karawang ini bukan hanya tentang sebuah kegiatan edukasi atau inovasi pembalut. Ada pesan yang jauh lebih penting di baliknya: menstruasi tidak mengenal batas kemampuan, sehingga informasi mengenai menstruasi juga seharusnya tidak memiliki batas akses.

Ketika materi dibuat lebih visual, bahasa isyarat dilibatkan dan guru pendamping menjadi bagian dari proses belajar, edukasi kesehatan tidak lagi berhenti pada siapa yang bisa mendengar atau membaca informasi. Edukasi berubah menjadi sesuatu yang benar-benar bisa dipahami dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Urbie’s, mungkin kita sering menganggap pengetahuan tentang menstruasi sebagai sesuatu yang otomatis didapat ketika seseorang tumbuh dewasa. Padahal, bagi sebagian remaja, akses terhadap informasi tersebut harus sengaja dibuka agar mereka memiliki kesempatan yang sama untuk mengenal tubuh, menjaga kesehatan, dan menentukan masa depannya sendiri.

Karena pada akhirnya, inklusivitas bukan sekadar mengundang semua orang untuk hadir.Inklusivitas berarti memastikan semua orang benar-benar bisa memahami apa yang sedang dibicarakan.