Hi Urbie’s! Kalau biasanya networking event identik dengan ngobrol santai, bertukar kartu nama, lalu pulang membawa beberapa kenalan baru, Ruang Tamu DMS+ Vol. 2 punya agenda yang jauh lebih besar. Digelar pada 2 September 2026 di Sixty Resto & Bar, Goodrich Hotel Antasari, Jakarta, acara yang mengusung tema “Chill & Build” tersebut justru menjadi ruang bagi DMS+ untuk membuka peta perjalanan mereka menuju 2027.

Partners, media, dan brand yang selama ini bekerja sama dengan DMS+ berkumpul dalam suasana yang santai, tetapi pembahasannya cukup serius. Di balik konsep “Ruang Tamu”, jajaran pimpinan DMS+ memaparkan bagaimana perusahaan ingin memperluas jangkauan, meningkatkan kapasitas produk, sekaligus membangun fondasi bisnis yang lebih besar.

Dan semuanya dirangkum dalam tiga kata: Wider, Higher, Bigger.

DMS+ Punya Target “Wider, Higher, Bigger”

Rangkaian acara dibuka oleh CEO DMS+ Demian Aditya bersama jajaran pimpinan perusahaan. Mereka memaparkan tiga arah utama scale-up DMS+ pada 2027 yang masing-masing memiliki fokus berbeda, tetapi saling terhubung.

Pertama adalah Wider, bagaimana DMS+ ingin memperlebar jangkauan platform. Kedua, Higher, yaitu meningkatkan kapasitas dan skala produk. Sementara yang ketiga, Bigger, berkaitan dengan bagaimana membangun fondasi bisnis agar ekosistem DMS+ dapat berkembang secara berkelanjutan.

Bagi DMS+, 2027 tampaknya bukan sekadar soal membuat lebih banyak konten. Perusahaan ingin mengubah cara platform bekerja sekaligus membuka pintu yang lebih lebar bagi kreator, IP, teknologi, hingga industri film.

Wider: DMS+ Berubah Menjadi “Horrortainment”

Bagian pertama dipaparkan Demian Aditya. Salah satu langkah paling menarik adalah transformasi DMS+ menjadi “Horrortainment”.

Konsep tersebut akan membuat DMS+ tidak lagi terbatas pada satu identitas, melainkan membuka platform bagi seluruh kreator konten horor Indonesia. Dengan demikian, DMS+ ingin menjadi ruang yang mempertemukan lebih banyak kreator dan cerita horor dalam satu ekosistem.

Namun ekspansi tersebut tidak berhenti di sana.

DMS+ juga mulai mengarahkan produksi kontennya ke format Vertical Movie, yakni drama horor vertikal yang dirancang sejak awal untuk konsumsi melalui perangkat mobile. Format ini diproyeksikan menjangkau audiens baru melalui platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts.

Jadi, kalau selama ini horor identik dengan layar bioskop atau video berdurasi panjang, DMS+ ingin membawa genre tersebut masuk lebih dalam ke kebiasaan konsumsi konten generasi digital.

Higher: Dari Creator Room hingga 1.000 Konten AI

Setelah memperlebar jangkauan, DMS+ ingin menaikkan kapasitas produknya. COO DMS+ Syahrizal memaparkan sejumlah rencana yang terdengar cukup ambisius.

Salah satunya adalah pengembangan Creator Room, sebuah ruang kolaborasi yang memungkinkan kreator horor membangun dan mengembangkan konten mereka sendiri di dalam platform DMS+.

Tidak kalah menarik, DMS+ menargetkan produksi 1.000 judul vertical content berbasis AI. Konten tersebut akan mengangkat berbagai entitas yang sudah tersedia di Sosokpedia dan aplikasi, sehingga aset yang telah dimiliki dapat dikembangkan menjadi cerita dalam format baru.

DMS+ juga menyiapkan My Movie, sebuah agregator film dan series vertikal lintas genre. Artinya, ekosistem yang dibangun tidak selamanya hanya berkutat pada horor, tetapi berpotensi bergerak ke berbagai jenis cerita.

Bigger: Saat Konten Mulai Dipandang sebagai Aset

Bagian ketiga menjadi semakin menarik karena berbicara mengenai bagaimana DMS+ melihat konten bukan hanya sebagai produk untuk ditonton, tetapi juga sebagai aset bisnis.

CFO DMS+ Teguh Arifianto menjelaskan rencana pembentukan IP Management, sebuah sistem untuk mengelola hak cipta dan aset kreatif secara profesional.

Dengan fondasi tersebut, aset dan konten yang berada dalam ekosistem DMS+ dapat dikembangkan, dilisensikan, hingga dimonetisasi secara berkelanjutan. Ini menjadi langkah penting ketika perusahaan mulai memiliki semakin banyak karakter, cerita, kreator, dan properti intelektual.

DMS+ juga akan memperkuat kolaborasi dengan mitra strategis, baik dari sektor teknologi maupun industri film. Dengan kata lain, pertumbuhan tidak hanya dibangun dari dalam, tetapi juga melalui jaringan partner yang lebih luas.

“Memburu Pemangsa” Jadi Bukti Kolaborasi dengan Sinemaku Pictures

Setelah membahas roadmap, suasana acara kemudian bergerak ke kolaborasi nyata. DMS+ menghadirkan Umay Shahab, Creative Director Sinemaku Pictures, untuk berbagi cerita mengenai kerja sama kedua pihak.

Dalam kolaborasi tersebut, Demian Aditya bertindak sebagai Executive Producer untuk film layar lebar “Memburu Pemangsa”. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 24 September 2026.

Teaser film tersebut bahkan diputar langsung dalam Ruang Tamu DMS+ Vol. 2 di hadapan media dan para mitra. Jadi, kolaborasi yang sebelumnya hanya terdengar sebagai bagian dari roadmap kini mulai terlihat bentuk konkretnya.

Baca juga:

Motorola Indonesia Ikut Masuk dalam Ekosistem DMS+

Kolaborasi berikutnya datang dari dunia teknologi. DMS+ mengundang Miranda Vania Warokka, Head of Marketing Motorola, untuk membicarakan perjalanan kolaborasi Motorola Indonesia dan DMS+ sepanjang 2026.

Salah satu aktivitas terbaru yang dibahas adalah “Penelusuran Take Over by Moto G67 Power 5G” yang berlangsung pada 28 Agustus 2026. Video highlight kegiatan tersebut diputar dalam acara, sekaligus menjadi momen pengumuman pemenang di hadapan media dan partner.

Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana ekosistem entertainment DMS+ juga dapat menjadi ruang bagi brand teknologi untuk menciptakan aktivitas yang lebih dekat dengan komunitas dan audiens.

Aura Rose Luna Star x Sara Wijayanto Resmi Diperkenalkan

Di tengah pembahasan strategi besar perusahaan, Ruang Tamu DMS+ Vol. 2 juga memberikan ruang bagi kolaborasi yang lebih lifestyle.

Sara Wijayanto, salah satu host DMS, bersama Celina, CEO Luna Star, memperkenalkan koleksi terbaru “Aura Rose”. Koleksi tersebut terdiri dari kalung dan gelang yang mengambil inspirasi dari bunga mawar dan dirancang agar dekat dengan keseharian penggunanya.

Menariknya, Ruang Tamu DMS+ Vol. 2 menjadi panggung pertama bagi produk kolaborasi tersebut untuk diperkenalkan kepada media dan partner DMS+. Dengan begitu, networking event ini tidak hanya menjadi tempat berbicara mengenai masa depan perusahaan, tetapi juga menjadi ruang peluncuran produk baru.

2027 Bakal Jadi Tahun Besar untuk DMS+?

Dari seluruh rangkaian acara, satu hal terasa cukup jelas: DMS+ sedang mencoba memperbesar definisi dirinya.

Demian Aditya menegaskan bahwa “Wider, Higher, Bigger” menjadi arah DMS+ menuju 2027, dengan perluasan jangkauan melalui Horrortainment dan Vertical Movie, peningkatan kapasitas lewat Creator Room dan My Movie, serta penguatan fondasi bisnis melalui IP Management.

Dan mungkin inilah alasan mengapa tema “Chill & Build” terasa tepat. Di satu sisi, DMS+ mengajak partner dan media duduk santai seperti berada di ruang tamu. Namun di sisi lain, dari ruangan tersebut mereka sedang membicarakan sesuatu yang jauh lebih besar: bagaimana sebuah ekosistem entertainment dibangun dari konten, kreator, teknologi, IP, dan kolaborasi.

Kalau semua roadmap tersebut berjalan sesuai rencana, 2027 bisa menjadi tahun ketika DMS+ tidak lagi sekadar dikenal sebagai platform yang identik dengan konten horor.

Mereka sedang membangun panggung yang lebih besar.

Dan Urbie’s, pertanyaannya sekarang bukan lagi “DMS+ mau bikin konten apa?”, melainkan: seberapa besar ekosistem entertainment yang sedang mereka siapkan?

[Block type not supported: rawTool]