Hi Urbie’s!, sebuah drama medis biasanya mengajak penonton menyelami perjuangan dokter menyelamatkan pasien. Namun, Doctor X: The Era of the White Mafia justru memantik perdebatan lebih luas setelah salah satu episodenya mengangkat luka sejarah Korea Selatan yang masih sensitif hingga kini.
Drama SBS tersebut menjadi sorotan setelah episode keenam menampilkan kisah seorang pasien yang menderita selama puluhan tahun akibat luka tembak dalam Gerakan Demokratisasi 18 Mei 1980. Penggambaran tragedi tersebut memicu kritik dari sebagian penonton, bahkan berujung pada petisi yang meminta penayangan drama dihentikan.
Di tengah kontroversi yang berkembang, Lee Ok-kyu, kepala produser atau chief producer (CP) dari Studio S, mengunggah pesan singkat di Instagram Story pada 24 Oktober, bertepatan dengan penayangan episode keenam.
Bersama poster Doctor X, ia menuliskan ungkapan, “Saya tidak takut.”
Kalimat singkat itu kemudian ditafsirkan sebagai respons terhadap kritik yang muncul atas keputusan drama tersebut mengangkat peristiwa bersejarah tersebut.
Episode Keenam Doctor X Angkat Luka Sejarah 18 Mei
Kontroversi bermula dari kisah Oh Sang-bum, karakter yang diperankan Ha Sung-kwang. Dalam episode keenam, ia digambarkan sebagai pasien yang telah menanggung penderitaan selama 46 tahun setelah mengalami luka tembak ketika Gerakan Demokratisasi 18 Mei berlangsung pada 1980.

Saat peristiwa tersebut terjadi, pecahan peluru bersarang di kepala Oh Sang-bum. Namun, keterbatasan teknologi medis pada masa itu membuat pecahan tersebut tidak dapat dikeluarkan.
Akibatnya, ia harus menjalani kehidupan dengan pecahan peluru di dalam kepalanya. Rasa sakit dan halusinasi terus menghantuinya selama bertahun-tahun, menjadikan pengalaman traumatis itu sebagai bagian dari kehidupannya.
Tokoh utama Doctor X, Kye Soo-jung yang diperankan Kim Ji-won, kemudian membujuk Oh Sang-bum agar bersedia menjalani operasi.
Melalui kisah tersebut, drama ini tidak hanya menghadirkan persoalan medis, tetapi juga memperlihatkan bagaimana luka akibat kekerasan dapat meninggalkan dampak panjang bagi seseorang.
Meski demikian, penggambaran tragedi sejarah dalam sebuah drama fiksi dapat memunculkan pertanyaan mengenai relevansi cerita, konteks historis, dan cara peristiwa tersebut disampaikan kepada penonton.
Pesan “Saya Tidak Takut” dari Produser Picu Perhatian
Pada 24 Oktober, Lee Ok-kyu mengunggah poster Doctor X melalui Instagram Story dengan menyertakan ungkapan “tanpa rasa takut” atau “Saya tidak takut”.
Unggahan tersebut muncul pada hari episode keenam ditayangkan, ketika penggambaran Gerakan Demokratisasi 18 Mei mulai menjadi bahan perdebatan.
Waktu kemunculan pesan itu membuat sebagian pihak menafsirkannya sebagai tanggapan terhadap mereka yang mengkritik pengangkatan tragedi tersebut dalam drama.
Namun, berdasarkan informasi yang tersedia, Lee tidak menyampaikan penjelasan lebih lanjut mengenai sasaran atau maksud spesifik dari unggahannya. Karena itu, anggapan bahwa pesan tersebut secara langsung ditujukan kepada kelompok tertentu tetap perlu dipahami sebagai interpretasi atas konteks kemunculannya.
Di sisi lain, kontroversi ini memperlihatkan tantangan yang dihadapi karya fiksi ketika memasukkan peristiwa sejarah yang masih memiliki makna sosial dan politik bagi masyarakat.
Sebuah cerita dapat dimaksudkan untuk menggambarkan penderitaan manusia, tetapi pilihan mengenai latar sejarah dan cara penyajiannya tetap bisa memunculkan perbedaan pandangan.
Petisi Penghentian Penayangan Doctor X Muncul di Majelis Nasional
Perdebatan mengenai Doctor X berlanjut ke ranah publik pada 25 Oktober. Sebuah petisi berjudul “Petisi Mengenai Penangguhan Penayangan Drama SBS ‘Doctor X’” diunggah melalui sistem petisi elektronik Majelis Nasional Korea Selatan.
Pemohon mempertanyakan alasan Gerakan Demokratisasi 18 Mei dimasukkan ke dalam cerita drama tersebut. Mereka menilai bahwa unsur sejarah itu tidak memiliki hubungan yang jelas dengan alur utama.
Dalam petisi tersebut, pemohon menyatakan bahwa kemunculan konten terkait 18 Mei yang dianggap tidak berkaitan dengan cerita membuat sebagian penonton merasa keberatan.
Baca juga:
- Cha Eun-woo Masih Dihantui Rasa Bersalah Atas Meninggalnya Moonbin: "Hiduplah dengan Baik, dan Mari Kita Bertemu Lagi"
- Drama Korea Queen of Tears: Park Sung Hoon Minta Maaf Bikin Penonton Emosi!
Mereka juga mengakui bahwa peristiwa tersebut merupakan bagian dari sejarah menyakitkan yang diakui secara luas. Namun, pemohon menilai penggunaan peristiwa itu dalam drama menjadi persoalan karena detailnya masih dapat memicu kontroversi politik.
Petisi tersebut menunjukkan bahwa kritik yang muncul bukan semata-mata mengenai kualitas cerita medis, melainkan juga tentang keputusan kreatif dalam menggunakan tragedi sejarah sebagai bagian dari narasi fiksi.
Meski petisi telah diajukan, informasi yang tersedia belum menunjukkan adanya keputusan resmi untuk menghentikan penayangan Doctor X. Dengan demikian, keberadaan petisi tidak dapat diartikan sebagai tanda bahwa drama tersebut pasti akan dihentikan.
Rating Doctor X Justru Tembus 19,5 Persen
Di tengah perdebatan yang berkembang, Doctor X tetap mencatatkan angka penonton yang tinggi.
Menurut Nielsen Korea, episode keenam drama tersebut meraih rating pemirsa nasional sebesar 19,5 persen. Angka ini menjadi salah satu pencapaian tertinggi di antara drama yang ditayangkan sepanjang tahun tersebut.
Berdasarkan data yang dilaporkan, rating Doctor X menempati posisi kedua di antara drama tahun ini, setelah drama SBS Chief Kim.
Pencapaian tersebut menjadi kontras dengan kontroversi yang sedang berlangsung. Di satu sisi, drama ini berhasil menarik perhatian penonton dalam jumlah besar. Di sisi lain, penggambaran peristiwa sejarah yang sensitif memicu kritik dan tuntutan dari sebagian masyarakat.
Namun, tingginya rating tidak serta-merta membuktikan bahwa seluruh penonton mendukung penggambaran sejarah tersebut. Begitu pula, petisi yang diajukan tidak otomatis mewakili pandangan semua pemirsa.
Ketika Drama Medis Bertemu Sejarah yang Sensitif
Kontroversi Doctor X memperlihatkan bagaimana sebuah drama televisi dapat berkembang menjadi perbincangan yang melampaui layar kaca. Cerita tentang pasien dan operasi medis berubah menjadi diskusi mengenai batas kebebasan kreatif, relevansi sejarah, dan tanggung jawab dalam menggambarkan tragedi masa lalu.
Bagi sebagian penonton, kisah Oh Sang-bum mungkin menjadi cara untuk melihat dampak panjang kekerasan terhadap kehidupan seseorang. Bagi pihak yang mengkritik, persoalan utamanya terletak pada alasan dan cara peristiwa 18 Mei dimasukkan ke dalam alur cerita.
Perbedaan perspektif tersebut menjadi inti perdebatan yang kini mengiringi Doctor X.
Urbie’s!, drama fiksi memang memiliki ruang untuk mengeksplorasi berbagai tema, termasuk sejarah. Namun, ketika cerita menyentuh peristiwa traumatis yang masih memiliki arti penting bagi masyarakat, konteks dan cara penggambarannya bisa sama pentingnya dengan pesan yang ingin disampaikan.
Kini, perhatian publik tertuju pada bagaimana kontroversi ini akan berkembang, termasuk apakah pihak produksi akan memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai keputusan kreatif mereka. Sementara itu, unggahan singkat “Saya tidak takut” dari sang produser telah menjadi bagian dari perbincangan yang membuat Doctor X semakin disorot.




