Hi Urbie’s! Bayangkan punya akses ke berbagai fasilitas finansial, tetapi ketika diminta membuka aplikasi mobile banking dan melakukan transaksi sendiri, jawabannya justru, “Saya tidak bisa.” Hal inilah yang membuat Yoo Jae Suk dan Haha terkejut ketika G-Dragon mengungkapkan bahwa dirinya tidak dapat menggunakan mobile banking dalam sebuah episode variety web Pinggyego.

Pengakuan tersebut menjadi semakin menarik karena G-Dragon bukanlah orang yang asing dengan urusan finansial. Sebagai salah satu figur besar di industri hiburan Korea Selatan, ia memiliki tim yang membantu mengelola berbagai aspek profesionalnya, termasuk seorang manajer yang secara khusus menangani urusan keuangannya.

G-Dragon Punya Manajer untuk Mengurus Keuangan

Dalam percakapan bersama Yoo Jae Suk dan Haha, G-Dragon menjelaskan bahwa dirinya sebenarnya bisa melakukan transaksi secara langsung di bank. Ia bahkan dapat datang ke bank dan berbicara dengan staf, tetapi aktivitas perbankan melalui ponsel bukan sesuatu yang ia kuasai.

“Saya bisa pergi ke bank dan berbicara dengan staf secara langsung. Tetapi saya tidak bisa melakukan apapun melalui ponsel,” jelas G-Dragon.

Pernyataan tersebut sontak membuat Yoo Jae Suk dan Haha terkejut. Bagi kebanyakan orang yang hidup di era digital, mobile banking sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari, mulai dari mengecek saldo, membayar tagihan, transfer uang, hingga melakukan berbagai transaksi hanya dalam hitungan detik.

Namun, di balik cerita yang terdengar lucu tersebut, ada satu topik yang sebenarnya cukup serius: literasi keuangan tidak selalu sama dengan kemampuan menggunakan teknologi finansial.

Melek Finansial Bukan Sekadar Bisa Pakai Mobile Banking

Urbie’s mungkin langsung berpikir, “Kok bisa tidak bisa mobile banking?” Apalagi bagi generasi yang hampir seluruh aktivitasnya bergantung pada smartphone, tidak mampu menggunakan aplikasi bank sering kali dianggap identik dengan ketinggalan zaman.

Padahal, kemampuan menggunakan mobile banking hanyalah salah satu bagian dari literasi digital finansial. Literasi keuangan memiliki cakupan yang jauh lebih luas, termasuk memahami pemasukan, pengeluaran, tabungan, investasi, utang, risiko finansial, serta bagaimana mengambil keputusan yang tepat terhadap uang.

Dalam kasus G-Dragon, memiliki seseorang yang membantu mengurus keuangan menunjukkan bahwa mendelegasikan pekerjaan finansial juga bisa menjadi bagian dari pengelolaan keuangan, terutama bagi seseorang dengan aktivitas dan aset yang kompleks.

Tetapi ada catatan penting: mendelegasikan bukan berarti menyerahkan seluruh kendali.

Punya Financial Manager Bukan Berarti Boleh Lepas Tangan

Memiliki manajer atau profesional yang membantu mengelola keuangan memang dapat membuat berbagai urusan menjadi lebih praktis. Namun, seseorang tetap perlu memahami kondisi keuangannya sendiri agar tidak sepenuhnya bergantung kepada orang lain.

Urbie’s tidak harus menjadi ahli investasi atau hafal seluruh produk perbankan. Setidaknya, penting untuk mengetahui berapa pemasukan yang diterima, ke mana uang pergi, berapa jumlah tabungan, apa saja kewajiban finansial, serta aset apa yang dimiliki.

Baca juga:

Hal tersebut semakin relevan ketika jumlah uang yang dikelola semakin besar. Semakin kompleks kondisi finansial seseorang, semakin penting pula sistem pengawasan dan transparansi yang digunakan.

Jadi, kalau G-Dragon memiliki manajer untuk mengurus sebagian urusan finansialnya, pelajaran yang bisa diambil bukan “tidak apa-apa tidak mengerti keuangan.” Justru sebaliknya, semakin banyak uang yang dimiliki, semakin penting memahami bagaimana uang tersebut dikelola.

Jangan Sampai Punya Aplikasi Bank, Tapi Tak Tahu Kondisi Keuangan

Cerita G-Dragon juga bisa menjadi refleksi bagi Urbie’s yang justru sangat mahir menggunakan mobile banking. Bisa transfer dalam hitungan detik bukan otomatis berarti sudah memiliki literasi keuangan yang baik.

Kita bisa saja punya lima aplikasi bank, rutin menggunakan QRIS, berlangganan berbagai layanan digital, dan melakukan investasi lewat smartphone. Namun, kalau setiap akhir bulan tidak tahu uang habis ke mana, kemampuan digital tersebut belum tentu diikuti kemampuan mengelola keuangan.

Literasi keuangan seharusnya dimulai dari pertanyaan sederhana: berapa uang yang saya punya, berapa yang saya butuhkan, dan untuk apa uang tersebut digunakan?

Dari sana, kebiasaan finansial yang lebih sehat bisa dibangun. Mulai dari membuat anggaran sederhana, memisahkan kebutuhan dan keinginan, menyiapkan dana darurat, sampai memahami risiko sebelum membeli produk investasi.

Teknologi Finansial Harus Membantu, Bukan Mengendalikan

Mobile banking diciptakan untuk membuat aktivitas finansial lebih mudah. Namun, kemudahan tersebut juga bisa menjadi jebakan ketika transaksi menjadi terlalu mudah dilakukan tanpa pertimbangan.

Satu kali klik dapat mengirim uang, membayar sesuatu, atau melakukan pembelian. Karena itu, literasi finansial justru semakin penting di tengah perkembangan teknologi.

Pengakuan G-Dragon mungkin terdengar seperti momen ringan dalam Pinggyego. Tetapi dari sudut pandang literasi keuangan, ada pelajaran menarik di baliknya: yang paling penting bukan seberapa canggih seseorang menggunakan aplikasi finansial, melainkan seberapa paham ia terhadap uangnya sendiri.

Jadi, Urbie’s, kalau hari ini kamu sudah jago mobile banking, jangan berhenti di sana. Pastikan kamu juga jago membaca kondisi finansialmu sendiri, karena aplikasi mungkin bisa menunjukkan saldo, tetapi keputusan tentang masa depan uang tetap berada di tanganmu.

[Block type not supported: rawTool]