Hi Urbie’s! Ada momen ketika seorang musisi datang ke kota baru bukan cuma untuk memperkenalkan musiknya, tetapi justru menunjukkan bahwa ia sudah punya koneksi dengan kultur musik di tempat tersebut. Momen itu terjadi ketika Shye menjalani panggung perdananya di Jakarta pada 13 September dan tiba-tiba membawakan lagu “Dan” milik Sheila on 7.
Kejutan tersebut terasa semakin menarik karena Shye tidak sekadar menyanyikan ulang lagu yang sudah sangat familiar di telinga pendengar Indonesia. Penyanyi asal Singapura ini membawa “Dan” ke wilayah musik yang lebih dreamy melalui aransemen shoegaze dan dream pop yang menjadi bagian dari karakter musikalnya.

Pilihan lagu tersebut sontak menjadi salah satu momen yang mencuri perhatian dalam penampilan perdananya di Jakarta. Bagi penonton lokal, “Dan” bukan sekadar lagu lawas, melainkan bagian dari memori kolektif musik Indonesia yang sudah melekat selama bertahun-tahun.
Shye Mengubah “Dan” Jadi Lebih Dreamy
“Dan” dikenal sebagai salah satu lagu yang identik dengan Sheila on 7 dan era keemasan musik pop-rock Indonesia. Namun di tangan Shye, lagu tersebut mendapatkan pendekatan berbeda dengan atmosfer yang lebih luas, lembut, dan sedikit berkabut.
Alih-alih mempertahankan energi pop-rock dari versi yang dikenal banyak pendengar Indonesia, Shye membungkus “Dan” menggunakan elemen shoegaze dan dream pop. Karakter tersebut membuat lagu terasa seperti bergerak dari sebuah kenangan yang familiar menuju lanskap suara yang lebih intim dan atmosferik.
Pendekatan ini juga terasa cocok dengan identitas musik Shye yang kerap bermain di area indie pop dengan sentuhan elektronik, dreamy, dan eksperimental. Hasilnya bukan sekadar cover, melainkan reinterpretasi yang memberikan warna baru terhadap lagu yang sudah begitu dikenal.
Menariknya, pilihan “Dan” juga memperlihatkan bagaimana musik Indonesia dapat menjadi titik temu bagi musisi regional. Ketika lagu yang sangat lekat dengan generasi pendengar Indonesia dibawakan oleh musisi Singapura, batas antara skena musik kedua negara terasa semakin tipis.
Panggung Perdana yang Langsung Punya Cerita
Tampil perdana di Jakarta tentu sudah menjadi momen penting bagi Shye, tetapi memasukkan lagu lokal ke dalam setlist membuat kedatangannya terasa lebih personal. Ia tidak datang hanya sebagai musisi asing yang memainkan katalog lagunya sendiri, tetapi juga memberikan gestur kepada audiens Jakarta melalui sebuah lagu yang punya tempat khusus dalam sejarah musik pop Indonesia.
Keputusan tersebut menjadi semacam jembatan antara Shye dan pendengarnya di Jakarta. Tanpa perlu membuat kolaborasi besar atau gimmick berlebihan, sebuah lagu yang sudah dikenal publik justru berhasil menciptakan koneksi yang terasa lebih dekat.
Baca juga:
- Nassar Tetap Manggung Meski Penerbangan ke Lampung Batal akibat Abu Vulkanik
- The Sacred Riana Tampil Makin Mengerikan dalam Baluta
Di sisi lain, aransemen shoegaze/dream pop membuat “Dan” terdengar seperti memiliki kehidupan kedua. Lagu yang selama ini mungkin diasosiasikan dengan gitar pop-rock dan nostalgia era 2000-an mendapatkan atmosfer baru yang lebih cocok dengan telinga pendengar indie masa kini.
Di sinilah menariknya sebuah cover: bukan tentang menggantikan versi original, tetapi memperlihatkan bagaimana sebuah lagu bisa berubah ketika melewati perspektif musisi lain.
Shye dan Cara Baru Membaca Musik Indonesia
Cover “Dan” juga membuka pembicaraan yang lebih luas tentang bagaimana musik Indonesia semakin mudah menjadi referensi bagi musisi di kawasan Asia Tenggara. Di tengah internet yang membuat katalog musik lintas negara semakin mudah ditemukan, lagu-lagu Indonesia tidak lagi berhenti di pasar domestik.
Bagi Shye, memilih “Dan” untuk panggung pertamanya di Jakarta menunjukkan bahwa lagu lokal dapat menjadi bagian dari bahasa musik yang lebih universal. Ketika melodi yang familiar dipadukan dengan shoegaze dan dream pop, pendengar Indonesia bisa menemukan nostalgia yang sama dalam bentuk yang terasa baru.
Buat Urbie’s yang tumbuh dengan lagu-lagu Sheila on 7, pengalaman tersebut mungkin terasa seperti mendengar lagu lama dari playlist masa sekolah, tetapi tiba-tiba diputar melalui filter dunia yang berbeda. Familiar, tetapi asing; nostalgia, tetapi tetap terasa modern.
Dan justru kombinasi itulah yang membuat kejutan Shye di Jakarta terasa memorable.
Bukan Sekadar Cover, Tapi Bentuk Apresiasi
Ada perbedaan antara membawakan lagu populer dan benar-benar memberikan interpretasi baru terhadapnya. Shye memilih opsi kedua dengan membawa “Dan” masuk ke karakter musikalnya sendiri tanpa menghilangkan identitas dasar lagu tersebut.
Momen ini juga memperlihatkan bahwa cover dapat menjadi bentuk apresiasi yang lebih menarik ketika seorang musisi berani mengubah perspektif terhadap lagu yang dibawakan. “Dan” tidak diperlakukan sebagai lagu nostalgia semata, tetapi sebagai materi yang masih bisa dieksplorasi dan diterjemahkan ke dalam bahasa musik generasi berbeda.
Panggung perdana Shye di Jakarta akhirnya meninggalkan lebih dari sekadar kesan tentang seorang penyanyi Singapura yang datang tampil di Indonesia. Ada sebuah kejutan kecil yang mempertemukan dua skena musik, dua generasi pendengar, dan satu lagu yang sudah lama hidup dalam ingatan publik.
Buat Shye, “Dan” menjadi cara yang cukup sederhana tetapi efektif untuk mengatakan bahwa kedatangannya ke Jakarta bukan sekadar kunjungan singkat. Sementara bagi penonton, versi shoegaze/dream pop tersebut menjadi pengingat bahwa lagu lama tidak pernah benar-benar selesai ketika masih bisa ditafsirkan ulang.







