Hi Urbie’s! Mendapatkan peran utama dalam film besar tentu bukan perkara mudah, apalagi jika harus bersaing dengan sejumlah aktor berpengalaman. Pengalaman inilah yang dirasakan Tom Rhys Harries saat mengikuti proses audisi untuk film Clayface, proyek DC Universe yang mengangkat kisah salah satu karakter ikonik dari dunia Batman.

Aktor asal Cardiff, Wales, tersebut mengungkapkan bahwa proses audisi yang dijalaninya membutuhkan persiapan intensif, konsentrasi, dan kemampuan untuk tetap fokus tanpa memikirkan pesaingnya. Dalam wawancaranya dengan The Hollywood Reporter pada 29 Oktober 2026, Harries menceritakan bagaimana ia melewati tahapan seleksi yang cukup menantang sebelum akhirnya mendapatkan peran utama.

Tom Rhys Harries Tak Mau Tahu Siapa Pesaingnya

Saat mengikuti audisi Clayface, Harries harus bersaing dengan empat aktor lainnya untuk memerankan karakter utama dalam film thriller horor produksi DC Studios tersebut.

Alih-alih mencari tahu siapa saja kandidat yang ikut bersaing, Harries justru meminta agennya untuk tidak memberikan informasi mengenai aktor lain yang dipertimbangkan oleh studio. Baginya, mengetahui nama pesaing hanya akan mengganggu konsentrasi selama proses seleksi.

“Saya benar-benar memotong pembicaraan agen saya dan berkata, 'Jangan beri tahu saya siapa lagi yang menjadi kandidat,'” ungkap Harries.

Setelah menghabiskan waktu sekitar satu minggu untuk mempersiapkan diri, ia menjalani screen test selama tiga jam di hadapan pihak Warner Bros. dan sutradara James Watkins, yang sebelumnya menggarap film Speak No Evil.

Urbanvibes Ads banner Pullman Central Park Jakarta Hotel

Harries mengaku merasa kelelahan setelah menjalani tes tersebut, tetapi ia juga merasa puas dengan penampilannya. Setelah proses itu selesai, barulah ia meminta timnya memberi tahu siapa saja aktor lain yang ikut dipertimbangkan.

Namun, perjuangannya belum berakhir. Sehari setelah screen test pertama, Harries menerima kabar bahwa studio ingin kembali mengujinya melalui audisi kedua.

Baca juga:

Perjalanan Panjang Menuju Peran Matt Hagen

Sebelum mendapatkan peran dalam Clayface, Harries telah menghabiskan sekitar satu dekade membangun karier di dunia akting. Meski belum dikenal luas sebagai pemeran utama film studio berskala besar, aktor berusia 36 tahun tersebut telah memiliki pengalaman di panggung teater, film, dan serial televisi.

Ia tumbuh di Cardiff dalam keluarga dengan orang tua yang berprofesi sebagai guru, kemudian menempuh pendidikan di Royal Welsh College of Music and Drama sebelum pindah ke London untuk mengejar karier profesional.

Perjalanan aktingnya turut diwarnai penampilan di panggung West End melalui produksi Mojo karya Jez Butterworth pada 2014. Ia juga terlibat dalam sejumlah proyek layar, termasuk The Gentlemen dan Doctor Who.

Bagi Harries, perjalanan karier seorang aktor tidak selalu ditentukan oleh satu proyek besar. Ia juga menilai bahwa pekerjaan yang memberikan popularitas belum tentu menjadi pengalaman yang paling mendorong perkembangan kreatif seorang aktor.

Pemikiran tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya hingga akhirnya mendapatkan kesempatan memimpin sebuah produksi film besar.

Menghadapi Tantangan sebagai Pemeran Utama Clayface

Harries menyadari bahwa dirinya memiliki tantangan tersendiri dibandingkan kandidat lain. Beberapa aktor yang ikut dipertimbangkan telah memiliki pengalaman menjadi pemeran utama dalam film studio dan menjalani kegiatan promosi berskala besar.

Sementara itu, Clayface menjadi kesempatan penting baginya untuk membuktikan kemampuan dalam memimpin produksi dengan skala yang lebih besar.

Setelah menjalani screen test kedua, Harries akhirnya mendapat kabar bahwa ia terpilih untuk memerankan Matt Hagen, karakter yang dikenal dalam semesta DC sebagai Clayface.

Ia kemudian menjalani berbagai persiapan sebelum syuting, termasuk sesi bersama pelatih dialek dan pelatih kebugaran. Persiapan tersebut menunjukkan bahwa peran ini tidak hanya menuntut kemampuan akting, tetapi juga kesiapan fisik dan pendalaman karakter.

Menariknya, Harries mengaku bahwa berada di tengah produksi besar justru memberinya dukungan dari banyak orang. Menurutnya, keterlibatan banyak profesional di balik layar membantu pemeran utama menghadapi tanggung jawab yang lebih besar.

Clayface Jadi Babak Baru dalam Karier Tom Rhys Harries

Terpilih sebagai pemeran utama Clayface berpotensi membuka kesempatan baru bagi Harries di industri film. Meski demikian, ia tidak ingin terlalu terpaku pada perubahan popularitas setelah membintangi proyek tersebut.

Harries lebih memilih untuk terlibat dalam proyek-proyek yang dikerjakan oleh kreator yang benar-benar ia dukung. Baginya, kesempatan untuk terus berkembang secara kreatif tetap menjadi hal penting dalam perjalanan kariernya.

Ia juga merasakan sisi emosional dari keberhasilan film ini, terutama ketika mendapat dukungan dari orang-orang yang telah mengenalnya sejak lama, termasuk para mantan gurunya.

Kisah perjalanan Harries memperlihatkan bahwa mendapatkan peran besar bukan hanya tentang hasil akhir audisi, tetapi juga mengenai proses persiapan, ketekunan, dan kemampuan menjaga fokus di tengah persaingan.

Buat Urbie’s yang penasaran dengan perjalanan di balik layar Clayface, pengalaman Tom Rhys Harries menjadi gambaran bagaimana sebuah kesempatan besar dapat datang setelah proses panjang yang penuh tantangan.