Hi Urbie’s! Ketika membicarakan prestasi anak, sebagian orang tua mungkin masih otomatis membayangkan nilai rapor tinggi, ranking di kelas, atau kemampuan berhitung yang bikin guru ikut bangga. Padahal, dunia anak jauh lebih luas dari sekadar angka di lembar hasil ujian.
Ada anak yang begitu cepat memahami pelajaran, tetapi ada pula yang tangannya seperti tidak pernah kehabisan ide ketika menggambar. Ada yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam memainkan alat musik, aktif bergerak di lapangan, atau bahkan punya kreativitas digital yang tidak kalah keren dari orang dewasa.
Masalahnya, potensi seperti ini terkadang justru luput karena ukuran “pintar” masih sering dibuat terlalu sempit. Anak akhirnya merasa harus mengikuti standar tertentu, sementara orang tua belum tentu menyadari bahwa setiap anak sebenarnya punya jalur keunggulannya masing-masing.
Pintar Tidak Selalu Berarti Nilai Rapor Tinggi
Dokter spesialis anak dr. Shyrien Amalina, Sp.A, M.Sc, yang berpraktik di RS Anugerah Pekalongan, menekankan bahwa kemampuan anak tidak seharusnya diukur menggunakan satu standar yang sama. Menurutnya, tidak semua anak harus unggul dalam matematika, fisika, atau bidang akademis tertentu untuk disebut memiliki kemampuan luar biasa.
“Tidak semua anak harus jadi dokter, tidak semua anak harus jago matematika, tidak semua anak harus jago fisika. Karena anak itu yang kita bilang kepintaran itu macem-macem,” ujar dr. Shyrien.
Ia mencontohkan anak yang memiliki kemampuan kuat dalam menggambar maupun musik. Bahkan, menurutnya, anak dengan disleksia dapat memiliki keunggulan tertentu yang seharusnya tidak langsung dinilai sebagai kekurangan hanya karena tidak sesuai dengan ukuran akademis konvensional.

“Jadi IQ tidak sebagai patokan,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi penting karena masa tumbuh kembang anak bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang paling tinggi nilainya. Yang lebih penting adalah menemukan bidang yang membuat anak merasa tertarik, percaya diri, sekaligus punya ruang untuk terus berkembang.
Orang Tua Jadi “Detektif” Pertama Potensi Anak
Lalu, bagaimana sebenarnya orang tua bisa mengetahui potensi anak? Jawabannya mungkin tidak serumit yang dibayangkan karena petunjuknya sering muncul dari aktivitas sehari-hari.
Perhatikan apa yang membuat anak antusias, dengarkan cerita yang berulang kali mereka sampaikan, dan lihat aktivitas apa yang membuat mereka rela menghabiskan waktu tanpa merasa sedang dipaksa belajar. Dari kebiasaan sederhana tersebut, orang tua bisa mulai menemukan pola minat dan kemampuan anak.
Memberikan kesempatan mencoba hal baru juga tidak kalah penting. Anak mungkin awalnya mencoba menggambar, kemudian berpindah ke musik, olahraga, memasak, atau aktivitas lainnya sebelum akhirnya menemukan sesuatu yang benar-benar membuatnya merasa nyaman.
Dalam proses tersebut, orang tua tidak hanya bertugas memberikan fasilitas. Ketika anak menemui kesulitan, kehadiran orang tua untuk mendampingi tanpa buru-buru membandingkan dengan anak lain justru dapat menjadi bagian penting dari proses tersebut.
“Itu semua siapa yang tahu? orang tuanya kan? Orang tuanya yang bisa nilai. Kalau orang tuanya tidak menilai, tidak mengevaluasi, dia tidak akan pernah tahu harus mendukung anaknya ke mana. Jadi sangat penting (dukungan orang tua terhadap anak),” kata dr. Shyrien.
Potensi Anak Juga Butuh Dukungan Nutrisi
Menemukan potensi anak tentu bukan hanya perkara memberi ruang untuk mencoba. Perkembangan kemampuan anak juga berjalan beriringan dengan kebutuhan nutrisi yang mendukung proses tumbuh kembangnya.
Dr. Shyrien menjelaskan bahwa proses tersebut berkaitan dengan sistem saraf yang saling berkomunikasi dan mendukung. “Tapi itu semua butuh nerve (saraf) yang saling berkomunikasi, persarafan yang saling berkomunikasi (dan) saling mendukung. Nah itu yang kita penuhi dari nutrisi, memori kognisi yang baik, nah itu yang kita penuhi dari AHA/DHA,” jelasnya.
Baca juga:
- Digital Detox, Apa yang Terjadi Jika Kamu Tidak Main Media Sosial Selama 7 Hari?
- 41,9% Orang Dewasa Alami Gigi Berlubang, Kebiasaan Merawat Gigi Jadi Sorotan
Ia menambahkan bahwa AHA/DHA mendukung agar kemampuan kognitif anak dapat mencapai titik optimal yang bisa dicapai. Karena itu, perhatian terhadap asupan nutrisi menjadi salah satu bagian yang dapat berjalan beriringan dengan pendampingan orang tua dalam mengenali minat dan kemampuan anak.
Untuk anak usia 7-12 tahun Champion merupakan minuman cokelat pertama di Indonesia yang secara khusus diperkaya DHA
Kehadiran nutrisi tersebut kemudian ditempatkan sebagai bagian dari rutinitas anak usia sekolah yang tetap membutuhkan energi untuk belajar, bermain, berkreasi, dan mengeksplorasi berbagai hal di sekitarnya.
Bukan Cuma Mencari Juara, Tapi Menemukan Keunggulan Anak
Haruman Rustandi, Marketing Director Coffee & Health Food PT Mayora Indah Tbk, “Anak tidak harus menjadi juara dengan cara yang sama. Yang paling berarti adalah ketika orang tua mengenali apa yang disukai dan dikuasai anak, lalu hadir untuk mendukung prosesnya. Kami berharap Champion dapat menjadi salah satu pilihan bagi keluarga dalam memperhatikan asupan nutrisi anak, sejalan dengan dukungan yang mereka berikan setiap hari,”
Semangat tersebut kemudian diterjemahkan melalui program Anak Juara Champion atau AJC. Program ini hadir sebagai panggung apresiasi yang memberikan kesempatan kepada anak-anak Indonesia untuk menunjukkan kemampuan mereka di berbagai bidang.
Tidak hanya akademis, ruang apresiasi tersebut mencakup seni, olahraga, hingga kreativitas digital. Dengan begitu, predikat “juara” tidak harus selalu melekat pada piala dari kompetisi matematika atau ranking pertama di sekolah.
Justru, konsep tersebut membawa pesan bahwa setiap anak dapat memiliki bentuk keunggulan yang berbeda. Ada yang bersinar ketika berada di atas panggung, ada yang menemukan dunianya melalui olahraga, sementara yang lain mungkin justru menunjukkan kreativitas melalui teknologi dan dunia digital.
Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap masa depan dan pendidikan sang buah hati, anak-anak terpilih dalam program ini juga akan dianugerahi Beasiswa Anak Juara Champion.
Saatnya Berhenti Membandingkan Anak dengan Anak Lain
Pada akhirnya, menemukan potensi anak membutuhkan lebih banyak perhatian daripada sekadar melihat angka. Orang tua perlu hadir sebagai sosok yang mengamati, mendengarkan, mengevaluasi, sekaligus memberikan kesempatan kepada anak untuk mengenal dirinya sendiri.
Sebab, anak yang hari ini tidak unggul dalam satu bidang belum tentu tidak memiliki kemampuan luar biasa. Bisa jadi, mereka hanya belum menemukan ruang yang tepat untuk menunjukkan apa yang sebenarnya mereka kuasai.
Karena itu, tugas orang tua bukan menciptakan anak yang seragam dengan standar keberhasilan tertentu. Tugas yang jauh lebih penting adalah membantu anak menemukan bidang yang membuatnya mampu berkata, “Aku ternyata bisa.”
Melalui komitmen dan pesan “Juara Enaknya, Juara Nutrisinya!”, Champion hadir sebagai mitra setia ibu dalam mendukung nutrisi anak usia sekolah. Anak dapat menikmati minuman cokelat favoritnya, sementara ibu merasa tenang karena kebutuhan nutrisi sang buah hati sudah terpenuhi dengan baik.
Urbie’s, kalau setiap anak punya panggungnya sendiri, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan “Anakku ranking berapa?”, tetapi “Anakku paling bersinar ketika melakukan apa?”



