Hi, Urbie’s! Pernah merasa suasana hati sedikit membaik setelah berjalan-jalan di pusat perbelanjaan atau memilih barang yang sudah lama diincar? Ternyata, pengalaman tersebut memiliki penjelasan psikologis. Sebuah studi eksperimental yang dilakukan Rick, Pereira, dan Burson pada 2014 menemukan bahwa proses mengambil keputusan saat berbelanja dapat membantu mengurangiresidual sadness, yaitu rasa sedih yang masih tersisa setelah seseorang mengalami situasi emosional tertentu.

Menariknya, efek tersebut tidak selalu berkaitan dengan banyaknya barang yang dibeli atau jumlah uang yang dikeluarkan. Salah satu penjelasannya justru terletak pada proses memilih dan mengambil keputusan yang dapat membantu seseorang mendapatkan kembali rasa kendali atas dirinya.

Mengapa Proses Belanja Bisa Membantu Mengurangi Rasa Sedih?

Dalam kehidupan sehari-hari, rasa sedih terkadang muncul setelah seseorang menghadapi kekecewaan, mengalami kegagalan, atau berada dalam situasi yang sulit dikendalikan. Ketika perasaan tersebut masih tertinggal, melakukan aktivitas sederhana yang memungkinkan seseorang menentukan pilihannya sendiri bisa memberikan pengalaman emosional yang berbeda.

Dalam konteks berbelanja, seseorang memiliki kesempatan untuk mempertimbangkan berbagai pilihan, membandingkan produk, menentukan kebutuhan, hingga memutuskan barang yang paling sesuai dengan preferensinya. Rangkaian proses tersebut dapat memberikan kembali perasaan bahwa dirinya memiliki kendali atas keputusan yang diambil.

Konsep ini dikenal sebagaipersonal controlatau rasa kendali pribadi. Perasaan tersebut menjadi salah satu penjelasan mengapa aktivitas mengambil keputusan dapat membantu mengurangi kesedihan yang masih tersisa.

Dengan kata lain, Urbie’s, pengalaman berbelanja tidak selalu tentang mendapatkan barang baru. Dalam kondisi tertentu, kesempatan untuk menentukan pilihan sendiri juga bisa menjadi bagian dari pengalaman yang terasa menyenangkan.

Urbanvibes article banner

Baca Juga:

Apakah Belanja Selalu Bisa Membuat Bahagia?

Meski demikian, bukan berarti semakin sering atau semakin banyak berbelanja, seseorang pasti akan merasa lebih bahagia. Efek emosional dari aktivitas ini dapat berbeda-beda, bergantung pada kondisi psikologis, kebutuhan, dan konteks yang sedang dihadapi.

Bagi sebagian orang, proses memilih barang mungkin terasa menyenangkan karena memberikan ruang untuk menentukan preferensi pribadi. Namun, bagi orang lain, berbelanja justru dapat memunculkan tekanan, terutama ketika berkaitan dengan pengeluaran yang tidak direncanakan atau keputusan yang didorong oleh emosi sesaat.

Karena itu, penting untuk membedakan antara perasaan lega setelah mengambil keputusan dan kebiasaan menggunakan belanja sebagai satu-satunya cara untuk menghadapi emosi negatif.

Jika ingin menjadikan aktivitas berbelanja sebagai bagian dari kegiatan yang menyenangkan, Urbie’s bisa memulainya dengan menentukan kebutuhan, menetapkan anggaran, dan memberikan waktu untuk mempertimbangkan setiap keputusan. Dengan begitu, pengalaman berbelanja tetap terasa menyenangkan tanpa harus mengorbankan kondisi keuangan.

Menemukan Cara yang Sehat untuk Memperbaiki Suasana Hati

Studi mengenai hubungan antara keputusan berbelanja dan rasa sedih memberikan perspektif bahwa pengalaman emosional seseorang dapat dipengaruhi oleh hal-hal sederhana, termasuk kesempatan untuk membuat pilihan sendiri.

Namun, belanja bukan satu-satunya cara untuk membantu memperbaiki suasana hati. Berbincang dengan orang terdekat, berjalan santai, menikmati hobi, atau mengambil waktu untuk beristirahat juga dapat menjadi pilihan untuk menghadapi perasaan yang kurang menyenangkan.

Pada akhirnya, Urbie’s, memahami apa yang sedang dirasakan menjadi langkah penting sebelum mengambil keputusan. Berbelanja boleh menjadi aktivitas yang menyenangkan, tetapi kebahagiaan tidak harus selalu datang dari barang yang berhasil dibawa pulang.

Yang terpenting bukan seberapa banyak barang yang dibeli, melainkan bagaimana seseorang membuat keputusan secara sadar dan menemukan cara yang sesuai untuk menjaga kesejahteraan emosionalnya.