Hi Urbie's! Pernah nggak sih, lagi menyiapkan susu untuk si kecil, tiba-tiba kamu menemukan bintik-bintik kecil berwarna cokelat kehitaman di dalam bubuknya? Seketika muncul banyak pertanyaan di kepala. Apakah susunya kotor? Jangan-jangan berjamur? Atau malah sudah nggak layak dikonsumsi?

Wajar banget kalau orang tua langsung merasa khawatir. Apalagi, urusan makanan dan minuman anak memang nggak bisa dianggap sepele. Sedikit perubahan warna atau tekstur saja bisa bikin kita berkali-kali memeriksa tanggal kedaluwarsa dan kondisi kemasan.

Tapi, sebelum buru-buru membuang satu kaleng susu, ada baiknya Urbie's memahami dulu apa yang sebenarnya terjadi. Sebab, bintik cokelat kehitaman pada susu bubuk ternyata bisa berkaitan dengan proses pengolahan yang dikenal sebagai scorched particles.

Fenomena ini dijelaskan oleh Prof. Dr.-Ing. Azis Boing Sitanggang, STP, MSc, akademisi bidang teknologi pangan dari IPB University. Yuk, kenali lebih jauh supaya kita nggak langsung panik, tetapi tetap tahu kapan harus waspada!

Bukan Kotoran, Bintik Hitam Ini Disebut Scorched Particles

Dalam industri pangan, bintik cokelat kehitaman yang ditemukan pada susu bubuk dapat dikenal sebagai scorched particles.

Menurut Prof. Azis, susu bubuk diproduksi melalui teknologi pengeringan semprot atau spray drying. Proses ini mengubah susu cair menjadi bubuk dengan bantuan udara panas dalam waktu singkat.

Urbanvibes Ads banner Pullman Central Park Jakarta Hotel

Gampangnya begini, Urbie's. Susu cair disemprotkan menjadi partikel-partikel kecil, kemudian dikeringkan menggunakan udara panas. Proses tersebut dilakukan secara terkontrol agar air dalam susu menguap dan menghasilkan produk berbentuk bubuk.

"Melalui teknologi spray drying, susu cair diubah menjadi bubuk dengan memanfaatkan udara panas dalam waktu singkat. Menariknya, penguapan air membantu menjaga suhu partikel susu tetap lebih rendah dibandingkan suhu udara pengering, sehingga paparan panas terhadap komponen gizinya relatif ringan," jelas Prof. Azis.

Lalu, dari mana bintik hitamnya berasal?

Dalam proses pengeringan, sebagian kecil partikel susu bisa menempel pada dinding mesin pengering. Partikel yang tertinggal tersebut dapat mengalami paparan panas lebih lama dibandingkan partikel lainnya.

Akibatnya, warnanya berubah menjadi lebih gelap, mulai dari kecokelatan hingga kehitaman. Jadi, dalam kondisi tertentu, bintik tersebut berasal dari partikel susu itu sendiri, bukan otomatis menandakan adanya kotoran dari luar.

Apakah Scorched Particles Berbahaya untuk Anak?

Nah, ini yang paling penting buat para orang tua.

Perubahan warna pada partikel susu tersebut berkaitan dengan Reaksi Maillard, yaitu reaksi alami antara gula dan protein akibat paparan panas. Reaksi ini umum ditemukan dalam proses pengolahan berbagai jenis makanan dan dapat memengaruhi warna maupun karakteristik produk.

Prof. Azis menjelaskan bahwa perubahan warna tersebut tidak selalu menunjukkan adanya kontaminasi dari luar.

"Perubahan warna pada partikel susu ini berkaitan dengan reaksi Maillard, yaitu reaksi antara gula susu dan protein akibat paparan panas. Reaksi ini umum terjadi dalam proses pengolahan pangan dan dapat memengaruhi warna serta karakteristik produk, tanpa selalu menunjukkan adanya kontaminasi dari luar," ungkap Prof. Azis.

Baca juga:

Berdasarkan metode pengujian yang dirujuk oleh American Dairy Products Institute (ADPI), keberadaan scorched particles lebih berkaitan dengan mutu tampilan produk. Dengan kata lain, keberadaan partikel tersebut tidak otomatis berarti susu mengalami kontaminasi atau menjadi berbahaya.

Meski begitu, bukan berarti semua bintik hitam bisa langsung dianggap aman, ya, Urbie's! Kondisi produk secara keseluruhan tetap perlu diperhatikan, terutama karena susu tersebut akan dikonsumsi anak.

Catat! Ini 4 Kondisi Susu Bubuk yang Perlu Diwaspadai

Menjadi orang tua memang perlu teliti. Jadi, meskipun sudah mengetahui penjelasan tentang scorched particles, jangan sampai kita mengabaikan tanda-tanda lain pada produk susu.

Sebelum menyajikannya kepada si kecil, coba perhatikan beberapa hal berikut:

1. Periksa Tekstur Bintiknya

Perhatikan apakah bintik tersebut berupa partikel halus atau justru terasa keras seperti pasir dan kerikil. Jika teksturnya tidak biasa, sebaiknya jangan gunakan produk terlebih dahulu.

2. Perhatikan Jumlah dan Sebarannya

Bintik dalam jumlah sangat banyak atau muncul dengan pola yang tidak biasa perlu mendapat perhatian. Jangan memaksakan penggunaan produk jika tampilannya berbeda secara mencolok.

3. Cek Aroma dan Kondisi Bubuk

Waspadai perubahan aroma menjadi tengik atau asam, rasa yang tidak biasa, maupun penggumpalan parah sebelum susu diseduh. Jika menemukan tanda-tanda tersebut, hentikan penggunaan sementara.

4. Pastikan Kemasan dan Penyimpanannya Baik

Periksa apakah kemasan masih utuh, tidak robek, bocor, atau melewati tanggal kedaluwarsa. Pastikan juga susu disimpan sesuai petunjuk pada kemasan, termasuk di tempat yang sejuk dan kering.

Prof. Azis menyarankan agar produk tidak diberikan terlebih dahulu apabila ditemukan partikel keras, jumlah bintik yang tidak wajar, perubahan aroma, atau penggumpalan yang tidak biasa.

"Pastikan juga kemasan dalam kondisi baik dan susu disimpan sesuai petunjuk untuk menjaga kualitasnya," imbuhnya.

Masih Ragu? Jangan Langsung Dibuang, Lakukan Ini!

Kalau Urbie's masih merasa ragu setelah menemukan perubahan pada susu bubuk, langkah paling bijak adalah menghentikan penggunaannya sementara.

Simpan kemasan produk dan dokumentasikan kondisi susu yang ditemukan. Jangan lupa foto nomor batch atau kode produksi agar pihak produsen bisa membantu melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Setelah itu, hubungi layanan konsumen produsen untuk menyampaikan keluhan. Jika diperlukan, Urbie's juga bisa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum kembali memberikan produk kepada si kecil.

Intinya, menemukan bintik hitam pada susu bubuk memang bisa bikin khawatir. Namun, memahami fenomena scorched particles membantu kita membedakan perubahan yang berkaitan dengan proses pengolahan dan tanda-tanda produk yang perlu diwaspadai.

Jadi, tetap teliti tanpa harus panik berlebihan, ya! Sebab, menjaga nutrisi si kecil bukan cuma soal memilih makanan terbaik, tetapi juga memastikan kita punya informasi yang tepat sebelum mengambil keputusan. (R. Indriani)