Hi Urbie’s! Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memastikan perang terhadap ikan sapu-sapu belum selesai. Gubernur Pramono Anung menegaskan program pemusnahan ikan sapu-sapu akan terus berlanjut secara menyeluruh, bukan langkah sesaat atau parsial.
Keputusan ini diambil karena populasi ikan sapu-sapu di perairan Jakarta dinilai sudah melewati batas aman dan mengancam keseimbangan ekosistem air ibu kota.
“Untuk ini tidak bisa dilakukan secara parsial. Kami akan melanjutkan dan secara khusus Jakarta akan punya PPSU untuk secara berkala membersihkan ikan sapu-sapu di Jakarta,” ujar Pramono di Jakarta Selatan, Minggu, 19 April 2026.
Artinya, Jakarta akan menyiapkan petugas PPSU khusus yang bertugas melakukan pengendalian populasi ikan invasif tersebut secara rutin.
Apa Itu Ikan Sapu-Sapu?
Urbie’s!, ikan sapu-sapu dikenal luas sebagai ikan pembersih akuarium. Bentuk tubuhnya keras, mulutnya menyerupai alat pengisap, dan kemampuannya memakan lumut membuat ikan ini populer di kalangan penghobi.
Namun masalah muncul ketika spesies ini dilepas ke sungai, waduk, dan saluran air umum.
Di habitat liar, ikan sapu-sapu berkembang sangat cepat, tahan di lingkungan kotor, dan sulit dikendalikan. Mereka mampu mendominasi wilayah perairan serta menekan populasi ikan lokal.
Itulah yang kini terjadi di Jakarta.
Populasi Sudah Lampaui Ambang Batas
Menurut Gubernur Pramono, data yang diterima menunjukkan jumlah ikan sapu-sapu telah mencapai lebih dari 60 persen dari total biota air di sejumlah wilayah Jakarta.
Bahkan, laporan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan disebut menyebut angkanya bisa melampaui 70 persen.
“Baru satu hari pembersihan di Jakarta Selatan saja sudah lebih dari 3,5 ton. Total hampir 6,5 ton yang berhasil ditangkap,” ujarnya.
Angka tersebut menunjukkan dua hal penting:
- Populasinya sangat besar
- Pengendalian memang sudah mendesak dilakukan
Jika dibiarkan, ikan lokal bisa semakin terdesak dan kualitas ekosistem perairan Jakarta makin menurun.
Belajar dari Amazon: Saat Ikan Punya Peran Alami
Menariknya, Urbie’s!, ikan sapu-sapu sebenarnya berasal dari kawasan Sungai Amazon dan sistem sungai Amerika Selatan lainnya.
Di sana, mereka hidup sebagai bagian normal dari rantai ekosistem.
Predator alami, kompetitor sesama spesies, kualitas habitat, dan keseimbangan biodiversitas membuat populasinya tetap terkendali. Ikan ini membantu membersihkan material organik tanpa mendominasi secara berlebihan.
Artinya, di habitat asalnya, ikan sapu-sapu bukan musuh.
Masalah muncul ketika spesies dipindahkan ke ekosistem baru yang tidak memiliki pengendali alami.
Tanpa predator dan dengan lingkungan yang mendukung, populasinya bisa meledak.
Kenapa Berbahaya di Indonesia?
Di Indonesia, termasuk Jakarta, banyak perairan tidak memiliki sistem alami untuk menahan laju pertumbuhan ikan sapu-sapu.
Beberapa dampak yang sering dikhawatirkan antara lain:
- merebut ruang hidup ikan lokal
- bersaing mendapatkan makanan
- merusak dasar sungai dan bantaran dengan aktivitas menggali
- menurunkan keanekaragaman hayati
- mengganggu hasil tangkapan nelayan kecil
- memperburuk keseimbangan ekologi air tawar
Karena tubuhnya keras dan kurang diminati sebagai konsumsi, ikan ini juga jarang ditangkap masyarakat secara alami.
Akibatnya, jumlahnya terus meningkat.
Ekosistem Jakarta Butuh Penanganan Serius
Jakarta memiliki banyak sungai, waduk, situ, dan kanal yang menjadi bagian penting kehidupan kota.
Perairan ini berfungsi untuk:
- drainase dan pengendalian banjir
- habitat biota air
- ruang hijau dan rekreasi
- sumber ekonomi warga tertentu
- penyangga kualitas lingkungan kota
Jika ekosistem air rusak, dampaknya tidak hanya ke ikan, tetapi juga kualitas hidup masyarakat urban.
Karena itu, rencana menyiapkan tim khusus PPSU menjadi langkah strategis, bukan sekadar operasi simbolik.
Kritik Soal Metode Pemusnahan
Di sisi lain, kebijakan ini juga mendapat perhatian dari Majelis Ulama Indonesia yang menyoroti metode pemusnahan agar sesuai dengan pertimbangan syariat dan etika.
Menanggapi hal itu, Pramono menyatakan terbuka untuk penyesuaian.
Baca Juga:
- Gandeng Rusia, Indonesia Target Punya Spaceport Pertama di Asia Tenggara
- Sinopsis Lee Cronin’s The Mummy (2026), Film Horor Penuh Teror Misterius yang Mengerikan
- Big Bad Wolf Jakarta 2026 Segera Hadir di ICE BSD City 5 Hari Nonstop, Catat Tanggalnya!
“Mengenai saran dan kritik dari MUI, nanti saya minta yang ahli untuk menyesuaikan tata caranya,” ujarnya.
Langkah ini penting karena pengendalian satwa invasif idealnya tetap memperhatikan aspek kemanusiaan, etika lingkungan, dan prosedur yang tepat.
Bukan Sekadar Membasmi, Tapi Memulihkan
Urbie’s!, isu ikan sapu-sapu seharusnya tidak dibaca hanya sebagai “membunuh hama”.
Ini tentang memulihkan ekosistem yang terganggu.
Ketika satu spesies mendominasi secara berlebihan, spesies lain kehilangan ruang hidup. Dalam jangka panjang, lingkungan menjadi rapuh dan tidak seimbang.
Karena itu, pengendalian populasi harus disertai strategi lanjutan seperti:
- restorasi habitat sungai
- peningkatan kualitas air
- pelepasan ikan lokal bila diperlukan
- edukasi larangan melepas ikan akuarium ke alam liar
- pemantauan populasi berkala
- kolaborasi dengan akademisi dan komunitas lingkungan
Pelajaran Besar dari Amazon dan Jakarta
Amazon mengajarkan bahwa spesies bisa hidup seimbang jika berada di ekosistem yang tepat.
Jakarta mengingatkan bahwa ketika spesies dipindahkan tanpa kontrol, dampaknya bisa serius.
Fenomena ikan sapu-sapu adalah contoh nyata bagaimana aktivitas manusia—termasuk perdagangan hewan peliharaan dan pelepasan liar—bisa mengubah lanskap ekologi kota.
Saatnya Warga Ikut Peduli
Urbie’s!, menjaga sungai bukan hanya tugas pemerintah.
Masyarakat juga punya peran besar: tidak membuang hewan peliharaan ke sungai, menjaga kebersihan air, dan mendukung kebijakan berbasis lingkungan.
Perang terhadap ikan sapu-sapu pada akhirnya bukan soal satu jenis ikan.
Ini soal bagaimana Jakarta ingin menyelamatkan masa depan perairannya—agar sungai dan waduk tetap hidup, sehat, dan seimbang untuk generasi berikutnya.





