Hi Utbie's! Di tengah linimasa media sosial yang semakin bising, muncul satu pendekatan yang terdengar sederhana, tetapi cukup menantang: berhenti memberi perhatian kepada buzzer. Strategi ini dikenal sebagai janonisme, sebuah pendekatan komunikasi digital yang berasal dari Brasil dan kini mulai ramai dibicarakan di Indonesia sebagai cara menghadapi dominasi pendengung, misinformasi, hingga disinformasi.

Alih-alih membalas unggahan provokatif, mengajak debat, atau memberikan bantahan panjang, pengguna media sosial justru diminta melakukan hal sebaliknya: melewati konten tersebut tanpa interaksi.

Gagasan ini kembali mencuat di Indonesia melalui unggahan media sosial pada Rabu (4/11/2026). Salah satu pesan yang beredar menyebut bahwa cara paling efektif melawan buzzer adalah benar-benar mengabaikannya, bahkan tanpa membaca atau memblokir akun yang bersangkutan.

Namun, mengapa diam justru dianggap bisa menjadi strategi perlawanan di ruang digital?

Apa Itu Janonisme dan Siapa André Janones?

Janonisme atau Janonismo Cultural berasal dari nama André Janones, anggota parlemen Brasil yang mengembangkan pendekatan komunikasi politik digital tersebut.

Janones memperkenalkan strateginya melalui buku Janonismo Cultural: O Uso das Redes Sociais e a Batalha pela Democracia yang diterbitkan pada 2023. Pendekatan ini menggabungkan komunikasi emosional, penggunaan meme, pesan provokatif, serta mobilisasi pendukung secara terorganisasi melalui media sosial.

Urbanvibes Ads banner Pullman Central Park Jakarta Hotel

Dalam praktiknya, janonisme bukan sekadar teknik mengabaikan lawan. Strategi tersebut juga mencakup upaya mengalihkan perhatian publik dari narasi lawan, memenangkan dukungan melalui isu kehidupan sehari-hari, dan menggerakkan komunitas digital untuk memperkuat pesan tertentu. 

Salah satu prinsip yang menarik adalah tidak ikut menyebarkan narasi lawan melalui bantahan yang justru membuatnya semakin dikenal.

Mengapa Mengabaikan Buzzer Bisa Menjadi Strategi?

Urbie’s!, setiap interaksi di media sosial berpotensi menjadi sinyal bagi sistem rekomendasi. Tanda suka, komentar, pembagian konten, klik, hingga durasi menonton dapat digunakan platform untuk memperkirakan konten yang menarik bagi pengguna.

Pada Instagram, misalnya, waktu menonton, likes, dan sends termasuk faktor penting dalam pemeringkatan konten. Sementara YouTube menggunakan sejumlah sinyal, seperti klik, watch time, survei kepuasan, likes, dislikes, dan aktivitas berbagi, untuk membantu merekomendasikan video. <Cite refs={["turn156117search0"]}/>

Artinya, sebuah unggahan yang memancing kemarahan tidak selalu kehilangan jangkauan ketika dibantah. Perdebatan panjang, komentar bernada kesal, atau membagikan tangkapan layar untuk mengecam konten tersebut tetap dapat menghasilkan interaksi.

Di sinilah prinsip janonisme bekerja. Jika sebuah konten sengaja dirancang untuk memancing reaksi, tidak memberikan engagement dapat menjadi cara untuk mengurangi sinyal ketertarikan terhadap konten tersebut.

Dalam konteks ini, mengabaikan bukan berarti kalah debat. Justru pengguna memilih tidak memberikan perhatian yang mungkin sedang dicari oleh pembuat konten.

Baca juga:

Mengapa Tidak Memblokir Akun Buzzer?

Salah satu bagian yang cukup kontroversial dalam janonisme adalah anjuran untuk tidak langsung memblokir akun yang dianggap sebagai buzzer.

Menurut prinsip yang beredar dalam pendekatan tersebut, pemblokiran membuat konten tidak lagi muncul di hadapan pengguna sehingga tidak menghasilkan sinyal interaksi negatif terhadap unggahan itu. Sebaliknya, melewati konten tanpa membuka, membaca, atau memberikan respons dianggap sebagai bentuk penolakan terhadap distribusinya.

Meski demikian, perlu dipahami bahwa algoritma setiap platform berbeda. Tidak ada jaminan bahwa mengabaikan satu unggahan secara otomatis membuat jangkauannya turun. Sistem rekomendasi juga mempertimbangkan berbagai faktor lain, termasuk perilaku pengguna, karakter konten, dan hubungan ant akun. 

Karena itu, janonisme lebih tepat dipahami sebagai strategi mengurangi engagement terhadap konten yang tidak ingin diperkuat, bukan tombol ajaib untuk menghentikan viralitas.

Apakah Janonisme Bisa Melawan Misinformasi dan Disinformasi?

Di ruang digital Indonesia, janonisme dinilai berpotensi menjadi pendekatan untuk menghadapi penyebaran narasi manipulatif. Namun, ada satu hal yang perlu dibedakan: mengabaikan konten provokatif tidak sama dengan membiarkan informasi berbahaya tanpa koreksi.

Jika sebuah unggahan memuat informasi keliru yang berpotensi memengaruhi keselamatan publik, keputusan untuk tidak berdebat di kolom komentar tetap bisa disertai langkah lain, seperti melaporkan konten, memeriksa fakta melalui sumber kredibel, atau menyebarkan klarifikasi yang tidak mengamplifikasi unggahan aslinya.

Dengan kata lain, yang perlu dihentikan adalah engagement yang tidak produktif, bukan upaya menjaga kualitas informasi publik.

Mengambil Kembali Ruang Digital, Bukan Sekadar Diam

Janonisme juga mengingatkan bahwa ruang digital tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling berisik, tetapi juga oleh apa yang dipilih pengguna untuk diperhatikan dan disebarkan.

Mengurangi interaksi terhadap konten provokatif bisa menjadi satu langkah. Langkah lainnya adalah memperkuat unggahan yang membawa informasi terverifikasi, membicarakan persoalan publik secara konstruktif, dan membangun komunitas yang tidak mudah terseret perang komentar.

Bagi Urbie’s!, pesan penting dari janonisme bukan semata-mata ajakan untuk diam. Ini tentang mengelola perhatian secara sadar di tengah banjir informasi.

Sebab, dalam ekosistem media sosial yang menjadikan perhatian sebagai sesuatu yang berharga, terkadang keputusan paling strategis adalah tidak memberikan perhatian sama sekali.