Hi Urbie’s! Kalau kamu berpikir gen Z Jepang hanya tertarik pada teknologi AI, gadget terbaru, atau tren futuristik, laporan tren terbaru tahun 2026 mungkin akan membuatmu terkejut.

Di tengah era digital yang semakin canggih, para remaja Jepang justru mulai melirik kembali berbagai hal yang identik dengan masa lalu. Mulai dari mengoleksi sticker book, memainkan game lawas Nintendo DS, hingga menggunakan ungkapan unik seperti "imut banget sampai rasanya mau pingsan" dalam percakapan sehari-hari.

Fenomena ini terungkap dalam laporan tren terbaru dari SHIBUYA109 Lab dan Mynavi Teens Lab yang meneliti perilaku serta minat Generasi Z Jepang sepanjang tahun 2026.

Hasilnya menunjukkan satu hal menarik: tren anak muda Jepang saat ini merupakan perpaduan unik antara nostalgia dan masa depan.

Nostalgia Jadi Tren Besar

Salah satu temuan paling menarik dalam laporan tersebut adalah kembalinya berbagai aktivitas yang populer di era 2000-an.

Sticker book atau buku koleksi stiker kembali menjadi benda favorit di kalangan remaja Jepang. Aktivitas mengumpulkan, menukar, dan menghias buku dengan berbagai stiker kini menjadi bagian dari gaya hidup anak muda.

Fenomena ini terasa cukup unik mengingat generasi sekarang tumbuh dengan media sosial, filter digital, dan aplikasi desain yang jauh lebih praktis.

Namun justru di situlah daya tariknya.

Banyak remaja Jepang merasa aktivitas fisik seperti menghias buku stiker memberikan pengalaman yang lebih personal dibandingkan sekadar menyimpan gambar di ponsel.

Selain sticker book, konsol portabel Nintendo DS juga mengalami kebangkitan popularitas.

Bagi generasi yang lahir di pertengahan 2000-an, Nintendo DS merupakan bagian penting dari masa kecil mereka. Kini perangkat tersebut kembali dimainkan, dikoleksi, bahkan diperjualbelikan di berbagai platform online.

Tren ini menunjukkan bahwa nostalgia tidak lagi hanya menjadi milik generasi yang lebih tua. Generasi Z juga mulai menciptakan nostalgia mereka sendiri.

Bahasa Baru yang Bikin Gemas

Selain kebiasaan dan hobi, laporan tren juga menyoroti perkembangan bahasa yang digunakan remaja Jepang.

Salah satu ungkapan yang sedang populer adalah frasa yang kurang lebih berarti "saking lucunya sampai aku bisa mati."

Ungkapan tersebut digunakan untuk mengekspresikan rasa gemas berlebihan terhadap sesuatu yang dianggap sangat menggemaskan.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana bahasa internet dan budaya fandom terus memengaruhi cara Generasi Z berkomunikasi.

Bagi sebagian orang dewasa, istilah tersebut mungkin terdengar berlebihan. Namun bagi remaja Jepang, ekspresi hiperbolis seperti ini justru menjadi cara baru untuk menunjukkan emosi secara lebih ekspresif.

Baca Juga:

Budaya Pop Masih Mendominasi

Tidak mengherankan jika budaya pop tetap menjadi salah satu pendorong utama tren di Jepang.

Anime, musik, idol, dan media sosial masih memainkan peran besar dalam membentuk gaya hidup remaja.

Namun yang menarik, tren tahun 2026 menunjukkan bahwa anak muda Jepang tidak hanya mengikuti hal-hal baru. Mereka juga aktif menghidupkan kembali budaya populer dari masa lalu dengan cara yang lebih modern.

Fenomena ini terlihat dari meningkatnya minat terhadap produk retro, permainan klasik, hingga berbagai item koleksi yang sempat populer bertahun-tahun lalu.

Dengan bantuan media sosial seperti TikTok dan Instagram, tren lama dapat kembali viral hanya dalam hitungan hari.

Boy Band yang Kuasai Berbagai Kategori Tren

Laporan tren tahun ini juga mengungkap keberadaan satu boy band yang mendominasi berbagai kategori sekaligus.

Meski laporan tersebut menunjukkan bahwa pengaruh grup musik laki-laki sangat besar di kalangan remaja perempuan Jepang, fenomena ini sebenarnya bukan hal baru dalam industri hiburan Jepang.

Yang membuatnya menarik adalah bagaimana satu grup dapat memengaruhi berbagai aspek gaya hidup sekaligus, mulai dari fashion, bahasa, aktivitas sehari-hari, hingga kebiasaan konsumsi media.

Fenomena ini menunjukkan bahwa fandom saat ini tidak lagi terbatas pada mendengarkan musik semata.

Penggemar kini menjadikan idola mereka sebagai referensi gaya hidup secara keseluruhan.

Perpaduan Masa Depan dan Masa Lalu

Jika melihat keseluruhan tren yang muncul, ada satu benang merah yang cukup jelas.

Generasi Z Jepang tidak memilih antara masa lalu atau masa depan. Mereka justru menggabungkan keduanya.

Di satu sisi mereka menggunakan teknologi terbaru, mengikuti perkembangan AI, dan aktif di media sosial. Namun di sisi lain mereka juga menikmati benda-benda fisik, permainan lawas, dan aktivitas analog yang terasa lebih personal.

Kombinasi ini menciptakan tren yang unik dan berbeda dari generasi sebelumnya.

Alih-alih meninggalkan masa lalu, anak muda Jepang justru menemukan cara baru untuk menghidupkannya kembali.

Mengapa Tren Jepang Selalu Menarik?

Urbie’s, Jepang sering menjadi salah satu negara yang paling menarik untuk diamati dalam hal tren anak muda.

Banyak fenomena yang awalnya muncul di Jepang kemudian menyebar ke berbagai negara lain melalui internet dan budaya pop.

Mulai dari fashion Harajuku, budaya kawaii, tren fotografi, hingga anime, semuanya pernah menjadi bagian dari gelombang budaya global.

Karena itu, tren yang sedang berkembang di Jepang saat ini sering kali menjadi gambaran awal tentang apa yang mungkin akan populer di berbagai negara dalam beberapa tahun mendatang.

Apakah kebangkitan sticker book dan Nintendo DS akan ikut merambah Indonesia? Bukan tidak mungkin.

Melihat bagaimana nostalgia kini menjadi komoditas yang sangat kuat di kalangan Generasi Z, tren serupa bisa saja muncul di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Yang jelas, laporan tren Jepang 2026 membuktikan bahwa anak muda saat ini tidak hanya mengejar hal-hal baru. Mereka juga ingin kembali merasakan kesederhanaan dan kesenangan dari masa lalu, tetapi dengan sentuhan modern yang sesuai dengan zaman.

Dan mungkin itulah alasan mengapa sticker book dan Nintendo DS bisa kembali menjadi primadona di era serba digital seperti sekarang.

[Block type not supported: rawTool]