Hi Urbie’s! Medan Fashion Trend 2026, bukan sekadar parade busana. Di balik ratusan karya yang tampil, ada cerita tentang bagaimana wastra Nusantara sedang mencari cara baru untuk tetap hidup di tengah perubahan selera fashion.

Salah satu hal menarik dari gelaran tersebut justru terlihat dari cara para desainer menerjemahkan kain tradisional ke dalam busana yang lebih dekat dengan kehidupan masa kini. Mulai dari kebaya pengantin muslimah, batik, ulos, ecoprint, hingga busana yang mengambil inspirasi budaya Indonesia Timur, semuanya menunjukkan bahwa warisan budaya tidak harus berhenti sebagai pakaian seremonial.

Urbanvibes article banner

Dari Panggung Fashion ke Lemari Pengantin Muslimah

Salah satu contoh datang dari The Gaun by Maya, brand yang sejak 2019 fokus menghadirkan attire pengantin muslimah premium untuk kebutuhan penyewaan. Brand yang didirikan Maya Trianti ini berangkat dari keresahan calon pengantin muslimah yang ingin tampil elegan tanpa meninggalkan nilai-nilai Islami.

Medan Fashion Trend 2026 The Gaun by Maya - sumber foto istimewa
Medan Fashion Trend 2026 The Gaun by Maya - sumber foto istimewa

Pada Medan Fashion Trend 2026, The Gaun by Maya membawa koleksi kebaya dengan detail bordir, payet, siluet anggun, serta material berkualitas. Menariknya, busana tersebut tidak dirancang hanya untuk menjadi koleksi yang dipandang dari kejauhan, tetapi untuk benar-benar dipakai dan kembali menemani momen pernikahan banyak perempuan.

Konsep tersebut menjadi bagian dari identitas The Gaun by Maya melalui slogan “Menemani Momen Halalmu”. Bagi brand ini, konsep rental bukan berarti menurunkan kualitas, melainkan justru membuat satu karya dapat memiliki perjalanan lebih panjang dan menjadi bagian dari lebih banyak cerita.

Ketika Ulos Tidak Lagi Terjebak di Masa Lalu

Eksplorasi wastra juga terlihat melalui karya Sanggar Seni Pendopo_Waritri Mumpuni yang mengusung konsep Revitalisasi Ulos. Ulos sebagai salah satu identitas budaya Batak diterjemahkan melalui siluet fashion kontemporer, ornamen geometris, serta permainan warna marun, tosca, hijau, mustard, hitam, putih, dan merah.

Sanggar Seni Pendopo_Waritri Mumpuni - sumber foto istimewa
Sanggar Seni Pendopo_Waritri Mumpuni - sumber foto istimewa

Detail rok organza transparan bertumpuk memberikan kesan ringan sekaligus dramatis ketika busana bergerak di runway. Hasilnya menunjukkan bahwa ulos tidak harus selalu hadir dalam bentuk tradisional, karena karakter visualnya masih dapat menjadi bagian penting dari fashion modern.

Baca Juga:

Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat MFT 2026 yang mendorong karya berbasis wastra lokal agar tidak hanya dikenal sebagai warisan budaya, tetapi juga memiliki peluang menjadi bagian dari industri fashion yang lebih luas.

Ecoprint Bertemu Ulos, Fashion Sekaligus Pesan untuk Alam

Cerita berbeda datang dari Serat Warna melalui koleksi Harmony in Nature. Brand asal Medan ini mempertemukan ecoprint berbasis pewarna alami dengan ulos sebagai aksen pada bagian kerah, saku, lis busana, panel rok, hingga detail celana.

koleksi Harmony in Nature dari Serat Warna - sumber foto istimewa
koleksi Harmony in Nature dari Serat Warna - sumber foto istimewa

Yang menarik, satu atasan ecoprint dapat dipadukan dengan berbagai jenis bawahan, mulai dari rok A-line, rok lilit etnik, rok pleats, kulot, palazzo, hingga celana straight. Konsep tersebut membuat koleksi tidak hanya berbicara tentang estetika, tetapi juga fleksibilitas dan penggunaan busana dalam kehidupan sehari-hari.

Palet krem, beige, cokelat, dan hitam memperkuat karakter natural koleksi ini, sementara ulos bernuansa tosca, cokelat, dan merah marun memberikan identitas budaya Sumatera Utara. Fashion kemudian menjadi titik temu antara alam, budaya, dan kebutuhan perempuan modern.

[Block type not supported: rawTool]

!--nextpage-->

Batik Modern yang Ingin Lebih Dekat dengan Generasi Muda

Sementara itu, Batik Az-Zahra membawa misi yang cukup familiar tetapi tetap relevan, yakni membuat batik semakin dekat dengan generasi masa kini. Brand asal Medan yang didirikan Herleni M pada 2017 tersebut menghadirkan koleksi dengan pendekatan modern, elegan, dan nyaman.

Batik Az-Zahra - sumber foto istimewa
Batik Az-Zahra - sumber foto istimewa

Bagi Batik Az-Zahra, batik tidak seharusnya hanya muncul ketika seseorang menghadiri acara formal atau kegiatan budaya. Dengan desain yang mengikuti perkembangan tren, batik dapat menjadi bagian dari pilihan fashion sehari-hari tanpa kehilangan identitas yang membuatnya berbeda.

Di sinilah nilai penting fashion berbasis budaya terlihat: tradisi tidak harus ditinggalkan agar terlihat modern. Justru melalui desain baru, generasi muda dapat menemukan alasan untuk kembali menggunakan produk yang memiliki akar budaya Indonesia.

Dari Indonesia Timur hingga Mangrove, Ceritanya Makin Beragam

Eksplorasi budaya juga dibawa Lenny Agustin melalui interpretasi busana adat Indonesia Timur. Kebaya Ambon, Ternate, dan baju bodo Makassar diolah menjadi busana dengan karakter feminine-romantic dan arty off-beat.

Lenny Agustin - sumber foto istimewa
Lenny Agustin - sumber foto istimewa

Material seperti katun, tenun sarung sutra Makassar, sutra jumputan, serta lace Prada diperkaya dengan bordir bunga, aplikasi bunga tiga dimensi, dan manik-manik. Palet navy blue, dark purple, dan dark green memberikan kesan elegan sekaligus kuat, sementara warna-warna cerah terinspirasi dari bunga tropis menjadi aksen kejutan.

Sementara itu, Batik Organic by Yagasu – Adi Sandixs membawa isu lingkungan melalui koleksi yang terinspirasi dari ekosistem mangrove. Batik tulis handmade berbahan katun dipadukan dengan pewarna alami seperti mahoni, indigo, tegeran, jelawe, dan soga.

Batik Organic by Yagasu – Adi Sandixs - sumber foto istimewa
Batik Organic by Yagasu – Adi Sandixs - sumber foto istimewa

Motif flora serta fauna mangrove kemudian diterjemahkan melalui siluet kontemporer seperti long dress, cape, outer kimono, hoodie crop, hingga one shoulder dress. Fashion dalam koleksi ini tidak hanya menjadi benda untuk dikenakan, tetapi juga media untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga ekosistem pesisir.

Baca Juga:

Dari Wastra Lokal, Muncul Bahasa Fashion yang Baru

Ada pula By Yuli Ariska dengan The New Heritage, yang mengolah batik Yogyakarta dan kekayaan wastra Nusantara melalui pendekatan couture. Tailoring modern, keseimbangan struktur maskulin dan feminin, handmade beading, serta teknik kriya membuat warisan budaya tampil dengan bahasa visual yang lebih kontemporer.

By Yuli Ariska dengan The New Heritage - sumber foto istimewa
By Yuli Ariska dengan The New Heritage - sumber foto istimewa

Sementara Rumah Jahit Winda mempertemukan ecoprint dan Ulos Ragihotang dalam konsep luxury casual feminine. Earth tones seperti cokelat kayu, hijau lumut, dan krem natural dipadukan dengan potongan feminin yang ringan dan nyaman.

Rumah Jahit Winda mempertemukan ecoprint dan Ulos Ragihotang - sumber foto istimewa
Rumah Jahit Winda mempertemukan ecoprint dan Ulos Ragihotang - sumber foto istimewa

Pada akhirnya, inilah bagian menarik dari Medan Fashion Trend 2026 yang mungkin tidak langsung terlihat ketika hanya menyaksikan runway. Wastra Nusantara ternyata tidak sedang berusaha kembali ke masa lalu, melainkan sedang mencari bentuk baru untuk hidup di masa sekarang.

Dari kebaya pengantin muslimah hingga ulos, batik, ecoprint, ornamen Karo, dan budaya Indonesia Timur, para desainer menunjukkan bahwa warisan budaya dapat menjadi bahan bakar kreativitas. Dan ketika kain tradisional berhasil masuk ke dalam gaya hidup modern, “warisan” tidak lagi sekadar sesuatu yang harus disimpan, tetapi sesuatu yang bisa terus dikenakan, dikembangkan, dan diwariskan kembali.

[Block type not supported: rawTool]