Hi Urbie’s! Media sosial kembali menunjukkan bagaimana keresahan terhadap situasi politik dan pemerintahan bisa disampaikan dengan cara yang sangat personal. Kali ini, sebuah utas di Threads ramai diperbincangkan setelah sejumlah warganet membagikan cara mereka “mengadu” mengenai kondisi pemerintahan melalui doa dan keyakinan masing-masing.

Utas tersebut bermula dari unggahan pengguna Threads @feliciavictoriautomo yang menuliskan bahwa dirinya telah “mengadu” mengenai Presiden Prabowo Subianto dan pihak-pihak yang disebutnya sebagai “antek” kepada sosok yang ia yakini, sekaligus berharap aksi demonstrasi berjalan sukses. Unggahan itu kemudian mengundang respons beragam dari pengguna Threads lain yang memilih membagikan pengalaman serupa.

Urbanvibes article banner

Alih-alih berhenti pada satu unggahan, percakapan tersebut berkembang menjadi ruang bagi warganet untuk menunjukkan bagaimana doa menjadi salah satu cara mereka mengekspresikan kegelisahan. Menariknya, respons yang muncul datang dari latar agama dan keyakinan yang berbeda-beda.

Dari Threads, Keluhan Dibawa ke Ruang Doa

Dalam unggahan awalnya, @feliciavictoriautomo menulis, “Hari ini Prabowo dan antek”nya udah gw aduin di dpn ‘MAK’ gw gaesss.. Dan semoga demo bsk sukses menyelamatkan Indonesia dr penjajahan rezim.”

Pernyataan tersebut kemudian menjadi pemantik bagi pengguna lain untuk ikut bercerita tentang tempat atau sosok yang mereka datangi ketika ingin menyampaikan keresahan. Bagi sebagian warganet, doa bukan sekadar aktivitas spiritual, tetapi juga menjadi ruang personal untuk mencurahkan perasaan ketika situasi yang mereka hadapi terasa sulit.

Salah satu respons datang dari akun @nisa_nisa23. Ia menulis, “Lapor, gue udah ngadu disini ya guys 😭 udah ga tahan banget ama kelakuan mereka 😭😭,” sambil mengunggah foto Kabah.

Unggahan tersebut memperlihatkan bahwa keresahan yang sebelumnya dibicarakan dalam bahasa politik di media sosial dapat diterjemahkan ke dalam ekspresi spiritual. Warganet tersebut memilih menyampaikan keluhannya melalui tempat yang memiliki makna religius mendalam baginya.

Ada yang ‘Mengadu’ kepada Bunda Maria

Respons lain datang dari @glo_rya366 yang membagikan pengalamannya setelah menjalankan ibadah pagi. Ia menulis, “Saya juga udah aduin ke Bunda Maria after ibadah pagi tadi di Katedral Jakarta 🙏🏻.”

Komentar ini kemudian menambah warna dalam percakapan yang sejak awal sudah dipenuhi ekspresi personal. Jika sebelumnya Kabah menjadi latar unggahan salah satu pengguna, kali ini Katedral Jakarta dan Bunda Maria disebut sebagai bagian dari cara warganet menyampaikan keresahannya.

Baca juga:

Hal tersebut membuat utas semakin menarik perhatian karena respons yang bermunculan tidak datang dari satu perspektif keagamaan saja. Justru, perbedaan latar keyakinan menjadi bagian dari dinamika percakapan yang berlangsung di kolom komentar.

Ketika Doa Menjadi Bahasa untuk Menyampaikan Keresahan

Di tengah perdebatan politik yang kerap berlangsung keras di media sosial, utas tersebut menawarkan gambaran lain mengenai bagaimana masyarakat mengekspresikan ketidakpuasan. Tidak semua orang menyampaikannya melalui argumentasi panjang, data politik, atau pernyataan demonstratif; sebagian memilih doa sebagai bentuk pengaduan yang lebih personal.

Kolom komentar pun dipenuhi berbagai respons bernuansa doa. Masing-masing pengguna memiliki cara sendiri dalam memaknai tempat ibadah, tokoh spiritual, maupun keyakinan yang mereka percaya sebagai tempat untuk menyampaikan harapan.

Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana Threads tidak hanya menjadi ruang berbagi informasi, tetapi turut berfungsi sebagai tempat untuk meluapkan emosi dan membangun percakapan berdasarkan pengalaman pribadi. Sebuah unggahan yang awalnya bersifat personal dapat berkembang menjadi percakapan kolektif ketika banyak pengguna merasa memiliki keresahan yang sama.

Perbedaan Keyakinan Justru Jadi Sorotan

Satu hal yang membuat utas ini mencuri perhatian adalah keberagaman cara warganet menyampaikan keluhan. Ada yang menyebut Kabah, ada yang menyebut Bunda Maria, sementara pengguna lainnya mengekspresikan keresahan melalui doa dengan cara mereka masing-masing.

Alih-alih menjadi sekadar perdebatan mengenai siapa yang paling benar, percakapan tersebut memperlihatkan bahwa keresahan terhadap kondisi negara dapat menemukan jalannya masing-masing melalui keyakinan personal. Media sosial akhirnya menjadi semacam ruang pertemuan berbagai suara, meski cara setiap orang dalam menyampaikan harapan berbeda.

Bagi Urbie’s yang mengikuti percakapan ini, fenomenanya mungkin terasa sederhana: orang-orang sedang curhat tentang situasi negara dengan bahasa yang mereka yakini. Namun, jika dilihat lebih jauh, ramainya respons justru memperlihatkan satu hal penting—di tengah perbedaan agama, tempat berdoa, dan cara berekspresi, keresahan publik bisa muncul dalam bentuk yang sangat beragam.

Utas tersebut pun terus menjadi bahan perbincangan karena mempertemukan politik, spiritualitas, dan budaya bermedia sosial dalam satu percakapan. Pada akhirnya, bagaimana seseorang menyampaikan keluhan merupakan pilihan personal, sementara Threads menjadi panggung tempat berbagai suara tersebut bertemu dan saling merespons.

[Block type not supported: rawTool]