Hi Urbie's! Semangat Fete de la Musique atau Hari Musik Sedunia, sebuah perayaan budaya yang lahir di Prancis pada 1982 dan kini telah berkembang menjadi fenomena global. Setiap tanggal 21 Juni, jutaan orang di lebih dari 120 negara merayakan musik sebagai bahasa universal yang mampu menyatukan berbagai budaya.

Tahun 2026, Indonesia kembali menjadi bagian dari perayaan internasional tersebut dengan rangkaian acara yang lebih besar, lebih meriah, dan lebih dekat dengan generasi muda. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah kehadiran musisi electro-pop asal Prancis, Violet Indigo, yang untuk pertama kalinya melakukan tur di Indonesia.

Urbanvibes article banner

Musik Jadi Bahasa yang Menyatukan Semua Orang

Diselenggarakan oleh Institut français d'Indonésie bersama Kedutaan Besar Prancis di Indonesia dan berbagai mitra lokal, Fête de la Musique 2026 mengusung semangat keterbukaan, kreativitas, serta inklusivitas.

Konsepnya sederhana tetapi memiliki makna besar. Semua orang bisa menikmati musik secara gratis di ruang publik, mulai dari taman kota, alun-alun, stasiun, hingga pusat perbelanjaan.

Musisi profesional, talenta baru, komunitas independen, hingga penonton bertemu dalam satu ruang yang sama tanpa batasan.

Bagi Gen Z Indonesia yang tumbuh dengan playlist Spotify, konser festival, dan konten musik di media sosial, konsep seperti ini terasa sangat relevan. Musik bukan hanya hiburan, tetapi juga menjadi medium untuk membangun koneksi dan berbagi pengalaman.

Fête de la Musique 2026, Hari Musik Sedunia - sumber foto istimewa
Fête de la Musique 2026, Hari Musik Sedunia - sumber foto istimewa

Jakarta Rayakan HUT ke-499 dengan Musik

Perayaan tahun ini terasa semakin spesial karena Jakarta sedang merayakan hari jadinya yang ke-499.

Fête de la Musique 2026 digelar bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai bagian dari rangkaian menuju perayaan 500 tahun Jakarta pada 2027.

Selama 21 Juni, berbagai sudut ibu kota berubah menjadi ruang pertunjukan terbuka. Musik menggema di kawasan IFI Jakarta saat Car Free Day, Stasiun MRT Bundaran HI, Stasiun MRT Blok M, hingga Summarecon Mall Serpong.

Pengunjung disuguhkan beragam genre, mulai dari musik tradisional Indonesia, pop kontemporer, musik independen, hingga penampilan DJ yang membuat suasana kota semakin hidup.

Konsep ini sekaligus menunjukkan bahwa ruang publik tidak hanya menjadi tempat beraktivitas, tetapi juga ruang untuk berekspresi dan menikmati seni bersama.

Baca Juga:

Violet Indigo Jadi Bintang Utama

Salah satu momen yang paling dinantikan adalah penampilan Violet Indigo pada konser utama di Plaza Fatahillah, Kota Tua Jakarta, yang menjadi bagian dari Jakarta Light Festival pada 22 Juni.

Musisi Prancis-Amerika yang berbasis di Paris dan Rouen ini dikenal dengan karakter musik electro-pop yang dipadukan dengan hiphop, breakbeat, dan hyperpop.

Perpaduan tersebut menghasilkan warna musik yang energik, modern, dan sangat dekat dengan selera pendengar muda.

Melalui penampilannya di Indonesia, Violet Indigo tidak hanya memperkenalkan karya-karyanya, tetapi juga menjadi simbol kolaborasi budaya antara Indonesia dan Prancis.

Tur Keliling Indonesia

Menariknya, Jakarta bukan satu-satunya kota yang disinggahi Violet Indigo.

Dalam rangka Fête de la Musique 2026, ia melakukan tur ke berbagai kota di Indonesia.

Perjalanan dimulai di Denpasar pada 20 Juni di Antida Studio, dilanjutkan ke Surabaya pada 21 Juni di Soirée Rooftop Bar Four Points Pakuwon.

Setelah tampil di Plaza Fatahillah Jakarta pada 22 Juni, Violet Indigo melanjutkan turnya ke Yogyakarta pada 25 Juni di Jogja National Museum yang menjadi bagian dari ARTJOG.

Selanjutnya ia tampil di Bandung pada 27 Juni di Nuart Sculpture Park dalam Family Art Month sebelum menutup rangkaian tur di Medan pada 29 Juni di Sake Room City View Polonia.

Tur ini menjadi kesempatan bagi penonton Indonesia untuk mengenal salah satu talenta baru paling menjanjikan dari industri musik Prancis sekaligus mempertemukan musisi lokal dan internasional dalam satu panggung.

Bukan Sekadar Konser

Fête de la Musique 2026 tidak hanya menghadirkan hiburan.

Institut français d'Indonésie juga menggelar program lokakarya profesional bekerja sama dengan MTN Musik di kawasan Blok M, Jakarta.

Workshop tersebut menghadirkan dua pakar industri musik Prancis, yaitu Gwendolen Sharp, pendiri The Green Room, dan Leila Bellot, pendiri Fédérap.

Diskusi yang berlangsung membahas berbagai isu penting, mulai dari transisi ramah lingkungan dalam industri musik hingga pengembangan karier musisi di ekosistem musik Prancis.

Program ini membuka peluang baru bagi musisi dan pelaku industri kreatif Indonesia untuk memperluas jaringan sekaligus memahami perkembangan industri musik global.

Musik Jadi Jembatan Persahabatan

Urbie's, di era ketika lagu bisa viral hanya dalam hitungan menit melalui media sosial, musik telah menjadi bahasa yang melampaui batas negara, budaya, dan bahasa.

Fête de la Musique 2026 membuktikan bahwa sebuah konser bukan hanya soal penampilan di atas panggung, tetapi juga tentang bagaimana ruang publik dapat menjadi tempat bertemu, berbagi inspirasi, dan merayakan keberagaman.

Dengan menghadirkan Violet Indigo, musisi Indonesia, komunitas kreatif, hingga diskusi profesional, perayaan ini menjadi simbol persahabatan antara Indonesia dan Prancis yang dikemas dalam nada, irama, dan semangat kolaborasi.

Jadi, kalau Urbie's melewatkan konsernya tahun ini, mungkin saatnya memasukkan Fête de la Musique ke dalam daftar agenda wajib di tahun berikutnya.

[Block type not supported: rawTool]