Hi Urbie's! Perjalanan panjang yang telah dipersiapkan selama berbulan-bulan harus berakhir dengan kekecewaan mendalam. Kontingen Paduan Suara Wanita Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) asal Kota Tanjungpinang mengaku gagal mengikuti Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV di Manokwari, Papua Barat, setelah diduga mengalami penelantaran saat transit di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta.

Insiden yang terjadi pada Jumat, 26 Juni 2026 itu menjadi sorotan karena para peserta mengaku telah memenuhi seluruh arahan panitia sebelum keberangkatan. Namun, ketika tiba di Jakarta, mereka mengaku tidak mendapatkan kepastian mengenai penerbangan lanjutan menuju Manokwari.

Urbanvibes article banner

Akibat situasi tersebut, rombongan gagal melanjutkan perjalanan ke lokasi penyelenggaraan ajang paduan suara gerejawi berskala nasional tersebut.

Persiapan Berbulan-bulan Berujung Kekecewaan

Bagi para anggota kontingen, kesempatan tampil di Pesparawi Nasional bukanlah sesuatu yang datang dengan mudah.

Sebelum ditunjuk mewakili Provinsi Kepulauan Riau, mereka terlebih dahulu melewati proses seleksi yang ketat. Tidak hanya itu, latihan intensif selama berbulan-bulan juga dijalani demi memberikan penampilan terbaik sekaligus membawa nama baik daerah di tingkat nasional.

Ketua Tim Peserta asal Tanjungpinang, Lia Ukur, mengatakan bahwa perjuangan panjang tersebut terasa sia-sia setelah rombongan gagal mencapai lokasi pertandingan.

Menurut Lia, para peserta telah memberikan waktu, tenaga, dan komitmen penuh demi mewakili Kepulauan Riau. Karena itu, kegagalan berangkat menjadi pukulan yang sangat berat bagi seluruh anggota tim.

Mengaku Telah Mengikuti Arahan Panitia

Dikutip dari Metro Batam, Lia menjelaskan bahwa rombongan berangkat dari Batam pada Rabu, 24 Juni 2026, sesuai jadwal dan arahan yang diberikan panitia penyelenggara.

Namun, setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, mereka mengaku tidak mendapatkan koordinasi yang jelas terkait keberangkatan berikutnya menuju Manokwari.

Baca Juga:

Menurut Lia, kondisi tersebut membuat seluruh rombongan berada dalam situasi yang membingungkan karena tidak memperoleh kepastian mengenai proses perjalanan lanjutan.

"Sesampai di Jakarta kami ditelantarkan begitu saja. Sementara kita ini perwakilan dari Kepri, membawa nama baik Kepri," ujar Lia Ukur dengan nada sedih, seperti dikutip Metro Batam.

Pernyataan tersebut menjadi dasar munculnya dugaan bahwa kontingen mengalami penelantaran selama proses transit di Jakarta.

Membawa Nama Daerah di Ajang Nasional

Pesparawi Nasional merupakan salah satu ajang bergengsi yang mempertemukan kontingen paduan suara gerejawi dari berbagai provinsi di Indonesia.

Kompetisi ini tidak hanya menjadi wadah bagi para penyanyi untuk menunjukkan kemampuan vokal mereka, tetapi juga menjadi ajang representasi budaya, kebersamaan, serta identitas masing-masing daerah.

Karena itu, kegagalan keberangkatan kontingen Kepri tidak hanya berdampak pada para peserta, tetapi juga berpotensi menghilangkan kesempatan provinsi tersebut untuk berpartisipasi secara maksimal dalam ajang nasional.

Sorotan terhadap Pengelolaan Keberangkatan

Dalam keterangannya, Lia juga menyinggung besarnya dukungan yang telah diberikan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau terhadap keseluruhan kontingen.

Mengacu pada informasi yang dikutip Metro Batam, total anggaran yang dialokasikan untuk kontingen Kepri disebut mencapai sekitar Rp1,8 miliar.

Dengan besarnya anggaran tersebut, para peserta berharap proses keberangkatan hingga tiba di lokasi penyelenggaraan dapat berjalan lancar dan terkoordinasi dengan baik.

Karena itu, situasi yang mereka alami di Bandara Soekarno-Hatta dinilai sangat mengecewakan.

Menunggu Penjelasan dari Panitia

Hingga informasi ini beredar, belum ada keterangan resmi dari pihak panitia penyelenggara Pesparawi Nasional XIV mengenai penyebab kontingen asal Tanjungpinang gagal melanjutkan perjalanan ke Manokwari.

Belum diketahui pula apakah terdapat kendala teknis terkait tiket penerbangan, koordinasi perjalanan, maupun faktor operasional lainnya yang menyebabkan rombongan tidak dapat berangkat sesuai jadwal.

Penjelasan resmi dari panitia nantinya akan menjadi bagian penting untuk memberikan gambaran utuh mengenai peristiwa tersebut.

Harapan agar Kejadian Serupa Tidak Terulang

Bagi para peserta, pengalaman ini menjadi kekecewaan yang sulit dilupakan. Setelah melewati proses seleksi, latihan panjang, hingga meninggalkan keluarga demi membawa nama Provinsi Kepulauan Riau di tingkat nasional, mereka justru harus menghadapi ketidakpastian saat perjalanan menuju lokasi kompetisi.

Bagi Urbie's, peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya koordinasi yang matang dalam penyelenggaraan sebuah event berskala nasional, terlebih ketika melibatkan peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Di sisi lain, publik juga masih menunggu klarifikasi resmi dari pihak panitia untuk mengetahui kronologi secara menyeluruh. Dengan adanya penjelasan dari semua pihak, diharapkan persoalan ini dapat menjadi bahan evaluasi agar kejadian serupa tidak kembali dialami kontingen lain pada penyelenggaraan kegiatan nasional di masa mendatang.

[Block type not supported: rawTool]