Hi Urbie’s! Menjelang berakhirnya bulan Ramadan, pertanyaan yang paling sering muncul setiap tahunnya adalah: kapan tepatnya Hari Raya Idul Fitri dirayakan? Untuk tahun ini, perayaan Idul Fitri atau 1 Syawal 1447 Hijriah diperkirakan kembali menghadirkan kemungkinan perbedaan penetapan tanggal di Indonesia.
Situasi ini sebenarnya bukan hal baru, karena metode penentuan awal bulan Hijriah yang digunakan oleh berbagai lembaga memang bisa menghasilkan hasil yang berbeda.

Tahun 2026 ini, organisasi Islam Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan bahwa 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Penetapan tersebut dilakukan menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, yaitu perhitungan astronomi yang menentukan awal bulan Hijriah berdasarkan posisi bulan tanpa menunggu pengamatan langsung.
Namun, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama Republik Indonesia belum mengumumkan tanggal resmi Lebaran. Penetapan tersebut baru akan diputuskan melalui sidang isbat yang biasanya digelar menjelang akhir Ramadan.
Mengapa Penetapan Lebaran Bisa Berbeda?
Perbedaan penetapan awal bulan Hijriah sebenarnya berkaitan dengan metode yang digunakan untuk menentukan munculnya hilal, yaitu bulan sabit tipis yang menandai pergantian bulan dalam kalender Islam.
Beberapa organisasi menggunakan metode hisab atau perhitungan astronomi, sementara pemerintah Indonesia menggabungkan dua metode sekaligus, yaitu hisab dan rukyat (pengamatan hilal secara langsung).
Jika hilal terlihat saat pengamatan, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai awal bulan baru. Namun jika hilal tidak terlihat, maka bulan berjalan akan digenapkan menjadi 30 hari.
Pendekatan ini membuat hasil penetapan tanggal Lebaran bisa saja berbeda, tergantung apakah hilal berhasil terlihat atau tidak pada saat pengamatan.
Data Pengamatan Hilal dari BMKG
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga turut mempublikasikan data astronomi terkait posisi hilal menjelang penentuan awal Syawal.
Berdasarkan analisis BMKG, posisi hilal pada 19 Maret 2026 diperkirakan belum memenuhi kriteria MABIMS.
Kriteria MABIMS sendiri merupakan standar yang digunakan oleh negara-negara anggota MABIMS dalam menentukan awal bulan Hijriah.
Menurut standar tersebut, hilal dapat dinyatakan terlihat jika memenuhi beberapa syarat tertentu, seperti ketinggian minimum bulan dan jarak sudut antara bulan dan matahari.
Jika posisi hilal masih berada di bawah kriteria tersebut, maka kemungkinan besar hilal tidak dapat diamati secara jelas saat proses rukyat dilakukan.
Potensi Gangguan Saat Pengamatan Hilal
Selain faktor posisi bulan, BMKG juga mengingatkan adanya kemungkinan gangguan saat proses pengamatan hilal.
Dalam kegiatan rukyat, para pengamat biasanya menggunakan teleskop atau alat optik lainnya untuk melihat hilal di ufuk barat setelah matahari terbenam.
Namun dalam beberapa kondisi, objek astronomi lain seperti planet terang atau bintang yang berada di dekat posisi bulan bisa menimbulkan kesalahan pengamatan.
Objek-objek tersebut terkadang terlihat seperti cahaya tipis yang mirip dengan hilal, sehingga berpotensi disalahartikan sebagai tanda munculnya bulan baru.
Karena itu, para pengamat hilal harus melakukan verifikasi secara cermat untuk memastikan bahwa objek yang terlihat benar-benar hilal, bukan fenomena astronomi lainnya.
Baca Juga:
- Strategi Marketing Random Aldi Taher Bikin Aldis Burger Viral di Media Sosial
- Fenomena “Krisis Ojol” Saat Ramadan, Kenapa Jadi Sulit Dapat Driver Menjelang Buka Puasa?
- Pemerintah Batasi Penggunaan AI Instan untuk Siswa, Ini Alasannya
Kemungkinan Lebaran Serentak atau Berbeda
Jika merujuk pada keputusan Muhammadiyah, maka Lebaran akan jatuh pada 20 Maret 2026.
Menariknya, tanggal yang sama juga digunakan oleh sejumlah negara yang menerapkan metode perhitungan astronomi serupa, termasuk Turki.
Namun keputusan final di Indonesia tetap menunggu hasil sidang isbat pemerintah yang mempertimbangkan hasil rukyat di berbagai titik pengamatan di seluruh Indonesia.
Apabila hilal tidak terlihat dan belum memenuhi kriteria MABIMS, maka kemungkinan Lebaran bisa saja jatuh sehari setelahnya.
Tradisi Menanti Pengumuman Lebaran
Bagi masyarakat Indonesia, menunggu pengumuman resmi Lebaran sudah menjadi tradisi tersendiri setiap tahun.
Biasanya, masyarakat akan menantikan hasil sidang isbat yang disiarkan secara langsung di televisi maupun media digital.
Momen tersebut sering kali menjadi penentu berbagai persiapan akhir menjelang Lebaran, mulai dari perjalanan mudik, persiapan hidangan, hingga jadwal salat Id.
Menyambut Lebaran dengan Kebersamaan
Terlepas dari perbedaan metode penentuan tanggal, esensi dari Idul Fitri tetap sama: kembali kepada kesucian, mempererat silaturahmi, dan berbagi kebahagiaan dengan keluarga serta orang-orang terdekat.
Bagi banyak orang, Lebaran bukan sekadar soal tanggal, tetapi tentang momen kebersamaan yang dinantikan setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh.
Jadi Urbie’s, apakah Lebaran nanti jatuh pada 20 Maret atau sehari setelahnya, yang terpenting adalah tetap menjaga semangat kebersamaan dan saling menghargai perbedaan yang ada.







