Hi Urbie’s!, bagaimana jika kebakaran hutan Indonesia yang selama ini hanya terlihat lewat dokumentasi warga bisa muncul di layar billboard raksasa New York? Ide itu mulai digagas melalui media sosial setelah aksi Greenpeace di Bundaran HI, Jakarta, berujung pada penangkapan enam aktivis yang kemudian dibebaskan.

Alih-alih membiarkan percakapan berhenti di linimasa, seorang pengguna Threads dengan akun @niwa______ mengajak masyarakat mengumpulkan dokumentasi kebakaran hutan dan asap di Indonesia. Materi tersebut direncanakan menjadi bagian dari video kampanye yang ingin ditayangkan di billboard sejumlah kota besar, dengan Times Square sebagai titik awal.

Rencana ini masih dalam tahap persiapan. Namun, gagasannya menarik perhatian karena memperlihatkan bagaimana dokumentasi dari ponsel warga bisa menjadi bagian dari upaya membawa persoalan lingkungan Indonesia ke hadapan audiens internasional.

Enam Aktivis Greenpeace Dibebaskan Setelah Aksi di Bundaran HI

Perbincangan mengenai kampanye lingkungan ini muncul setelah enam aktivis Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk di Monumen Selamat Datang, Bundaran HI, Jakarta Pusat, pada Selasa, 20 Oktober 2026.

Spanduk tersebut membawa pesan tentang krisis iklim, bencana, dan biaya hidup. Salah satu pesan yang disampaikan berbunyi, “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup,” sementara spanduk lainnya menyoroti hubungan antara bencana yang memburuk dan kehidupan masyarakat. 

untasan threads Niwa mengenai Karhutla - sumber foto Threads/Niwa___
untasan threads Niwa mengenai Karhutla - sumber foto Threads/Niwa___

Aksi tersebut berakhir dengan evakuasi para aktivis dari monumen. Mereka kemudian dibawa ke Polda Metro Jaya dan enam aktivis yang masih berada di sana akhirnya dibebaskan sekitar pukul 20.30 WIB pada hari yang sama.

Urbanvibes article banner

Menurut keterangan Tim Advokasi untuk Demokrasi yang diberitakan Tirto, keputusan membebaskan keenam aktivis diambil setelah kepolisian menyatakan belum menemukan unsur tindak pidana dalam aksi tersebut. 

Peristiwa ini kembali menyoroti isu krisis iklim sekaligus memicu percakapan tentang cara menyampaikan keresahan lingkungan agar menjangkau masyarakat lebih luas.

@niwa______ Ajak Warga Kirim Video Kebakaran Hutan

Di tengah ramainya diskusi tersebut, akun Threads @niwa______ mengajak masyarakat yang terdampak kebakaran hutan untuk berbagi dokumentasi autentik dari lapangan.

Dalam unggahannya, pemilik akun meminta warga mengirimkan video atau foto kebakaran maupun kepulan asap melalui pesan langsung (DM). Dokumentasi yang dibutuhkan tidak terbatas pada rekaman kamera profesional, tetapi juga video dari ponsel, drone, atau perangkat lain yang dimiliki masyarakat.

Ada satu hal yang ditekankan dalam ajakan tersebut: izin penggunaan materi. Pemilik akun menyatakan akan meminta persetujuan sebelum menggunakan dokumentasi yang dikirimkan dan memberikan kredit kepada pemiliknya jika diinginkan.

Pendekatan ini membuat warga tidak hanya menjadi penonton dari sebuah kampanye, tetapi juga berpotensi menjadi sumber cerita visual mengenai kondisi lingkungan di wilayah mereka masing-masing.

Bayangkan sebuah video singkat yang merekam asap menyelimuti permukiman atau kobaran api di kawasan hutan. Ketika disertai informasi lokasi dan waktu yang jelas, dokumentasi seperti itu dapat membantu audiens memahami bahwa persoalan lingkungan bukan sekadar angka dalam laporan, melainkan sesuatu yang berdampak pada kehidupan nyata.

Meski begitu, setiap materi tetap perlu diverifikasi agar lokasi, waktu, dan konteks kejadian tidak keliru ketika ditampilkan kepada publik.

Baca juga:

Tiga Lokasi Billboard New York Masuk Pertimbangan

Dalam pembaruan berikutnya, @niwa______ menjelaskan bahwa kampanye tersebut belum dapat dipastikan terlaksana. Penayangan billboard masih memerlukan persetujuan, sementara pengelola kampanye telah memperoleh penawaran harga untuk tiga lokasi yang sedang dipertimbangkan.

Ketiga opsi yang disebutkan adalah:

1. 1560 Broadway, di atas toko Pele’s. Lokasi ini menjadi salah satu pilihan billboard yang sedang dipertimbangkan untuk membawa pesan mengenai kebakaran hutan Indonesia.

2. The Wedge. Titik kedua masuk dalam daftar lokasi yang telah memperoleh penawaran harga dan akan dipertimbangkan bersama pilihan lainnya.

3. The Giant Twins. Lokasi ketiga juga masuk dalam daftar opsi yang akan dibawa ke proses pemungutan suara.

Pemilik akun menyampaikan bahwa voting akan dilakukan agar komunitas dapat ikut menentukan lokasi yang dipilih. Namun, belum ada kepastian mengenai lokasi final, biaya keseluruhan, maupun tanggal penayangan.

Artinya, rencana ini belum bisa disebut sebagai kampanye billboard yang sudah berjalan. Untuk saat ini, partisipasi publik masih berfokus pada pengumpulan dokumentasi dan persiapan pemilihan lokasi.

Dari Rp10.000 hingga Solidaritas Digital untuk Lingkungan

Sebelumnya, muncul pula usulan warganet untuk mengumpulkan kontribusi Rp10.000 per orang guna membawa pesan mengenai kondisi Indonesia ke Times Square. Gagasan tersebut menggambarkan bagaimana nominal kecil dapat dibayangkan sebagai bagian dari dukungan kolektif.

Namun, usulan patungan itu perlu dibedakan dari pembaruan @niwa______. Unggahan yang diberikan menekankan pengumpulan dokumentasi, penawaran harga billboard, dan rencana voting; belum ada konfirmasi bahwa penggalangan dana telah resmi dibuka atau target biaya sudah ditetapkan.

Karena itu, masyarakat yang tertarik mengikuti perkembangan kampanye sebaiknya menunggu informasi resmi mengenai mekanisme partisipasi, anggaran, dan persetujuan penayangan sebelum mengirimkan uang.

Urbie’s!, membawa isu kebakaran hutan Indonesia ke Times Square tentu bukan satu-satunya cara untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Namun, gagasan ini memperlihatkan potensi kolaborasi warga dalam mengangkat cerita yang mungkin belum banyak terlihat oleh audiens internasional.

Sebab, di balik layar billboard yang menyala terang, ada persoalan yang jauh lebih besar daripada viralitas: hutan yang terbakar, asap yang mengganggu kehidupan warga, serta kebutuhan untuk memastikan penanganan lingkungan mendapat perhatian berkelanjutan.

Apakah dokumentasi warga Indonesia nantinya benar-benar akan tampil di New York? Jawabannya masih menunggu proses berikutnya. Untuk sekarang, satu hal yang sudah terlihat adalah upaya mengubah keresahan menjadi sebuah gagasan bersama.