Urbie's, kabar kurang menyenangkan datang dari industri hiburan global. Perusahaan raksasa hiburan The Walt Disney Company dikabarkan tengah mempersiapkan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ribuan karyawan. Jika terealisasi, langkah ini diperkirakan menjadi pemangkasan tenaga kerja terbesar yang dilakukan Disney sepanjang 2026.

Mengutip laporan Variety pada 3 November 2026, rencana PHK tersebut merupakan bagian dari strategi efisiensi dan restrukturisasi perusahaan di bawah kepemimpinan CEO Disney, Josh D'Amaro. Bloomberg News juga melaporkan bahwa sejumlah manajer telah diminta untuk memangkas pengeluaran hingga 20 persen berdasarkan perhitungan tahunan.

Langkah ini disebut akan menjadi gelombang PHK keempat Disney sepanjang 2026. Meski begitu, belum ada informasi terperinci mengenai jumlah pasti karyawan yang terdampak maupun divisi mana saja yang akan mengalami pemangkasan terbesar.

Disney Siapkan Efisiensi Besar-besaran

Berdasarkan laporan Bloomberg yang dikutip Variety, beberapa bagian operasional Disney diperkirakan akan terkena dampak pemangkasan secara tidak merata. Namun, perusahaan belum mengungkapkan secara spesifik departemen yang akan mengalami pengurangan karyawan paling besar.

Di balik kebijakan efisiensi tersebut, Josh D'Amaro disebut berencana menginvestasikan kembali sebagian dana hasil penghematan ke sejumlah sektor strategis. Beberapa di antaranya adalah produksi film dan program televisi, pengembangan teknologi, serta bisnis taman hiburan dan kapal pesiar Disney.

Sementara itu, pihak Disney belum memberikan komentar resmi terkait kabar rencana PHK terbaru tersebut.

Urbanvibes Ads banner Pullman Central Park Jakarta Hotel

Sudah Empat Kali Lakukan PHK Sepanjang 2026

Rencana pemangkasan terbaru ini bukanlah langkah efisiensi pertama Disney tahun ini. Sejak April 2026, perusahaan telah beberapa kali melakukan pengurangan tenaga kerja di berbagai divisi.

Pada April 2026, Disney menghapus sekitar 1.000 posisi pekerjaan. Pemangkasan tersebut terutama berkaitan dengan pembentukan divisi pemasaran perusahaan yang lebih terintegrasi di bawah kepemimpinan Asad Ayaz selaku Chief Marketing and Brand Officer.

Kemudian pada Juli 2026, beberapa ratus posisi kembali dihilangkan. Kali ini, pemangkasan menyasar sejumlah fungsi perusahaan, termasuk Pixar, ESPN, Disney Entertainment Television, dan studio Disney.

Memasuki akhir September 2026, Disney kembali memberhentikan beberapa ratus karyawan, terutama dari departemen Human Resources (HR) dan teknologi informasi (IT), baik di tingkat korporasi maupun berbagai divisi perusahaan.

Selain PHK, pada Agustus 2026 Disney juga menawarkan program pensiun dini sukarela kepada sejumlah eksekutif senior di Amerika Serikat. Program tersebut ditujukan bagi karyawan pada tingkat direktur hingga Executive Vice President (EVP) yang berusia minimal 50 tahun dan telah bekerja setidaknya selama 10 tahun.

Disney Akui Perlu Terus Mengevaluasi Struktur Perusahaan

Presiden sekaligus Chief Creative Officer Disney, Dana Walden, sebelumnya turut menanggapi langkah efisiensi perusahaan dalam acara Bloomberg Screentime.

Ia menjelaskan bahwa evaluasi terhadap struktur organisasi merupakan bagian dari dinamika yang juga dihadapi perusahaan lain di industri hiburan dan teknologi.

“Saya pikir, seperti perusahaan lain yang memiliki posisi serupa dengan kami, dan tentunya para pesaing kami di industri teknologi, ada kebutuhan untuk terus mengevaluasi bagaimana struktur organisasi dibentuk,” ujar Dana Walden.

Sementara itu, dalam surat kepada para pemegang saham pada 5 Agustus 2026, Josh D'Amaro dan CFO Hugh Johnston juga telah memberikan sinyal bahwa pengurangan biaya operasional masih menjadi perhatian perusahaan.

Keduanya menyebut Disney sedang mengevaluasi berbagai langkah untuk mengurangi pengeluaran, termasuk biaya tenaga kerja dan biaya penjualan, umum, serta administrasi (SG&A), demi menciptakan ruang investasi untuk pertumbuhan bisnis.

Bukan Hanya Disney, Industri Hiburan Ikut Terdampak

Gelombang PHK yang terjadi di Disney juga mencerminkan tantangan efisiensi yang tengah dihadapi industri hiburan global.

Netflix dilaporkan telah memangkas sekitar 1.000 karyawan pada Oktober 2026. Sementara itu, Skydance, perusahaan hasil merger Paramount dan Warner Bros. Discovery, juga diperkirakan akan melakukan pengurangan tenaga kerja dalam skala besar sebelum akhir tahun.

Di tengah perubahan industri, perkembangan teknologi, serta kebutuhan untuk mengendalikan biaya operasional, perusahaan hiburan besar kini terus mengevaluasi struktur bisnis mereka.

Disney sendiri dijadwalkan mengumumkan laporan keuangan kuartal September 2026 atau kuartal keempat tahun fiskal 2026 pada 17 November mendatang sebelum pembukaan pasar saham.

Hingga saat ini, jumlah pasti karyawan yang akan terdampak rencana PHK terbaru Disney masih belum diumumkan. Urbie's, perkembangan ini tentunya menjadi perhatian, mengingat Disney merupakan salah satu perusahaan hiburan terbesar dunia dengan berbagai bisnis mulai dari film, televisi, streaming, hingga taman hiburan.