Hi Urbie's! Nama Herri Pras kembali menjadi sorotan publik setelah kediamannya di kawasan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, didatangi sejumlah praktisi bela diri pada Senin (2/11/2026). Salah satu sosok yang hadir adalah Yudi Cahyadi, petarung MMA yang pernah tampil di ajang Road to UFC.
Kedatangan rombongan tersebut dikaitkan dengan polemik konten Herri yang menyerang Ustaz Abdul Somad (UAS) dan Ustaz Adi Hidayat (UAH), termasuk tantangan duel yang sempat ia lontarkan di media sosial.
Di tengah kontroversi tersebut, sosok Herri Pras kembali membuat publik penasaran. Namun, sebelum dikenal lewat komentar keras terhadap tokoh agama dan isu publik, Herri memiliki perjalanan panjang di dunia pencak silat hingga membangun perguruan sendiri.
Herri Pras, Pendiri Pencak Silat Garuda Indonesia
Herri Pras merupakan nama yang dikenal dari Heri Prasetiawan, pendiri sekaligus Guru Besar Pencak Silat Garuda Indonesia (PSGI).
Merujuk situs resmi perguruannya, PSGI didirikan pada 13 Januari 2017 di Jember, Jawa Timur. Perjalanan Herri dalam dunia bela diri sendiri sudah dimulai jauh sebelum ia mendirikan organisasi tersebut.
Ia tumbuh di keluarga yang dekat dengan seni bela diri. Sejak berusia delapan tahun, Herri telah mempelajari pencak tradisional warisan keluarga dari kakak dan pamannya.

Pengalaman itu kemudian berkembang melalui berbagai aliran yang ia pelajari, mulai dari Tapak Suci, Taekwondo, capoeira akrobatik, extreme martial arts tricking, Pencak Silat Gerak Binatang (PSGB), hingga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).
Pengalaman lintas aliran tersebut menjadi bekal bagi Herri untuk membangun perguruan sendiri. Dengan izin orang tuanya, ia memilih berlatih secara mandiri tanpa bergabung dengan perguruan lain sebelum akhirnya mendirikan PSGI.
Kanal YouTube Herri Pras Tembus 1,5 Juta Subscriber
Popularitas Herri Pras tidak hanya tumbuh melalui aktivitas bela diri, tetapi juga lewat platform digital.
Kanal YouTube @herripras mulai aktif pada 2019. Pada awalnya, konten yang ia unggah banyak menarik perhatian penonton melalui teknik bela diri, demonstrasi jurus, serta materi pencak silat dari PSGI.
Berdasarkan data Social Blade yang dikutip dalam sumber, kanal tersebut dibuat pada 25 Maret 2019. Kanal itu tercatat memiliki sekitar 1,57 juta pelanggan, lebih dari 369 juta penayangan, dan lebih dari 3.000 video.
Seiring berjalannya waktu, konten Herri mengalami perubahan arah. Ia tidak lagi hanya membahas teknik persilatan, tetapi juga memberikan komentar terhadap isu keagamaan, organisasi masyarakat, hingga tokoh publik.
Dalam aktivitas dakwah digitalnya, Herri juga secara terbuka menyebut dirinya sebagai warga Salafi.
Deretan Kontroversi yang Pernah Menyeret Herri Pras
Gaya komunikasi Herri yang dikenal keras beberapa kali memicu polemik. Pada Juli 2023, ia dilaporkan ke Polda Banten oleh wali santri Al-Zaytun terkait tuduhan praktik penebusan dosa zina.
Di tahun yang sama, Herri turut mengomentari kehadiran biduan wanita yang bernyanyi di majelis Sabilu Taubah asuhan Gus Iqdam. Ia menilai kehadiran tersebut tidak pantas.
Baca juga:
- Joko Anwar Masuk Daftar 50 Sutradara Horor Terbaik Sepanjang Masa Versi IndieWire
- Wali Gandeng Siti Badriah di Single “Kangen Awakmu”, Kisah Rindu yang Terhalang Jarak dan Keadaan
Herri kemudian menyampaikan klarifikasi dan permintaan maaf melalui kanal YouTube pada 20 Agustus 2023.
Ia juga pernah memberikan komentar mengenai kasus carok di Bangkalan, Madura. Dalam komentarnya, Herri menyebut dua orang yang terlibat sebagai preman.
Pada Maret 2026, namanya kembali muncul dalam polemik ketika Syekh Ahmad Al-Misry menegaskan bahwa dirinya bukan guru Herri, berbeda dengan klaim yang selama ini banyak dipercaya.
Rangkaian peristiwa tersebut membuat aktivitas Herri di media sosial tidak hanya menjadi perhatian penggemar bela diri, tetapi juga publik yang mengikuti isu keagamaan.
Polemik UAS dan UAH Berujung Tantangan Duel
Kontroversi terbaru Herri Pras berkaitan dengan rangkaian video yang membahas UAS dan UAH.
Melalui kanal YouTube-nya, Herri mengunggah konten yang menilai kedua pendakwah tersebut tidak jujur. Ia bahkan menggunakan sebutan 'setan bisu' dalam komentarnya.
Di sisi lain, pendukung UAS dan UAH melontarkan sejumlah tudingan terhadap Herri. Ia dituduh mencari popularitas, memecah belah umat, mengedit video secara sepihak, serta mengkritik ulama tanpa ilmu yang memadai.
Polemik kemudian berkembang menjadi tantangan duel. Dalam video YouTube yang diunggah sekitar 27 Oktober 2026, Herri menyampaikan ultimatum duel kepada Yudi Cahyadi dengan syarat pembuktian terlebih dahulu bahwa UAS dan UAH bukan ulama munafik seperti yang ia tuduhkan.
Yudi sendiri dikenal sebagai petarung profesional kelas bulu dengan rekor sekitar 8-3, berdasarkan informasi dalam sumber.
Kediaman Herri Pras Didatangi Praktisi Bela Diri
Situasi semakin ramai setelah sejumlah praktisi bela diri mendatangi kediaman Herri di Gunung Putri pada Senin (2/11/2026). Kehadiran Yudi Cahyadi menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian publik karena sebelumnya nama mereka dikaitkan dengan tantangan duel.
Hingga berita ini diturunkan, Herri Pras belum memberikan keterangan resmi kepada redaksi mengenai kedatangan rombongan tersebut maupun kontak fisik yang terekam dalam video yang beredar.
Perjalanan Herri dari praktisi pencak silat, pendiri perguruan, hingga kreator konten dengan jutaan subscriber kini berada di tengah sorotan kontroversi. Urbie's!, perkembangan polemik ini pun menjadi perhatian publik, terutama terkait bagaimana perselisihan di media sosial dapat berlanjut menjadi persoalan di dunia nyata.




