Hi Urbie's! Pernah membayangkan bisa berbincang langsung dengan Aristoteles, Albert Einstein, Nelson Mandela, atau bahkan Steve Jobs? Dulu, ide seperti itu terdengar seperti cerita fiksi ilmiah. Namun, siapa sangka, hampir 40 tahun lalu Steve Jobs sudah membayangkan masa depan di mana manusia dapat "berdiskusi" dengan tokoh-tokoh besar sejarah melalui teknologi.

Kini, di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), mimpi tersebut perlahan menjadi kenyataan. Kehadiran chatbot berbasis AI seperti ChatGPT memungkinkan pengguna melakukan percakapan yang menyerupai dialog dengan berbagai tokoh bersejarah berdasarkan pengetahuan, tulisan, pidato, dan data yang tersedia. Walaupun bukan sosok asli, pengalaman interaktif ini menjadi salah satu lompatan terbesar dalam perkembangan teknologi pendidikan dan komunikasi.

Menariknya, gagasan tersebut ternyata pernah disampaikan langsung oleh Steve Jobs pada tahun 1985, jauh sebelum internet menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Steve Jobs Ingin Buku Bisa "Berbicara"

Dalam sebuah wawancara pada 1985, Steve Jobs mengungkapkan pandangannya mengenai masa depan komputer. Saat itu ia mengatakan bahwa selama ini manusia hanya bisa membaca karya para pemikir besar seperti Aristoteles, tetapi tidak dapat mengajukan pertanyaan secara langsung kepada mereka.

Menurut Jobs, akan sangat luar biasa jika suatu hari nanti komputer mampu menghidupkan kembali pemikiran tokoh-tokoh besar dunia sehingga siapa pun dapat berdialog dengan mereka.

Alih-alih sekadar mempelajari isi buku, seseorang dapat bertanya, meminta penjelasan, bahkan menggali perspektif baru layaknya sedang berbicara langsung dengan sang penulis.

Urbanvibes article banner

Di masanya, ide tersebut terdengar sangat futuristis. Komputer pribadi masih berada pada tahap awal perkembangan, internet belum tersebar luas, dan teknologi AI modern bahkan belum lahir.

Namun kini, hampir empat dekade kemudian, konsep itu mulai terwujud.

ChatGPT dan AI Mengubah Cara Belajar

Urbie's, salah satu dampak terbesar perkembangan AI adalah perubahan cara manusia memperoleh informasi.

Jika dahulu seseorang harus membaca ratusan halaman buku untuk memahami pemikiran seorang filsuf atau ilmuwan, kini AI mampu menyusun jawaban berdasarkan berbagai referensi yang telah dipelajari selama proses pelatihannya.

Pengguna bahkan dapat meminta AI menjelaskan suatu teori dengan gaya bahasa sederhana, berdiskusi mengenai konsep tertentu, hingga mensimulasikan percakapan dengan tokoh-tokoh sejarah.

Teknologi ini tentu bukan berarti menghadirkan sosok asli dari tokoh tersebut. Jawaban yang diberikan tetap merupakan hasil pemrosesan AI berdasarkan data dan informasi yang tersedia, sehingga tidak dapat dianggap sebagai ucapan autentik dari tokoh sejarah.

Meski demikian, pengalaman belajar menjadi jauh lebih interaktif dibanding sekadar membaca teks secara pasif.

Baca Juga:

Visi yang Mendahului Zamannya

Steve Jobs dikenal sebagai sosok yang kerap melihat potensi teknologi jauh sebelum orang lain menyadarinya.

Ia pernah mempopulerkan komputer personal, merevolusi industri musik digital melalui iPod, mengubah cara masyarakat menggunakan ponsel lewat iPhone, hingga memperkenalkan konsep toko aplikasi yang kini menjadi standar industri.

Visinya mengenai komputer sebagai media yang mampu "menghidupkan" pemikiran tokoh-tokoh besar juga menjadi salah satu contoh bagaimana ia memandang teknologi bukan sekadar alat, melainkan sarana memperluas kemampuan manusia.

Hari ini, AI generatif menjadi salah satu teknologi yang paling mendekati impian tersebut.

Akankah Steve Jobs Mendukung AI?

Pertanyaan yang kini banyak muncul adalah, bagaimana jika Steve Jobs masih hidup? Apakah ia akan mendukung perkembangan AI seperti sekarang?

Banyak pengamat teknologi meyakini jawabannya adalah iya.

Jobs dikenal sebagai pribadi yang selalu terbuka terhadap inovasi yang mampu meningkatkan pengalaman pengguna.

Namun, jika melihat karakter dan standar tinggi yang dimilikinya, besar kemungkinan ia juga akan memberikan banyak kritik terhadap AI masa kini.

Steve Jobs terkenal perfeksionis. Ia selalu menuntut produk yang sederhana digunakan, akurat, elegan, dan benar-benar memberikan manfaat nyata.

Karena itu, apabila melihat perkembangan AI saat ini, ia mungkin akan mengapresiasi potensinya sekaligus mengkritik berbagai kekurangan yang masih ada, mulai dari akurasi jawaban, pengalaman pengguna, hingga tantangan etika dalam penggunaan teknologi tersebut.

Masa Depan yang Sudah Kita Jalani

Urbie's, salah satu hal paling menarik dari kisah ini adalah bagaimana ide yang dulu dianggap mustahil kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Banyak pelajar memanfaatkan AI untuk memahami pelajaran, pekerja menggunakannya untuk meningkatkan produktivitas, kreator memakainya sebagai alat brainstorming, sementara peneliti menjadikannya sebagai pendamping dalam proses eksplorasi ide.

Teknologi memang belum sempurna. AI masih bisa memberikan jawaban yang keliru, kehilangan konteks, atau menghasilkan informasi yang perlu diverifikasi kembali.

Namun jika melihat esensi dari apa yang pernah dibayangkan Steve Jobs pada 1985, dunia saat ini memang telah bergerak sangat dekat dengan masa depan yang ia impikan.

Komputer kini bukan lagi sekadar mesin penghitung atau perangkat untuk mengetik dokumen. Teknologi telah berkembang menjadi ruang interaktif yang memungkinkan manusia berdialog dengan pengetahuan, mengeksplorasi ide, dan belajar dengan cara yang sebelumnya hanya ada dalam imajinasi.

Dan mungkin, itulah salah satu bukti bahwa beberapa gagasan paling besar memang membutuhkan waktu puluhan tahun sebelum akhirnya menjadi kenyataan.

[Block type not supported: rawTool]