Home Highlight Sony Patenkan Controller Tanpa Tombol Fisik, Sinyal Awal Controller PS6?

Sony Patenkan Controller Tanpa Tombol Fisik, Sinyal Awal Controller PS6?

216
0
ilustrasi Sony Patenkan Controller Tanpa Tombol Fisik - sumber foto MetaAi
ilustrasi Sony Patenkan Controller Tanpa Tombol Fisik - sumber foto MetaAi

Hi Urbie’s! Industri gaming kembali dibuat penasaran. Sony baru saja mempublikasikan paten berjudul “Devices and Methods for a Game Controller”, yang mengungkap konsep controller berbasis sentuhan kapasitif tanpa tombol fisik sama sekali. Informasi ini pertama kali dilaporkan oleh Tech4Gamers dan langsung memicu spekulasi luas—terutama soal kemungkinan lahirnya controller PlayStation generasi berikutnya, bahkan dikaitkan dengan PS6.

Meski Sony belum memberikan konfirmasi resmi apakah paten ini akan diwujudkan sebagai produk nyata, detail yang tercantum di dalam dokumen paten tersebut cukup untuk membuat para gamer dan pengamat teknologi angkat alis.

Controller Tanpa Tombol, Bagaimana Cara Kerjanya?

Dalam dokumen paten tersebut, Sony menjelaskan konsep virtual adaptive inputs, yaitu tombol digital yang muncul dan menyesuaikan diri berdasarkan cara pengguna memegang controller. Alih-alih tombol fisik seperti X, O, Square, atau Triangle, permukaan controller akan dipenuhi area sentuh kapasitif yang merespons tekanan, posisi tangan, dan gesture jari.

Singkatnya, controller ini “membaca” tangan pemain. Jika posisi genggaman berubah, tata letak tombol virtual pun ikut beradaptasi. Pendekatan ini diklaim mampu meningkatkan kenyamanan, ergonomi, dan aksesibilitas, terutama bagi pemain dengan kebutuhan khusus atau preferensi kontrol yang berbeda.

Buat Urbie’s yang terbiasa dengan DualShock atau DualSense, konsep ini jelas terasa futuristik—bahkan sedikit radikal.

Fokus pada Aksesibilitas dan Kenyamanan

Salah satu poin kuat dalam paten ini adalah penekanan Sony terhadap aksesibilitas. Dengan tombol virtual yang dapat menyesuaikan bentuk tangan, ukuran jari, dan gaya bermain, controller ini berpotensi menghilangkan batasan yang selama ini ada pada desain controller konvensional.

Dalam dunia gaming modern, isu aksesibilitas memang semakin mendapat perhatian. Xbox, Nintendo, hingga Sony sendiri sudah mulai memperkenalkan fitur-fitur ramah difabel. Paten controller tanpa tombol fisik ini seolah menjadi kelanjutan dari visi tersebut—bahwa pengalaman bermain game seharusnya bisa diakses oleh siapa saja.

Benarkah Ini Controller PS6?

Pertanyaan besarnya tentu: apakah ini bocoran controller PS6?
Jawabannya—untuk saat ini—masih spekulatif.

Sony memang dikenal aktif mematenkan berbagai ide futuristik, dan tidak semuanya berakhir menjadi produk komersial. Banyak paten sebelumnya yang akhirnya hanya menjadi arsip konsep. Namun, waktu kemunculan paten ini cukup menarik. PlayStation 5 dirilis pada 2020, dan jika mengikuti siklus konsol sebelumnya, generasi berikutnya kemungkinan akan muncul di paruh akhir dekade ini.

Karena itu, wajar jika publik mengaitkan paten ini dengan persiapan jangka panjang Sony menuju era PlayStation 6.

Baca Juga:

Evolusi Controller PlayStation

Jika benar terealisasi, controller tanpa tombol fisik akan menjadi lompatan besar dalam sejarah PlayStation. Dari DualShock yang memperkenalkan analog stick dan getaran, hingga DualSense yang menghadirkan adaptive trigger dan haptic feedback, Sony selalu menjadikan controller sebagai identitas utama konsolnya.

Konsep controller sentuh penuh ini bisa menjadi langkah berikutnya—mengaburkan batas antara hardware dan software. Controller tidak lagi sekadar alat input, tetapi sistem cerdas yang beradaptasi dengan pemain secara real time.

Namun, perubahan drastis juga membawa tantangan. Banyak gamer masih mengandalkan muscle memory terhadap tombol fisik. Hilangnya feedback klik bisa menjadi hambatan, terutama untuk game kompetitif atau genre yang membutuhkan presisi tinggi.

Antara Inovasi dan Risiko

Di satu sisi, paten ini menunjukkan bahwa Sony tidak berhenti bereksperimen. Di sisi lain, implementasi controller tanpa tombol fisik akan membutuhkan adaptasi besar, baik dari pemain maupun developer game.

Game harus dirancang ulang agar kompatibel dengan input berbasis sentuhan adaptif. Belum lagi potensi isu seperti akurasi sentuhan, kelelahan jari, hingga preferensi gamer hardcore yang cenderung konservatif soal kontrol.

Karena itu, sangat mungkin jika teknologi ini nantinya hadir bukan sebagai pengganti total, melainkan opsi alternatif—atau debut lebih dulu lewat perangkat eksperimen, bukan langsung controller utama PlayStation.

Masa Depan Controller Masih Terbuka

Satu hal yang pasti, Sony kembali memberi sinyal bahwa masa depan gaming tidak akan stagnan. Apakah paten ini akan menjadi controller PS6, perangkat eksperimental, atau sekadar konsep yang menginspirasi teknologi berikutnya—semuanya masih terbuka.

Buat Urbie’s, paten ini jadi pengingat bahwa di balik layar, perang inovasi konsol sudah berjalan jauh sebelum produk diumumkan ke publik. Dan kalau melihat sejarah Sony, ide-ide “aneh” hari ini bisa saja menjadi standar gaming esok hari.

Sekarang tinggal satu pertanyaan: siapkah gamer meninggalkan tombol fisik yang sudah menemani puluhan tahun? Waktu yang akan menjawab.