
Hi Urbie’s! Di tengah geliat perayaan Hari Kartini yang setiap tahun selalu membawa nuansa reflektif tentang peran perempuan Indonesia, satu hal yang tak pernah lepas dari ingatan adalah kebaya—busana yang dulu dikenakan R. A.
Kartini sebagai simbol identitas, sekaligus perlawanan yang elegan. Kini, di era modern, kebaya tak lagi sekadar warisan, melainkan terus hidup sebagai ekspresi gaya dan keberanian perempuan masa kini. Dari sinilah cerita tentang cahaya Kartini kembali dihidupkan—bukan dengan suara keras, melainkan melalui karya, kolaborasi, dan keindahan busana.
“Prabhā Kartini”: Filosofi Cahaya yang Tak Pernah Padam
Bertempat di Rumah Batik Danar Hadi Melawai, Jakarta, Kamis (30/4/2026), Batik Danar Hadi bersama Perhimpunan Kebayaku menggelar trunk show bertajuk “Prabhā Kartini: Dari Warisan Ke Masa Depan.” Sebuah perhelatan yang tak sekadar memamerkan busana, tetapi juga merangkai narasi tentang bagaimana warisan budaya bisa tetap relevan di tengah perubahan zaman.
“Prabhā” yang berasal dari bahasa Sanskerta dimaknai sebagai cahaya lembut yang terus bersinar tanpa menyilaukan. Filosofi ini terasa begitu dekat dengan pemikiran Kartini—tenang, namun kuat dan tak lekang oleh waktu. Dalam konteks fashion, konsep ini diterjemahkan menjadi koleksi batik dan kebaya yang modern, tetapi tetap berpijak pada akar tradisi.

Managing Director Batik Danar Hadi, Diana Santosa, menyampaikan bahwa semangat Kartini adalah energi yang terus mereka rawat dalam setiap karya.
“Prabhā Kartini adalah cahaya lembut dari warisan pemikiran Kartini yang terus kami rawat. Melalui trunk show ini, kami ingin menunjukkan bahwa batik bukan sekadar kain pusaka, melainkan energi hidup yang membawa perempuan Indonesia melangkah percaya diri menuju masa depan. Kolaborasi dengan Perhimpunan Kebayaku serta mitra-mitra hebat lainnya menjadi bukti nyata bahwa semangat Kartini untuk berdaya, berani, dan berkolaborasi masih sangat hidup hingga hari ini,” ujarnya.

Metafora Visual Perempuan Indonesia
Menariknya, koleksi yang ditampilkan tidak terpaku pada satu motif. Justru, keberagaman menjadi kekuatan utama. Motif parang, kawung, hingga ceplok dipadukan dalam satu harmoni bertema bunga. Sebuah metafora visual tentang perempuan Indonesia—berbeda-beda, namun tetap bisa tumbuh dan bersinar bersama.
Baca Juga:
- Instagram KitKat Malaysia Pamer Varian Rasa Petai, Inovasi Unik yang Bikin Penasaran
- Musikal Mar Kembali Digelar di 2026: Jadwal, Cerita, Pemain, dan Fakta Menarik Pergelaran Terbaru
- Megawati Hangestri Pamit dari Timnas Voli Putri Indonesia, Ini Alasan dan Rencana Selanjutnya
Di sisi lain, Ketua Perhimpunan Kebayaku, Nunun Daradjatun, menegaskan bahwa kebaya memiliki makna lebih dalam dari sekadar busana.
“Melalui kolaborasi yang bertema ‘Prabhā Kartini: Dari Warisan ke Masa Depan’, kami mengajak semua perempuan Indonesia untuk menjadi bagian dari kelembutan cahaya pemikiran Ibu Kartini yang dengan gigih terus menerangi menebar manfaat. Berkebaya menjadi salah satu cara kita kembali mengenang sosok yang telah menghadirkan cahaya tersebut. Kebaya memang bukan sekadar busana, melainkan simbol akar identitas yang tetap terjaga di tengah perubahan zaman,” ungkapnya.

Kolaborasi Lintas Industri
Perhelatan ini juga semakin kaya berkat kolaborasi lintas industri—mulai dari sentuhan kebaya modern dari Roemah Kebaya Vielga, kilau perhiasan dari Manjusha Nusantara dan MannaQueen, hingga riasan dari Mustika Ratu. Sebuah ekosistem kreatif yang memperlihatkan bahwa budaya Indonesia tidak berjalan sendiri, melainkan tumbuh lewat sinergi.
Yang membuat suasana semakin hidup adalah kehadiran para muse lintas generasi, seperti Marini Soemarno, Widyawati Sophan, Ingrid Kansil, hingga Marini Zumarnis. Mereka bukan sekadar berjalan di atas panggung, tetapi menjadi representasi nyata bahwa semangat Kartini hadir dalam berbagai usia dan latar belakang.
Pada akhirnya, “Prabhā Kartini” bukan hanya tentang fashion show. Ia adalah pengingat bahwa dari warisan, perempuan Indonesia menemukan cahaya untuk melangkah ke depan. Kebaya dan batik bukan lagi sekadar simbol masa lalu, melainkan bahasa baru untuk menyuarakan identitas—lembut, anggun, namun penuh daya.





