Home Lifestyle 0.1g no Gosan Viral di Kabukicho, 3.000 Fans Headbang Bareng Bikin Netizen...

0.1g no Gosan Viral di Kabukicho, 3.000 Fans Headbang Bareng Bikin Netizen Merinding!

5
0
0.1g no Gosan bikin fans head bang - sumber foto Instagram
0.1g no Gosan bikin fans head bang - sumber foto Instagram
Iklan Top Ad

Hi Urbie’s! Media sosial lagi diramaikan sama video konser gratis band visual kei asal Jepang, 0.1g no Gosan, yang sukses bikin netizen melongo. Gimana enggak? Dalam video yang viral itu, ribuan fans terlihat melakukan headbang dengan gerakan yang sama persis di kawasan Kabukicho. Sekilas, suasananya bahkan terlihat seperti flash mob yang sudah latihan berbulan-bulan.

Padahal, semua itu terjadi secara natural.

Konser gratis yang digelar di salah satu distrik paling ikonik di Tokyo tersebut berhasil mengumpulkan sekitar 3.000 penggemar. Tapi bukan cuma jumlah penontonnya yang bikin heboh, melainkan sinkronisasi gerakan para fans saat musik dimainkan. Kepala mereka bergerak naik turun dengan ritme yang sama, tangan ikut menghentak, dan crowd terlihat begitu kompak seperti satu organisme besar yang hidup dari dentuman musik visual kei.

Buat orang yang baru pertama kali melihat budaya konser Jepang, pemandangan ini mungkin terasa aneh, bahkan sedikit menyeramkan. Namun buat fans visual kei, fenomena ini adalah bagian dari budaya yang sudah lama hidup dan dikenal dengan istilah “bangya culture”.

Apa Itu Bangya Culture?

Dalam dunia visual kei, fans bukan cuma penonton pasif yang berdiri sambil merekam konser dengan smartphone. Mereka adalah bagian dari pertunjukan itu sendiri. Budaya “bangya” membuat para penggemar ikut berpartisipasi aktif lewat gerakan tertentu yang mengikuti lagu, beat, bahkan karakter tiap band.

Mulai dari headbang, hand movement, lompat bersama, hingga gerakan sinkron lainnya, semua dilakukan sebagai bentuk dukungan kepada band favorit mereka. Jadi ketika 3.000 orang bergerak bersamaan dalam konser 0.1g no Gosan, itu bukan karena mereka disuruh panitia atau latihan sebelumnya, melainkan karena budaya tersebut sudah melekat kuat di komunitas visual kei Jepang.

Dan justru di situlah daya tariknya.

Atmosfer konser jadi terasa jauh lebih immersive. Penonton dan musisi seperti membangun dunia mereka sendiri selama pertunjukan berlangsung. Enggak heran kalau banyak netizen luar Jepang yang langsung terpukau setelah melihat videonya viral di TikTok dan X.

Visual Kei, Genre Musik yang Lebih dari Sekadar Musik

Buat Urbie’s yang belum familiar, visual kei adalah subkultur musik Jepang yang memadukan rock, metal, punk, dan elemen teatrikal dalam satu paket ekstrem nan artistik. Genre ini terkenal dengan makeup dramatis, kostum nyentrik, hairstyle over-the-top, dan konsep panggung yang theatrical banget.

Nama-nama legendaris seperti X Japan, the GazettE, sampai Dir En Grey jadi bagian penting dalam perkembangan visual kei hingga mendunia.

Nah, 0.1g no Gosan adalah salah satu generasi baru yang membawa semangat itu ke era media sosial. Dengan style eksentrik dan musik yang enerjik, mereka berhasil menarik perhatian fans muda sekaligus mempertahankan budaya konser visual kei yang khas.

Video viral di Kabukicho ini pun jadi bukti kalau kultur visual kei masih hidup dan punya komunitas fanatik yang solid.

Baca Juga:

Netizen: “Kayak NPC Tapi Keren!”

Reaksi netizen pun beragam. Banyak yang mengaku kagum melihat kekompakan para fans, sementara yang lain bercanda menyebut suasana konser itu seperti “ritual rahasia anime” atau “NPC yang gerak bareng”.

Meski terdengar lucu, banyak juga yang akhirnya penasaran dan mulai mencari tahu tentang visual kei setelah video tersebut viral. Apalagi, sinkronisasi crowd dalam konser Jepang memang punya vibes yang berbeda dibanding konser rock atau metal di negara lain.

Kalau di festival Barat moshpit identik dengan chaos dan tabrakan antarpengunjung, konser visual kei Jepang justru terlihat lebih terstruktur. Semua orang tahu kapan harus bergerak, kapan harus lompat, bahkan kapan harus diam menikmati lagu.

Hal inilah yang bikin pengalaman konser visual kei terasa unik sekaligus artistik.

Kabukicho dan Budaya Musik Underground Jepang

Terpilihnya Kabukicho sebagai lokasi konser juga terasa sangat simbolis. Kawasan ini dikenal sebagai pusat hiburan malam Tokyo yang penuh neon, klub, live house, dan kultur underground Jepang.

Di balik gemerlapnya, Kabukicho sudah lama menjadi rumah bagi berbagai scene musik alternatif, termasuk visual kei. Jadi ketika ribuan fans memenuhi area tersebut untuk menyaksikan 0.1g no Gosan tampil gratis, suasananya terasa seperti representasi sempurna budaya pop Jepang modern.

Dan kini, berkat viralnya video headbang massal itu, dunia jadi kembali melirik betapa uniknya kultur konser di Jepang.

Siapa sangka, dari gerakan kepala yang sinkron, sebuah subkultur musik bisa kembali menarik perhatian global?