Hi Urbie’s! Di balik setiap proses kelahiran, selalu ada cerita tentang harapan, perjuangan, dan kehidupan baru. Namun, tak semua kisah berakhir bahagia. Angka kematian ibu di Indonesia masih menjadi sorotan, bahkan di tengah kabar penurunan yang sempat memberi secercah optimisme. Isu ini bukan sekadar statistik—ia menyangkut nyawa perempuan, masa depan keluarga, dan kualitas generasi bangsa. Lalu, sejauh mana Indonesia bergerak menuju target global 2030?
Penurunan yang Belum Cukup
Angka Kematian Ibu (AKI) memang menunjukkan tren menurun dalam beberapa tahun terakhir. Namun, menurut Ketua Umum Pengurus Pusat Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG, Subsp. FER, MPH, FRANZCOG (Hons), FICRM, capaian ini masih jauh dari target yang ditetapkan dalam Sustainable Development Goals (SDGs).
“Kalau ikut SDGs itu targetnya harus di bawah 70 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2030. Artinya, jumlah kematian ibu tidak boleh lebih dari 3.500 per tahun. Sekarang kita masih di angka 5.000-an,” ungkap Budi di acara konferensi pers POGI menghadirkan sebuah inisiatif bernama SPRIN (Selamatkan Perempuan Indonesia) bertepatan di peringatan hari Kartini di Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Fakta ini menempatkan Indonesia pada posisi yang belum aman. Bahkan, dengan angka sekitar 189 per 100.000 kelahiran hidup, Indonesia masih termasuk salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara.
Mengapa Ibu Masih Rentan?
Di balik angka-angka tersebut, terdapat berbagai faktor yang saling berkaitan. Salah satu yang paling mencolok adalah usia ibu saat hamil. Kehamilan di usia terlalu muda—bahkan di bawah 19 tahun—masih kerap terjadi. Di sisi lain, kehamilan di usia terlalu tua juga membawa risiko tinggi.
Tak hanya itu, frekuensi kehamilan yang terlalu sering tanpa perencanaan matang juga meningkatkan potensi komplikasi. Kondisi ini diperparah dengan masih adanya unmet need for contraception, di mana perempuan tidak mendapatkan akses atau informasi yang cukup terkait kontrasepsi.
Budi juga mengungkapkan fakta yang cukup mengkhawatirkan: “Sekitar 80 persen kematian ibu terjadi di fasilitas kesehatan atau rumah sakit, dan sebagian besar terjadi dalam 24 jam pasca persalinan. Ini menunjukkan kemungkinan rujukan yang terlambat, sehingga kondisi pasien sudah kritis saat ditangani.”
Bukan Hanya Fisik, Mental Juga Penting
Kehamilan bukan sekadar kesiapan fisik. Kesehatan mental juga memegang peran penting dalam memastikan ibu dan bayi tetap sehat. Persiapan sebelum kehamilan—baik dari sisi nutrisi, kondisi tubuh, hingga kesiapan psikologis—menjadi fondasi utama.
“Kehamilan harus dipersiapkan dengan baik. Ibu harus sehat, nutrisinya cukup, dan kondisi mentalnya juga stabil,” jelas Budi.

SPRIN: Gerakan Kolektif Selamatkan Perempuan Indonesia
Melihat kompleksitas masalah ini, POGI menghadirkan sebuah inisiatif bernama SPRIN (Selamatkan Perempuan Indonesia). Lebih dari sekadar program, SPRIN digagas sebagai gerakan nasional yang melibatkan berbagai sektor.
Baca Juga:
- Di Balik Manisnya Gula: Alarm Diabetes di Indonesia dan Pentingnya Edukasi
- Gila Sih! Telinga Bisa ‘Dicetak’ Pakai 3D Printing dan Langsung Berfungsi
- Harapan Baru Dunia Medis, Peneliti UNAIR Temukan Senyawa Antikanker dari Tanaman “Apa-apa”
“SPRIN bukan sekadar program, melainkan gerakan kolektif untuk mendorong perubahan nyata dan berkelanjutan. Kesehatan perempuan adalah fondasi utama pembangunan bangsa,” kata Budi.
Gerakan ini menargetkan berbagai aspek kesehatan reproduksi, mulai dari pencegahan hingga penanganan. Ada 10 fokus utama yang dirancang, di antaranya edukasi kesehatan reproduksi, suplementasi mikronutrien, hingga skrining dan vaksinasi HPV.
Namun, dari sekian banyak program, ada tiga fokus utama yang saat ini diprioritaskan:
- Suplementasi mikronutrien bagi perempuan
- Perencanaan dan pengawalan kehamilan hingga persalinan
- Vaksinasi HPV dan skrining kanker serviks
Harapan ke Depan
Menurunkan angka kematian ibu bukanlah tugas satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi antara tenaga kesehatan, pemerintah, hingga masyarakat. Edukasi yang tepat, akses layanan kesehatan yang merata, serta kesadaran perempuan terhadap kesehatan reproduksi menjadi kunci utama.
Pada akhirnya, setiap angka dalam statistik AKI merepresentasikan satu kehidupan. Dan setiap upaya yang dilakukan hari ini adalah investasi untuk masa depan generasi yang lebih sehat dan kuat.














































