Iklan
Home Entertainment Sinema Indonesia Bersinar di Cannes 2026! Reza Rahadian hingga Prilly Latuconsina Bawa...

Sinema Indonesia Bersinar di Cannes 2026! Reza Rahadian hingga Prilly Latuconsina Bawa 4 Film Pendek ke La Semaine de la Critique

0
16
Reza Rahadian hingga Prilly Latuconsina Bawa 4 Film Pendek ke La Semaine de la Critique - sumber foto Isitmewa
Reza Rahadian hingga Prilly Latuconsina Bawa 4 Film Pendek ke La Semaine de la Critique - sumber foto Isitmewa
Iklan

Hi Urbie’s! Kabar membanggakan kembali datang dari dunia perfilman Indonesia. Empat film pendek karya sineas Indonesia dipastikan akan tayang perdana atau world premiere di program Next Step Studio dalam ajang bergengsi Cannes Film Festival, tepatnya di program La Semaine de la Critique 2026.

Yang membuat proyek ini terasa spesial bukan hanya karena tampil di Cannes, tetapi juga karena seluruh film tersebut lahir dari kolaborasi sineas Indonesia dan Asia Tenggara.

Empat sutradara Indonesia yang terlibat adalah Reza Fahriyansyah, Shelby Kho, Reza Rahadian, dan Khozy Rizal.

Mereka berkolaborasi dengan sineas dari Malaysia, Myanmar, Filipina, hingga Singapura dalam sebuah proyek lintas negara yang menjadi sorotan perfilman internasional.

Dan jujur saja Urbie’s, ini bukan sekadar proyek film pendek biasa. Ini adalah langkah besar yang memperlihatkan bagaimana sinema Indonesia semakin diperhitungkan di panggung global.

Empat Film, Empat Cerita, Satu Panggung Dunia

Film pertama berjudul Holy Crowd disutradarai oleh Reza Fahriyansyah bersama sutradara Malaysia, Ananth Subramaniam.

Kemudian ada Original Wound karya Shelby Kho bersama sineas Myanmar Sein Lyan Tun.

Sementara Reza Rahadian berkolaborasi dengan sutradara Filipina Sam Manacsa lewat film Annisa.

Dan terakhir, Mothers Are Mothering disutradarai Khozy Rizal bersama sineas Singapura Lam Li Shuen.

Menariknya, proyek ini juga diperkuat jajaran aktor papan atas Indonesia.

Film Holy Crowd dibintangi Prilly Latuconsina, Yusuf Mahardika, Yudi Ahmad Tajudin, dan Arswendy Bening Swara.

Sementara Original Wound menghadirkan Agnes Naomi, Omara Esteghlal, dan Vivian Idris.

Film Annisa diperkuat Choirunnisa Fernanda, Nazira C. Noer, dan Shakeel Fauzi.

Sedangkan Mothers Are Mothering dibintangi Happy Salma, Asmara Abigail, serta Yudi Ahmad Tajudin.

Line-up pemain dan kru ini langsung membuat banyak pencinta film Indonesia semakin penasaran dengan kualitas empat film tersebut.

Reza Rahadian hingga Prilly Latuconsina Bawa 4 Film Pendek ke La Semaine de la Critique - sumber foto Isitmewa
Reza Rahadian hingga Prilly Latuconsina Bawa 4 Film Pendek ke La Semaine de la Critique – sumber foto Isitmewa

Sinematografer dan Kru Terbaik Indonesia Ikut Terlibat

Tidak hanya dari sisi sutradara dan pemain, proyek Next Step Studio Indonesia juga menghadirkan nama-nama besar di balik layar.

Sinematografer Vera Lestafa dipercaya mengarahkan visual untuk Holy Crowd dan Original Wound. Sementara Faozan Rizal menangani Annisa, dan Deska Binarso menggarap Mothers Are Mothering.

Di departemen artistik, ada Retno Ratih Damayanti sebagai penata kostum dan Sigit D. Pratama sebagai production designer.

Keseluruhan proyek ini diproduseri oleh Yulia Evina Bhara dan Amerta Kusuma dari KawanKawan Media.

Sementara jajaran produser eksekutif juga dipenuhi nama besar seperti Angga Dwimas Sasongko, Dian Sastrowardoyo, hingga Prilly Latuconsina.

Kolaborasi besar ini membuat Next Step Studio terasa seperti proyek ambisius yang benar-benar serius membawa sinema Indonesia ke level internasional.

Baca Juga:

Jakarta Jadi Bagian Ekosistem Sinema Global

Program Next Step Studio Indonesia sendiri menjadi bagian dari ekosistem internasional The Factory yang sejak 2013 mendukung lahirnya sineas baru dunia.

Tahun ini menjadi sangat spesial karena untuk pertama kalinya program tersebut berlangsung di Jakarta.

Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menyebut program ini sebagai momentum penting untuk memperkuat diplomasi budaya Indonesia melalui film.

Direktur Film, Musik, dan Seni Kementerian Kebudayaan, Irini Dewi Wanti, menegaskan bahwa pemerintah ingin terus membuka ruang bagi generasi baru pembuat film Indonesia agar mampu masuk ke jaringan perfilman global.

Tak hanya pemerintah pusat, dukungan juga datang dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyebut Jakarta tengah serius dipersiapkan menjadi “Kota Sinema”.

Menurutnya, semakin banyak produksi film internasional di Jakarta akan memberikan dampak ekonomi besar bagi sektor wisata, kuliner, hingga industri kreatif lainnya.

Reza Rahadian: Asia Tenggara Harus Saling Bertumbuh

Salah satu sosok yang paling mencuri perhatian tentu adalah Reza Rahadian.

Setelah sukses dengan debut feature film Pangku, Reza kini kembali membawa semangat baru lewat kolaborasi lintas negara di Next Step Studio.

Menurutnya, proyek ini bukan hanya tentang membuat film pendek, tetapi juga membangun komunikasi dan pertumbuhan bersama antar sineas Asia Tenggara.

Reza menyebut isu-isu dari kawasan Asia Tenggara kini semakin mendapat perhatian dunia internasional dan kolaborasi seperti ini menjadi kesempatan penting untuk memperkuat suara tersebut.

Cannes 2026 Jadi Momentum Besar Sinema Indonesia

Tahun ini menjadi edisi perdana Next Step Studio di La Semaine de la Critique Cannes Film Festival.

Dan fakta bahwa empat film karya sineas Indonesia langsung tampil di sana jelas menjadi pencapaian besar.

Bagi industri perfilman nasional, ini bukan hanya soal tampil di festival internasional. Ini tentang membuktikan bahwa cerita-cerita dari Indonesia punya tempat di panggung dunia.

Dan melihat semakin banyak sineas lokal masuk ke Cannes, rasanya masa depan sinema Indonesia memang sedang bergerak ke arah yang sangat menarik.

Iklan