Hi Urbie’s! Kalau kamu sempat scroll TikTok atau Instagram di awal November 2025, pasti ngeh dengan konten dari Leony Vitria yang tiba-tiba rajin banget update dari Jepang.
Mulai dari jalan-jalan, suasana kota, sampai daily vlog yang estetik—semuanya terlihat seperti liburan impian. Tapi ternyata, di balik itu semua, ada proyek besar yang sedang ia jalani.
Bukan sekadar traveling, Leony ternyata sedang menjalani proses syuting film terbarunya yang berjudul 10 Days in Machida: Ayah Kamu di Mana.
Dan yang bikin makin menarik, film ini bukan cuma soal cerita, tapi juga membawa isu yang dekat dengan banyak orang.
Kolaborasi Indonesia-Jepang yang Nggak Main-Main
Film ini menghadirkan kombinasi aktor dari Indonesia dan Jepang, menciptakan nuansa yang unik sekaligus autentik.
Selain Leony Vitria sebagai pemeran utama, deretan cast lainnya juga cukup mencuri perhatian. Ada Alexander Wlan, Nobuyuki Suzuki, Miyuki Sato, hingga aktris senior Paramitha Rusady.
Kombinasi ini tentu memberikan dinamika tersendiri dalam film, sekaligus memperkuat latar cerita yang memang berlangsung di Jepang.
Cerita Tentang Rindu yang Nggak Selesai
Di film ini, Leony memerankan karakter Kartika, seorang perempuan yang nekat pergi ke Jepang menjelang hari pernikahannya.
Bukan tanpa alasan, ia punya misi yang sangat personal: mencari ayahnya yang sudah lama hilang kontak.
Perjalanan ini membawanya ke sebuah kota kecil bernama Machida, tempat di mana ia berharap bisa menemukan jawaban atas pertanyaan yang selama ini menghantui hidupnya.
Selama sepuluh hari di sana, Kartika harus menghadapi kenyataan yang mungkin tidak sesuai dengan harapannya.
Dan di situlah konflik emosional mulai berkembang.
Angkat Isu Fatherless yang Dekat dengan Realita
Menurut sang sutradara, Ganank Dera, film ini tidak hanya bercerita tentang pencarian seseorang, tapi juga mengangkat isu yang lebih luas: fenomena “fatherless”.
“Fenomena ini bukan sekadar isu personal, tapi realitas sosial yang nyata,” ungkap Ganank.
Ia menyoroti bagaimana banyak keluarga Indonesia, khususnya sejak era 90-an, mengalami kondisi di mana sosok ayah tidak hadir secara utuh—baik karena pekerjaan di luar negeri maupun alasan lainnya.
Akibatnya, banyak anak tumbuh dengan cerita yang tidak lengkap.
Dan film ini mencoba masuk ke ruang emosional tersebut—ruang yang sering kali tidak dibicarakan secara terbuka.
Machida: Kota yang Punya Peran Emosional
Menariknya, pemilihan lokasi Machida bukan hanya soal visual.
Menurut Ganank, kota ini dipilih karena mampu merepresentasikan jarak emosional antara orang tua dan anak.
Machida digambarkan sebagai tempat yang tenang di permukaan, tapi menyimpan kesendirian yang dalam.
Dengan atmosfer yang dingin dan asing, kota ini menjadi “karakter tambahan” dalam cerita.
Bukan sekadar latar, tapi bagian dari emosi yang ingin disampaikan film.
Baca Juga:
- MK Hapus Pensiun Seumur Hidup DPR, Langkah Baru untuk Keadilan Anggaran?
- Waspada Urbie’s! 135 Ribu Lagu Palsu Serbu Platform Streaming, Musisi Dunia Jadi Korban AI Deepfake
- Trailer Spider-Man: Brand New Day Jadi yang Paling Banyak Ditonton Sepanjang Masa, Tembus 718 Juta Views
Tim Kreatif di Balik Layar
Di balik layar, film ini digarap oleh tim yang cukup solid.
Selain sebagai sutradara, Ganank Dera juga bertindak sebagai produser bersama Awe Bumi Dewata.
Sebelumnya, Ganank dikenal lewat karya seperti Samawa (2025) dan sebagai penulis skenario film Di Balik Pintu Kematian (2025).
Dengan pengalaman tersebut, ekspektasi terhadap film ini pun cukup tinggi.
Lebih dari Sekadar Drama
10 Days in Machida: Ayah Kamu di Mana bukan hanya drama biasa.
Film ini berbicara tentang jarak—baik secara geografis maupun emosional.
Tentang bagaimana seseorang berusaha memahami masa lalu, meski harus menghadapi kemungkinan bahwa kebenaran bisa menyakitkan.
Dan yang paling penting, tentang keberanian.
Keberanian untuk mencari, untuk menghadapi, dan mungkin… untuk memaafkan.
Comeback yang Dinanti
Buat Urbie’s yang tumbuh dengan melihat Leony Vitria sebagai penyanyi cilik, proyek ini terasa seperti fase baru dalam kariernya.
Dari dunia musik anak-anak hingga kini bermain dalam film dengan tema yang lebih kompleks, Leony menunjukkan perkembangan yang signifikan sebagai seorang aktris.
Dan lewat film ini, ia tidak hanya kembali ke layar, tapi juga membawa cerita yang punya makna lebih dalam.
Worth It Ditunggu?
Dengan kombinasi cerita yang emosional, isu yang relevan, serta kolaborasi lintas negara, film ini punya potensi besar untuk jadi salah satu karya yang impactful.
Apalagi, tema tentang keluarga dan pencarian jati diri selalu punya tempat di hati penonton.
Jadi, buat Urbie’s yang suka film dengan cerita menyentuh dan penuh refleksi, 10 Days in Machida jelas masuk daftar wajib tunggu.













































