Iklan
Home Highlight Rupiah Nyaris Tembus Rp 18.000 per Dollar AS, Pemerintah Serahkan Penanganan ke...

Rupiah Nyaris Tembus Rp 18.000 per Dollar AS, Pemerintah Serahkan Penanganan ke Bank Indonesia

0
325
ilustrasi Rupiah Nyaris Tembus Rp 18.000 per Dollar AS - sumber foto istimewa
ilustrasi Rupiah Nyaris Tembus Rp 18.000 per Dollar AS - sumber foto istimewa
Iklan Urbanvibes Banner
Iklan

Hi Urbie’s! Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan nasional setelah mata uang Garuda terus mengalami tekanan dalam beberapa hari terakhir. Bahkan, pada Kamis pagi (4/6/2026) pukul 05.52 WIB, kurs dollar Amerika Serikat (AS) dilaporkan sudah menyentuh angka Rp 18.001.

Angka tersebut langsung memicu kekhawatiran publik karena menjadi salah satu level terlemah rupiah dalam beberapa tahun terakhir. Apalagi sehari sebelumnya, tepatnya pada penutupan perdagangan Rabu (3/6/2026), rupiah tercatat melemah hingga 127,50 poin atau sekitar 0,71 persen ke posisi Rp 17.966 per dollar AS.

Situasi ini membuat perhatian pasar, pelaku usaha, hingga masyarakat umum tertuju pada langkah pemerintah dan Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

Namun menariknya, Menteri Keuangan sekaligus Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa penanganan pelemahan rupiah saat ini masih sepenuhnya menjadi wilayah Bank Indonesia sebagai otoritas moneter.

Pemerintah: “Biar Bank Indonesia Jalan Dulu”

Dalam keterangannya di Kompleks Parlemen pada Rabu (3/6/2026), Purbaya menjelaskan bahwa KSSK belum mengambil langkah khusus karena stabilisasi nilai tukar merupakan tugas utama bank sentral.

“Pertama itu kan jurisdiksi Bank Sentral untuk menjaga nilai tukar. Itu biar mereka jalan dulu. Nanti kita lakukan rapat berkala secara normal aja,” ujar Purbaya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pemerintah saat ini masih memberikan ruang kepada BI untuk menjalankan kebijakan moneternya terlebih dahulu sebelum dilakukan koordinasi lanjutan dalam skala lebih besar.

Meski demikian, Purbaya memastikan KSSK siap menggelar rapat cepat apabila memang dibutuhkan.

“Kalau kita bisa melihat ada koordinasi yang bisa ditingkatkan sehingga memperbaiki nilai tukar, kita akan lakukan. Tapi sekarang itu masih dalam jurisdiksi bank sentral kita. Kecuali Bank Sentral minta rapat cepat, ya kita akan rapat cepat,” katanya.

Pelemahan Rupiah Dipicu Sentimen Pasar?

Di tengah kekhawatiran masyarakat soal kondisi ekonomi nasional, Purbaya justru menilai bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen pasar dibandingkan faktor fundamental ekonomi Indonesia.

Menurutnya, berbagai rumor dan spekulasi yang berkembang di pasar ikut memperburuk pergerakan nilai tukar dalam waktu singkat.

Artinya, pelemahan rupiah bukan semata-mata disebabkan kondisi ekonomi domestik yang memburuk, tetapi juga karena faktor psikologis pasar global dan kekhawatiran investor.

Fenomena seperti ini sebenarnya cukup sering terjadi di dunia finansial. Ketika pasar mulai dipenuhi spekulasi negatif, investor cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman seperti dollar AS, sehingga mata uang negara berkembang termasuk rupiah ikut tertekan.

Dan dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian saat ini, tekanan terhadap mata uang emerging market memang semakin terasa.

Bantah Isu Stress Test Rupiah Rp 18.000

Di tengah gejolak kurs dollar, muncul pula rumor yang menyebut pemerintah meminta perbankan melakukan simulasi atau stress test terhadap kemungkinan rupiah melemah hingga di atas Rp 18.000 per dollar AS.

Namun Purbaya langsung membantah kabar tersebut.

Ia menegaskan bahwa pelemahan rupiah dalam satu hingga dua hari terakhir terjadi secara mendadak akibat berbagai spekulasi pasar, bukan karena adanya prediksi resmi pemerintah mengenai krisis nilai tukar.

Pernyataan ini cukup penting untuk meredam kepanikan publik maupun sektor keuangan. Sebab jika rumor tersebut dibiarkan berkembang, pasar bisa menjadi semakin sensitif dan memicu tekanan tambahan terhadap rupiah.

Baca Juga:

KSSK Tetap Pantau Kondisi Ekonomi Nasional

Walaupun menyerahkan stabilisasi kurs kepada BI, Purbaya memastikan bahwa koordinasi antar lembaga tetap berjalan rutin melalui KSSK.

Ia menjelaskan bahwa rapat tingkat deputi KSSK digelar setiap bulan untuk membahas perkembangan ekonomi nasional dan sektor keuangan.

Komite tersebut terdiri dari berbagai institusi penting seperti Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, OJK, hingga LPS. Tujuannya adalah memastikan stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap terjaga di tengah tekanan global.

Namun sekali lagi, Purbaya menekankan bahwa fokus utama pemerintah saat ini adalah memperkuat fundamental ekonomi nasional.

Menurutnya, kekuatan ekonomi domestik tetap menjadi faktor utama yang akan menentukan arah rupiah dalam jangka panjang.

Kenapa Dollar Menguat?

Urbie’s, menguatnya dollar AS sebenarnya bukan hanya terjadi terhadap rupiah saja. Banyak mata uang dunia saat ini mengalami tekanan akibat kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.

Beberapa faktor yang biasanya memengaruhi penguatan dollar antara lain:

  • Kebijakan suku bunga tinggi The Fed
  • Ketidakpastian geopolitik global
  • Arus modal keluar dari negara berkembang
  • Kekhawatiran resesi global
  • Spekulasi pasar terhadap kondisi ekonomi

Ketika investor global merasa situasi dunia sedang tidak stabil, mereka biasanya memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, dan dollar AS menjadi pilihan utama.

Akibatnya, permintaan dollar meningkat tajam dan nilai tukar mata uang lain ikut melemah.

Publik Mulai Khawatir Harga Naik

Pelemahan rupiah tentu bukan sekadar angka di layar monitor pasar uang. Dampaknya bisa langsung terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Jika dollar terus menguat, harga barang impor, gadget, bahan baku industri, hingga tiket perjalanan luar negeri berpotensi ikut naik. Bahkan beberapa sektor seperti otomotif, elektronik, dan pangan biasanya cukup sensitif terhadap fluktuasi kurs.

Karena itu, banyak masyarakat kini mulai memantau pergerakan dollar secara lebih serius.

Pertanyaan besarnya sekarang adalah: apakah rupiah akan benar-benar menembus lebih jauh di atas Rp 18.000?

Untuk saat ini, pasar masih menunggu langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas mata uang nasional.

Iklan