Home Lifestyle Inflasi Medis di Indonesia Tertinggi di Asia pada 2026, Allianz Ajak Masyarakat...

Inflasi Medis di Indonesia Tertinggi di Asia pada 2026, Allianz Ajak Masyarakat Perkuat Perlindungan Kesehatan

15
0
Iklan Top Ad Urbanvibes Banner

Hai Urbie’s, Inflasi medis di Indonesia terus menjadi perhatian karena berdampak langsung terhadap meningkatnya biaya layanan kesehatan. Berdasarkan laporan MMB Asia Health Trends 2026, inflasi medis di Indonesia diproyeksikan mencapai 17,8% pada 2026, tertinggi di Asia dan melampaui rata-rata kawasan yang sebesar 12,5%.

Meningkatnya biaya kesehatan tersebut mendorong masyarakat untuk semakin memahami faktor-faktor yang memengaruhi inflasi medis, mulai dari tingginya biaya penanganan penyakit kritis seperti penyakit jantung, perkembangan teknologi medis, hingga kenaikan harga obat dan alat kesehatan. Dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat diharapkan dapat mempersiapkan perlindungan kesehatan dan perencanaan keuangan jangka panjang secara lebih optimal.

Sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi mengenai inflasi medis dan pentingnya perlindungan kesehatan, Allianz Indonesia menggelar Media Workshop bertema “Menjaga Keberlanjutan Perlindungan Kesehatan di Tengah Kenaikan Biaya Medis.” Kegiatan ini menghadirkan perspektif dari praktisi medis dan industri asuransi guna memberikan pemahaman menyeluruh mengenai berbagai faktor yang mendorong kenaikan biaya layanan kesehatan.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr. Bayushi Eka Putra, Sp.JP(K), FIHA, menjelaskan bahwa penyakit tidak menular masih menjadi salah satu tantangan kesehatan utama di Indonesia. Salah satunya adalah penyakit jantung yang kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif. 

Menurutnya, kondisi ini dipengaruhi berbagai faktor risiko, seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, kurang aktivitas fisik, tingkat stress tinggi, pola makan tidak sehat, hingga kebiasaan merokok.

Lebih lanjut, dr. Bayushi menekankan, penanganan penyakit jantung juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit, mulai dari pemeriksaan awal, tindakan medis, penggunaan alat kesehatan, hingga terapi obat-obatan lanjutan. Risiko penyakit jantung bukan hanya berdampak pada kondisi kesehatan pasien, tetapi juga dapat memberikan tekanan finansial yang signifikan bagi individu maupun keluarga.

“Banyak faktor risiko penyakit jantung sebenarnya dapat dicegah dan dikendalikan sejak dini. Namun, ketika risiko terjadi, penanganannya sering kali membutuhkan tindakan yang kompleks dan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, kesadaran untuk menerapkan gaya hidup sehat, melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, mengenali faktor-faktor risiko yang dimiliki, serta mempersiapkan perlindungan kesehatan menjadi sangat penting,” ujar dr. Bayushi.

Ia menambahkan, kemajuan teknologi medis membantu meningkatkan kualitas diagnosis dan pengobatan. Dengan teknologi yang berkembang, dokter dapat melakukan deteksi lebih dini, menentukan tindakan medis yang tepat, dan meningkatkan hasil perawatan pasien. Namun di sisi lain, hal ini juga turut memengaruhi biaya layanan atau perawatan kesehatan.

Menurut dr. Bayushi, penyakit kritis tidak hanya memengaruhi kondisi kesehatan, tetapi juga dapat berdampak produktivitas, kualitas hidup, dan kondisi finansial yang signifikan. Oleh karena itu, upaya pencegahan, penanganan sejak dini, dan kesiapan perlindungan kesehatan sangat perlu diperhatikan.

Sementara itu, Head of Product Allianz Life Syariah Indonesia, Rina Triana menjelaskan bahwa meningkatnya biaya medis merupakan tantangan yang tengah dihadapi oleh seluruh ekosistem kesehatan, termasuk asuransi. Selain dipengaruhi inflasi dan perkembangan perawatan medis, tekanan terhadap biaya kesehatan juga dipengaruhi oleh dinamika ekonomi makro. Pelemahan nilai tukar rupiah dapat turut memengaruhi biaya layanan kesehatan, mengingatsebagian komponen obat dan alat kesehatan di Indonesia masih bergantung pada impor.

Berdasarkan data Allianz Indonesia, rata-rata biaya perawatan berbagai penyakit kritis pada periode 2020–2025 meningkat signifikan, seperti biaya perawatan penyakit jantung meningkat hingga 219%, kanker 179%, dan stroke 169%. Sepanjang tahun 2025, Allianz Life dan Allianz Syariah telah membayarkan total klaim dan manfaat sebesar Rp6,3 triliun, dengan Rp3,7 triliun di antaranya merupakan klaim kesehatan. 

“Ketika biaya layanan kesehatan terus meningkat, tantangannya bukan hanya menjaga masyarakat dapat memperoleh akses terhadap layanan yang berkualitas saat ini, tetapi juga memastikan perlindungan kesehatan tetap relevan dan dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan dalam jangka panjang,” ujar Rina.

Ia menjelaskan, penyesuaian di industri asuransi kesehatan merupakan bagian dari upaya untuk menjaga kecukupan manfaat dan keberlanjutan perlindungan, agar nasabah tetap dapat memperoleh akses terhadap layanan kesehatan yang dibutuhkan di tengah dinamika biaya medis yang terus berubah.

Menurutnya, perlindungan kesehatan perlu dipandang sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang. Penyakit kritis dapat berdampak tidak hanya pada biaya rawat inap, tetapi juga biaya pemulihan, pengobatan lanjutan, serta tindak lanjut medis dalamjangka panjang.

“Ke depan, tantangannya bukan hanya menghadirkan perlindungan kesehatan yang relevan dengan kebutuhan saat ini, tetapi juga memastikan manfaatnya tetap berkelanjutan di tengah perubahan lanskap kesehatan. Saat risiko kesehatan dan biaya perawatan terus meningkat, perlindungan kesehatan menjadisemakin penting sebagai bagian dari perencanaanjangka panjang keluarga,” ucap Rina.

“Untuk itu, dibutuhkan pemahaman dan kesiapan yang lebih baik agar masyarakat dapat terus memperoleh akses pada layanan kesehatan yang dibutuhkan tanpa mengorbankan kestabilan finansial di masa depan,” pungkasnya.