Halo, Urbie’s! Olivia Rodrigo kembali menjadi sorotan publik. Namun kali ini, perhatian bukan hanya tertuju pada karya musiknya, melainkan juga langkahnya dalam menyuarakan isu sosial dan mendorong partisipasi politik generasi muda. Penyanyi yang dikenal lewat lagu-lagu hits seperti drivers license, good 4 u, dan vampire ini memilih mengubah rasa kecewanya terhadap penggunaan lagunya oleh pemerintah menjadi sebuah gerakan yang lebih besar dan berdampak.
Kontroversi bermula ketika Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) Amerika Serikat menggunakan lagu “all-american bitch” milik Olivia Rodrigo dalam sebuah iklan yang mengajak imigran tanpa dokumen resmi untuk melakukan deportasi secara sukarela. Unggahan tersebut juga menampilkan tayangan penahanan imigran oleh petugas Imigrasi dan Bea Cukai (ICE), sehingga memicu kritik dari banyak pihak, termasuk Rodrigo sendiri.
Melalui akun media sosialnya, Olivia Rodrigo dengan tegas menolak penggunaan lagunya untuk kepentingan yang menurutnya bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Ia meminta agar musik ciptaannya tidak digunakan untuk mendukung propaganda yang dianggap penuh kebencian dan diskriminasi.
Dalam wawancaranya bersama majalah Dazed, Rodrigo mengaku sangat terganggu ketika pertama kali melihat unggahan tersebut. Sebagai seseorang yang memiliki darah keturunan Filipina dari keluarga besarnya, ia merasa isu imigrasi bukan sekadar topik politik, melainkan juga memiliki kedekatan secara personal. Menurutnya, penggunaan lagunya dalam kampanye tersebut membuat dirinya merasa marah sekaligus sedih melihat kondisi sosial yang terjadi.
Tak hanya itu, dalam wawancara bersama British Vogue, Olivia kembali menyinggung peristiwa tersebut. Ia bahkan menyebut penggunaan musiknya sebagai bentuk “persenjataan” terhadap karya seni yang ia ciptakan. Baginya, kejadian itu menjadi gambaran situasi yang terasa sangat distopia.
Alih-alih terus terjebak dalam kontroversi, Olivia Rodrigo memilih mengalihkan energinya menjadi aksi nyata. Ia bekerja sama dengan organisasi nirlaba HeadCount untuk menggelar program yang mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, agar lebih aktif dalam proses demokrasi.
Baca Juga:
- Desak Made Rita Resmi Jadi Atlet Panjat Tebing Speed Putri Nomor Satu Dunia!
- Bangga! Indomie Mi Goreng Jadi Mi Instan Terbaik Nomor 2 di Dunia 2026, Kalah Tipis dari Korea
- Geser Jepang, Wisatawan Cina Makin Kepincut Liburan ke Indonesia: Daerah Ini Alami Lonjakan Drastis!
Melalui program tersebut, para penggemar diajak memeriksa status pendaftaran pemilih, melakukan registrasi bagi yang belum terdaftar, hingga memperoleh berbagai informasi mengenai proses pemilu. Sebagai bentuk apresiasi, peserta berkesempatan memenangkan paket perjalanan lengkap menuju festival musik Daisy Chain Fields, termasuk tiket konser, transportasi, dan akomodasi.
Festival yang akan digelar pada 29 Agustus di Irvine, California, ini menjadi salah satu proyek paling ambisius Olivia Rodrigo. Tidak hanya menghadirkan deretan musisi perempuan ternama seperti Chappell Roan, Doechii, Mitski, Santigold, Sarah McLachlan, Bikini Kill, The Breeders, hingga Stevie Nicks, seluruh keuntungan bersih dari acara tersebut juga akan disumbangkan kepada berbagai organisasi yang berfokus pada pemberdayaan perempuan dan anak perempuan.
Menariknya, Daisy Chain Fields bukan hanya sekadar festival musik. Acara ini juga dirancang sebagai ruang edukasi dan aktivisme sosial. Berbagai organisasi nirlaba akan hadir untuk memberikan informasi mengenai hak reproduksi, kesehatan ibu, pemberdayaan ekonomi perempuan, hingga upaya pencegahan kekerasan dalam rumah tangga.
Beberapa organisasi yang disebut akan berpartisipasi di antaranya adalah Center for Reproductive Rights dan Planned Parenthood. Kehadiran mereka diharapkan dapat memperluas wawasan pengunjung mengenai berbagai isu sosial yang masih menjadi perhatian di Amerika Serikat.
Langkah Olivia Rodrigo menunjukkan bahwa seorang musisi memiliki pengaruh yang jauh melampaui dunia hiburan. Popularitas dapat dimanfaatkan untuk membangun kesadaran publik, mengajak masyarakat terlibat dalam demokrasi, sekaligus mendukung berbagai isu kemanusiaan yang dianggap penting.
Bagi banyak penggemarnya, tindakan Rodrigo menjadi contoh bagaimana figur publik dapat menyampaikan pendapat tanpa harus berhenti pada kritik semata. Ia memilih menciptakan ruang yang memungkinkan masyarakat berpartisipasi secara langsung dalam perubahan, mulai dari menggunakan hak pilih hingga mendukung organisasi sosial yang bergerak di bidang pemberdayaan perempuan.
Pada akhirnya, Olivia Rodrigo membuktikan bahwa musik tidak hanya menjadi media hiburan, tetapi juga dapat menjadi pemicu lahirnya gerakan sosial. Di tengah perdebatan politik yang semakin kompleks, ia memilih menjawab kontroversi melalui aksi positif yang mengajak generasi muda untuk lebih peduli terhadap masa depan masyarakat dan negaranya.






