Hi Urbie’s! Suatu pagi, seorang anak membantu ibunya yang telah berusia lebih dari 70 tahun bangun dari tempat tidur. Aktivitas sederhana itu mungkin terlihat biasa. Namun bagi banyak keluarga yang merawat lansia dengan mobilitas terbatas, ada satu hal yang sering luput dari perhatian: kondisi kulit yang terus menerima tekanan dalam waktu lama.
Di balik rutinitas mengganti pakaian, membantu makan, hingga menemani beristirahat, tersimpan risiko kesehatan yang dapat menurunkan kualitas hidup lansia, yakni luka dekubitus atau luka tekan.
Persoalan ini menjadi semakin relevan ketika Indonesia mulai memasuki fase ageing population. Berdasarkan data resmi Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk berusia 60 tahun ke atas diperkirakan telah mencapai sekitar 34,07 juta jiwa, atau sekitar 12 persen dari total populasi Indonesia.
Bertambahnya jumlah lansia tentu menjadi kabar baik karena menunjukkan meningkatnya angka harapan hidup. Namun, di sisi lain, kondisi tersebut juga menghadirkan tantangan baru, terutama dalam penyediaan layanan kesehatan dan sistem perawatan yang mampu menjaga kualitas hidup mereka.
Salah satu tantangan terbesar adalah tingginya kasus luka dekubitus. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan prevalensi luka dekubitus di Indonesia masih berada di atas 30 persen, menjadikannya salah satu masalah kesehatan yang tidak hanya memengaruhi kondisi fisik lansia, tetapi juga memberikan beban emosional dan fisik bagi keluarga maupun caregiver yang merawat mereka.
Mengapa Lansia Lebih Rentan Mengalami Luka Dekubitus?
Menurut Dr. dr. Windy Keumala Budianti, Sp.DVE., Subsp. DAI., FINSDV., FAADV, kulit lansia memiliki karakteristik yang membuatnya lebih mudah mengalami kerusakan apabila mendapat tekanan dalam waktu lama.
“Lansia berisiko mengalami luka dekubitus karena tekanan konstan akibat tubuh berada dalam satu posisi statis terlalu lama. Selain itu, paparan urin maupun kotoran secara berulang menyebabkan kelembapan meningkat, pH kulit berubah, dan fungsi pelindung kulit menjadi terganggu,” jelas Dr. Windy.
Ia menambahkan, kondisi kulit yang terus lembap membuat kulit lebih mudah mengalami maserasi, iritasi, erosi, hingga rentan terhadap gesekan (friction) maupun pergeseran (shear). Kombinasi faktor-faktor tersebut menjadi pemicu utama munculnya luka tekan.
Lima Langkah Praktis Mencegah Luka Dekubitus di Rumah
Merawat lansia tidak selalu membutuhkan tindakan medis yang rumit. Justru, langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten di rumah dapat membantu menurunkan risiko luka dekubitus.
Ns. Eka Widiati, M.Kep., Sp.Kep.An., ETN membagikan lima langkah yang dapat diterapkan keluarga maupun caregiver.
1. Ubah posisi tubuh setiap dua jam
Mengubah posisi secara berkala membantu mengurangi tekanan pada titik-titik tumpu tubuh yang berisiko mengalami luka.
2. Periksa kondisi kulit setiap hari
Pemeriksaan rutin memungkinkan tanda-tanda awal kemerahan atau iritasi segera diketahui sehingga dapat ditangani lebih cepat.
3. Hindari memijat area yang mulai memerah
Area kemerahan justru menandakan adanya tekanan pada jaringan. Memijat bagian tersebut dapat memperparah kerusakan jaringan di bawah kulit.
4. Pastikan tempat tidur selalu bersih dan kering
Sprei yang rapi, tidak lembap, dan bebas lipatan membantu mengurangi gesekan yang dapat memicu luka.
5. Pilih popok dewasa yang mampu menjaga kulit tetap kering
“Ketepatan memilih popok dewasa menjadi bagian penting dalam menjaga area kulit tetap kering, tidak pengap, serta mengurangi kelembapan berlebih yang dapat meningkatkan risiko luka dekubitus,” ujar Eka.
Baca Juga:
- Tren Slow Jogging Makin Populer di Korea, Cocok untuk Semua Usia
- Anak Takut Nebulizer? Omron Hadirkan Alat Terapi Inhalasi Portable yang Senyap dan Praktis
- Sering Begadang dan Ngopi? Kisah dari Vietnam Ini Jadi Alarm Buat Gen Z Indonesia Soal Hipertensi
Menjaga Kesehatan Kulit Lewat Inovasi Produk
Menjaga kelembapan kulit menjadi salah satu faktor penting dalam pencegahan luka tekan. Karena itu, inovasi produk pendukung perawatan lansia terus berkembang.
Lifree tipe perekat menghadirkan tiga pendekatan yang dirancang untuk membantu menjaga kesehatan kulit lansia, yakni menggunakan material yang 100 persen bersirkulasi udara (breathable) sehingga panas tubuh dapat keluar dan kulit tetap nyaman, teknologi jalur serap aktif yang mampu menyerap urin secara cepat dan merata hingga pemakaian maksimal 12 jam, serta perekat yang tetap kuat meski telah dilepas dan dipasang kembali hingga 10 kali.
Pendekatan tersebut ditujukan untuk membantu menjaga area kulit tetap kering sehingga risiko iritasi akibat kelembapan dapat diminimalkan.
Edukasi Menjadi Kunci Perawatan Lansia yang Lebih Baik
Presiden Direktur Unicharm Indonesia, Yasutaka Nishioka, mengatakan perusahaan tidak hanya berfokus menghadirkan inovasi produk, tetapi juga memperluas edukasi mengenai perawatan lansia.
“Unicharm memiliki misi mewujudkan masyarakat simbiosis Indonesia yang sehat, mandiri, nyaman, dan bahagia melalui produk penyerapan berkualitas seperti Lifree dan produk unggulan lainnya. Setelah meluncurkan popok dewasa pertama dengan teknologi 100 persen breathable pada 2024 dan memperoleh bukti ilmiah melalui riset klinis bersama CRSU-FKUI pada 2025 yang menunjukkan Lifree tipe perekat terbukti dapat memperbaiki kondisi kulit, tahun ini kami melangkah lebih jauh dengan mengedukasi lebih dari 1.000 tenaga medis melalui kolaborasi Webinar Nasional bersama PPNI,” ujar Nishioka.
Ia menambahkan bahwa inovasi produk harus berjalan beriringan dengan peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai cara merawat lansia secara tepat.
“Melalui inovasi produk berkualitas tinggi serta edukasi berkelanjutan bersama para ahli, kami ingin berkontribusi mewujudkan nol luka dekubitus di Indonesia demi menjaga kehidupan lansia yang sehat dan bermartabat.”
Merawat Lansia Bukan Sekadar Membantu Beraktivitas
Meningkatnya jumlah lansia di Indonesia menjadi pengingat bahwa perhatian terhadap kualitas hidup mereka perlu terus diperkuat. Merawat lansia bukan hanya memastikan kebutuhan sehari-hari terpenuhi, tetapi juga menjaga kesehatan kulit, mencegah luka tekan, serta menciptakan lingkungan yang nyaman agar mereka dapat menjalani masa tua dengan sehat, aktif, dan tetap bermartabat.



