Home Lifestyle Tunas Community Hub Hadir, Menjawab Tantangan Parenting di Era Digital

Tunas Community Hub Hadir, Menjawab Tantangan Parenting di Era Digital

25
0
Gembira Parenting adakan event Tunas Community Hub - Sumber foto Gembira Parenting
Gembira Parenting adakan event Tunas Community Hub - Sumber foto Gembira Parenting

Hi Urbie’s! Di era ketika layar gawai menjadi “teman bermain” paling dekat bagi anak-anak, peran orang tua atau parenting kini berada di fase paling krusial. Data menunjukkan sekitar 40% pengguna internet di Indonesia—setara lebih dari 110 juta jiwa—adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan realitas bahwa dunia digital telah menjadi ruang tumbuh generasi masa depan.

Namun, internet bukanlah ruang yang sepenuhnya aman. Di balik manfaat edukasi dan hiburan, tersimpan risiko serius mulai dari penipuan digital, paparan konten tidak layak, hingga kejahatan berbasis online seperti child grooming. Menjawab tantangan besar inilah Gembira Parenting resmi memperkenalkan Tunas Community Hub, sebuah wadah berbasis komunitas yang dirancang untuk membersamai orang tua dalam menjaga anak di dunia digital.

Peluncuran Tunas Community Hub dikemas dalam acara bertajuk “Road to Tunas Community Hub” yang digelar pada Kamis (29/1) di Sekolah Tanah Tingal, Tangerang Selatan. Inisiatif ini menjadi perpanjangan tangan dari gerakan PP Tunas (Tunggu Anak Siap)—sebuah kampanye yang mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesiapan usia dan mental anak sebelum terjun sepenuhnya ke ekosistem digital.

Komunitas sebagai Ruang Aman Orang Tua

Tunas Community Hub hadir bukan sekadar sebagai program, melainkan ruang bernaung bagi orang tua. Di sinilah mereka bisa berbagi pengalaman, berdiskusi, hingga mendapatkan panduan konkret seputar digital parenting. Hingga saat ini, tercatat 43 komunitas dari berbagai daerah di Indonesia serta 42 sekolah di wilayah Jabodetabek telah bergabung dan menyatakan komitmen melalui penandatanganan Surat Pernyataan Dukungan.

Kolaborasi ini menegaskan satu hal penting: perlindungan anak di ruang digital bukan hanya tanggung jawab keluarga, tetapi juga komunitas dan institusi pendidikan. Sinergi lintas sektor menjadi kunci agar anak-anak tidak dibiarkan menjelajah dunia digital tanpa kompas yang jelas.

Dunia Digital Tak Lagi Netral

Dalam forum diskusi, hadir mewakili Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi), Bonifasius Wahyu Pujianto, Ph.D., Kepala BPSDM Komdigi, yang secara gamblang mengingatkan bahwa internet bukanlah ruang steril.

“Ranah digital tidak bersih seperti kertas putih. Penipuan digital, kejahatan seksual berbasis online, hingga child grooming adalah ancaman nyata yang berdampak langsung pada psikologis anak,” tegas Bonifasius.

Ia menekankan pentingnya literasi digital melalui program CABE (Cakap, Aman, Budaya, dan Etika Digital) sebagai fondasi perlindungan anak. Menurutnya, risiko digital bersifat nyata dan personal, sehingga membutuhkan kesiapan mental, bukan sekadar larangan penggunaan gawai.

Gembira Parenting adakan event Tunas Community Hub - Sumber foto Gembira Parenting
Gembira Parenting adakan event Tunas Community Hub – Sumber foto Gembira Parenting

Baca Juga:

Orang Tua Tak Boleh Berjuang Sendirian

Sejalan dengan itu, Reza Imran Yanuar, Founder Gembira Parenting, menegaskan bahwa Tunas Community Hub lahir dari kesadaran bahwa orang tua adalah garda terdepan perlindungan anak—namun tidak seharusnya berjalan sendirian.

“Kami melihat masih banyak orang tua yang bingung harus berperan seperti apa. Isu digital ini terlalu besar jika ditangani sendiri. Karena itu, Tunas Community Hub kami hadirkan sebagai komunitas yang membersamai orang tua dalam parenting journey,” jelas Reza.

Saat ini, Gembira Parenting telah membersamai lebih dari 2.500 member, mempertemukan orang tua dengan para ahli, praktisi pendidikan, dan sesama orang tua yang memiliki keresahan serupa.

Mengubah Pola Asuh di Era Digital

Perspektif lain disampaikan oleh Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, tokoh perempuan sekaligus Anggota DPR RI. Ia menyoroti kesalahan umum pola asuh yang masih banyak terjadi, yakni fenomena “baby forever”—menganggap anak harus selalu dijauhkan dari masalah.

“Anak bukan sosok yang harus terus dilindungi dari dunia. Mereka calon pemimpin masa depan. Jika ingin mereka siap, kita harus membekali mereka dengan kemampuan menghadapi konsekuensi, memberi pilihan, dan mendampingi dengan empati,” ujarnya.

Menurut Rahayu, orang tua dan guru wajib memiliki kedekatan dengan dunia digital agar bisa menjadi pendamping yang relevan, bukan sekadar pengawas dari kejauhan.

Ekosistem Hangat untuk Masa Depan Anak

Diskusi semakin kaya dengan kehadiran Alfreno Kautsar Ramadhan (Staf Khusus Menteri Komdigi RI) dan Husnul Khotimah (Praktisi Pendidikan) yang sepakat bahwa kolaborasi lintas sektor adalah jalan terbaik menghadapi tantangan digital.

Ke depan, Tunas Community Hub diharapkan menjadi ekosistem yang hangat, kolaboratif, dan berkelanjutan—tempat orang tua tidak hanya belajar, tetapi juga saling menguatkan. Di tengah dunia digital yang tanpa batas, kehadiran, kedekatan, dan pendampingan nyata menjadi penjagaan terbaik bagi anak-anak.

Bagi Urbie’s yang ingin mengetahui lebih lanjut atau bergabung sebagai partner, informasi pendaftaran TUNAS Community Hub dapat diakses melalui INI