Home Highlight China Puncaki Negara dengan Rata-Rata IQ Tertinggi Dunia, Indonesia di Peringkat Berapa?

China Puncaki Negara dengan Rata-Rata IQ Tertinggi Dunia, Indonesia di Peringkat Berapa?

52
0
China Puncaki Negara dengan Rata-Rata IQ Tertinggi Dunia, Indonesia di Peringkat Berapa?
Foto: Freepik

Hi Urbie’s,
Peringkat kecerdasan global kembali menjadi bahan perbincangan setelah data terbaru menunjukkan dominasi kuat negara-negara Asia Timur dalam daftar peringkat rata-rata IQ tertinggi di dunia. China menempati posisi pertama dengan skor sekitar 107,19, disusul Taiwan dengan rata-rata IQ 107,10 dan Hong Kong di angka 107,06. Korea Selatan dan Jepang berada tepat di belakangnya dengan skor masing-masing sekitar 106,43 dan 106,40. Angka-angka ini memperkuat narasi lama bahwa kawasan Asia Timur memiliki fondasi kuat dalam pengembangan kecerdasan dan sumber daya manusia.

Dominasi ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara instan. Banyak peneliti dan pengamat pendidikan menilai bahwa sistem pendidikan yang kompetitif menjadi salah satu faktor utama. Di China, Jepang, dan Korea Selatan, pendidikan bukan hanya dianggap sebagai kebutuhan dasar, tetapi sebagai jalur utama mobilitas sosial. Sejak usia dini, anak-anak sudah terbiasa dengan ritme belajar yang terstruktur, standar akademik yang tinggi, serta ekspektasi keluarga dan masyarakat yang besar terhadap prestasi akademik.

Selain sistem pendidikan, budaya belajar juga memegang peranan penting. Di banyak negara Asia Timur, nilai kedisiplinan, ketekunan, dan kerja keras ditanamkan sejak kecil. Proses belajar tidak selalu dipandang sebagai beban, melainkan sebagai bagian dari tanggung jawab moral terhadap keluarga dan masa depan. Tidak heran jika investasi waktu dan energi untuk pendidikan di kawasan ini tergolong sangat tinggi, baik di dalam maupun di luar ruang kelas.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah keseriusan negara dalam investasi pengembangan sumber daya manusia. Pemerintah di kawasan Asia Timur cenderung menempatkan pendidikan, riset, dan sains sebagai prioritas utama pembangunan nasional. Mulai dari kualitas guru, kurikulum berbasis sains dan matematika, hingga dukungan terhadap inovasi teknologi, semuanya dirancang untuk menciptakan generasi yang adaptif dan kompetitif secara global.

Di sisi lain, data ini juga memunculkan refleksi bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Dalam peringkat global, Indonesia berada di posisi ke-100 dengan rata-rata IQ sekitar 93,18. Angka ini menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan Singapura yang memiliki rata-rata IQ sekitar 105,14, atau dengan negara-negara Asia Timur lainnya.

Baca Juga:

Namun, Urbie’s, penting untuk dipahami bahwa IQ bukanlah satu-satunya tolok ukur kecerdasan manusia. Kecerdasan emosional, kreativitas, kemampuan sosial, hingga adaptasi budaya juga memiliki peran besar dalam menentukan kualitas individu dan bangsa. Meski demikian, data IQ tetap relevan sebagai indikator kualitas gizi, akses pendidikan, serta pemerataan pembangunan manusia.

Banyak pakar menilai bahwa skor IQ suatu negara sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor dasar seperti nutrisi pada masa kanak-kanak, kualitas pendidikan dasar, serta lingkungan belajar yang sehat. Dalam konteks Indonesia, tantangan seperti stunting, ketimpangan akses pendidikan antarwilayah, dan kualitas pengajaran masih menjadi pekerjaan rumah besar yang perlu diselesaikan secara berkelanjutan.

Alih-alih melihat data ini sebagai vonis, peringkat IQ global seharusnya menjadi cermin untuk memperkuat kebijakan pembangunan manusia. Investasi pada gizi anak, peningkatan kualitas guru, serta sistem pendidikan yang lebih inklusif dan relevan dengan kebutuhan zaman menjadi langkah krusial. Dengan pendekatan yang konsisten dan berorientasi jangka panjang, potensi kecerdasan generasi muda Indonesia tetap sangat besar untuk berkembang.

Pada akhirnya, Urbie’s, dominasi Asia Timur dalam peringkat IQ dunia menunjukkan bahwa kecerdasan adalah hasil dari proses panjang yang melibatkan budaya, kebijakan, dan komitmen kolektif. Bagi Indonesia, data ini bisa menjadi pemicu diskusi yang sehat tentang masa depan pendidikan dan kualitas sumber daya manusia, bukan sekadar perbandingan angka semata.