Hi Urbie’s! Bagi pencinta musik Melayu, nama Cindai tentu bukan sekadar judul lagu. Karya yang dipopulerkan oleh Datuk Siti Nurhaliza ini telah menjadi salah satu lagu Melayu paling ikonik di Asia Tenggara. Melodinya yang megah, liriknya yang puitis, serta vokal khas Siti membuat “Cindai” bertahan lintas generasi dan masih sering diputar hingga sekarang.
Kini, hampir tiga dekade sejak pertama kali memikat hati pendengar, “Cindai” kembali hadir dengan wajah baru. Penyanyi dangdut dan musisi Melayu Alfin Habib memberikan interpretasi berbeda terhadap lagu legendaris tersebut. Yang menarik, lagu yang selama ini identik dengan sudut pandang perempuan kini dibawakan dari perspektif seorang laki-laki, tanpa menghilangkan jiwa Melayu yang menjadi identitas utamanya.
Bagi Alfin, proyek ini bukan sekadar menyanyikan ulang lagu populer. Ia ingin memberikan penghormatan kepada karya besar yang telah menjadi bagian penting dalam sejarah musik Melayu.
“Cindai”, Lagu yang Tak Pernah Lekang oleh Waktu
Sejak dirilis dan dipopulerkan oleh Siti Nurhaliza, “Cindai” telah menjadi salah satu lagu yang dianggap sebagai mahakarya musik Melayu modern.
Lagu ini dikenal memiliki komposisi yang tidak mudah dibawakan. Dibutuhkan teknik vokal yang kuat, penguasaan cengkok Melayu, hingga kemampuan menyampaikan emosi yang mendalam agar pesan dalam lagu benar-benar sampai kepada pendengar.
Tak heran jika selama bertahun-tahun, hanya sedikit penyanyi yang berani menginterpretasikan ulang lagu tersebut.
Karena itu, ketika Alfin Habib mendapat kesempatan membawakan “Cindai”, ia mengaku sempat tidak percaya.
“Saat pertama kali mendapatkan kesempatan membawakan ‘Cindai’, saya benar-benar speechless dan sempat tidak percaya. Lagu ini adalah karya legendaris yang dipopulerkan oleh Datuk Siti Nurhaliza, sehingga tantangannya terasa sangat besar,” ungkap Alfin.
Tantangan Membawakan “Cindai” dari Sudut Pandang Laki-Laki
Menurut Alfin, tantangan terbesar bukan berasal dari teknik vokal.
Justru yang paling sulit adalah menerjemahkan makna lagu yang selama ini begitu lekat dengan perspektif perempuan agar tetap terasa alami ketika dinyanyikan oleh seorang laki-laki.
Alih-alih mengubah struktur lagu, Alfin memilih mempertahankan melodi asli yang telah menjadi kekuatan utama “Cindai”. Ia hanya menghadirkan interpretasi emosional yang berbeda sehingga pendengar dapat merasakan nuansa baru tanpa kehilangan esensi lagu.
Pendekatan tersebut membuat versi terbaru “Cindai” terasa lebih personal, sekaligus memberikan sudut pandang baru bagi pendengar yang telah mengenal lagu ini selama bertahun-tahun.
Aransemen Modern Tanpa Kehilangan Roh Musik Melayu
Fenomena menghidupkan kembali lagu-lagu lawas memang tengah menjadi tren di industri musik. Banyak karya klasik mendapat sentuhan aransemen baru agar lebih relevan dengan selera generasi muda.
Hal itulah yang mendorong Alfin untuk menghadirkan “Cindai” dalam balutan musik yang lebih segar.
Baca Juga:
- Viral! Ibu Mengaku Dipaksa Turunkan Stroller Lewat Eskalator di Hotel Bintang Lima Jakarta, Warganet Pertanyakan Standar Keselamatan
- Kupang ke Timor Leste Jalur Darat? Ini Tips Ampuh Anti-Mual Biar Perjalanan 12 Jam Tetap Seru!
- Menemukan “Surga” Tersembunyi di Telaga Nirwana Rote, NTT (Plus Tips Biar Gak Gosong!)
Meski demikian, ia memastikan bahwa karakter Melayu tetap menjadi fondasi utama lagu tersebut.
“Sekarang banyak lagu lama yang diaransemen ulang dengan sentuhan modern. Saya merasa ini adalah waktu yang tepat untuk menghadirkan kembali ‘Cindai’ dalam versi yang lebih segar, namun tetap mempertahankan nuansa Melayu yang menjadi jiwanya,” ujar Alfin.
Ia juga menegaskan bahwa unsur cengkok, senandung, serta karakter instrumen Melayu tetap dipertahankan agar identitas musikal “Cindai” tidak memudar.
Pengalaman Bermusik Jadi Modal Besar
Di balik aransemen barunya, Alfin ternyata memiliki bekal yang cukup kuat.
Selain dikenal sebagai penyanyi, pria kelahiran 1993 ini juga merupakan seorang multi-instrumentalis. Ia menguasai berbagai alat musik seperti biola, akordeon, piano, saksofon, hingga gitar.
Kemampuan tersebut membuatnya lebih mudah memahami struktur musik Melayu secara menyeluruh, mulai dari harmoni, dinamika, hingga nuansa emosional yang ingin disampaikan dalam lagu.
Pengalaman itu pula yang membantunya menjaga keseimbangan antara sentuhan modern dan karakter klasik “Cindai”.
Tetap Setia di Jalur Musik Melayu
Sebelum merilis “Cindai”, Alfin telah lebih dulu dikenal melalui sejumlah karya seperti “Permaisuri Hatiku” dan “Hilang Saat Terang”.
Namanya mulai dikenal publik setelah mengikuti ajang pencarian bakat D’Academy musim ketiga, sebelum akhirnya bergabung bersama Sony Music Entertainment Indonesia.
Di tengah dominasi musik pop, EDM, hingga hip-hop di platform digital, Alfin justru memilih tetap konsisten mengembangkan musik Melayu.
Menurutnya, genre tersebut memiliki identitas yang kuat sekaligus mampu mengikuti perkembangan zaman.
“Musik Melayu membentuk perjalanan karier saya sampai hari ini. Walaupun saya sering membawakan berbagai genre saat tampil, orang tetap mengenal saya lewat warna Melayu yang menjadi ciri khas saya,” katanya.
Konsistensi itulah yang membuat Alfin mendapat julukan “Lord of Melayu” dari para penggemarnya.
Menghubungkan Generasi Lama dan Pendengar Baru
Melalui versi terbaru “Cindai”, Alfin memiliki harapan sederhana namun bermakna.
Ia ingin lagu ini menjadi ruang nostalgia bagi mereka yang tumbuh bersama suara merdu Siti Nurhaliza, sekaligus menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal keindahan musik Melayu.
Menurutnya, musik Melayu tidak pernah kehilangan pesonanya. Dengan pendekatan yang tepat, genre ini masih memiliki tempat di industri musik modern dan mampu diterima oleh pendengar lintas usia.
“Untuk pendengar yang tumbuh bersama ‘Cindai’, saya berharap lagu ini bisa menjadi ruang bernostalgia dengan nuansa yang baru. Sementara bagi generasi muda yang mungkin baru mengenal lagu ini, semoga versi ini bisa menjadi jembatan untuk melihat bahwa musik Melayu tetap indah dan dapat dinikmati semua kalangan,” tutup Alfin.
Dengan interpretasi baru yang tetap menghormati karya asli, “Cindai” kembali membuktikan bahwa lagu legendaris tak pernah benar-benar usang. Sebaliknya, ia terus menemukan cara untuk hidup di setiap generasi, menghadirkan kisah yang sama indahnya, namun dengan warna yang selalu baru.













































