Home Lifestyle Pesta Folka 2 “Generasi Kebaya” Bawa Kebaya ke Gaya Hidup Anak Muda,...

Pesta Folka 2 “Generasi Kebaya” Bawa Kebaya ke Gaya Hidup Anak Muda, Siap Ekspansi ke Singapura dan Malaysia

18
0
Pesta Folka 2 “Generasi Kebaya” Bawa Kebaya ke Gaya Hidup Anak Muda, Siap Ekspansi ke Singapura dan Malaysia
Pesta Folka 2 “Generasi Kebaya” Bawa Kebaya ke Gaya Hidup Anak Muda, Siap Ekspansi ke Singapura dan Malaysia. Foto: istimewa
Iklan Top Ad Urbanvibes Banner

Urbies, perkembangan kebaya dan wastra Nusantara di kalangan generasi muda kini tidak lagi sekadar dipandang sebagai upaya pelestarian budaya. Keduanya mulai berkembang menjadi bagian dari gaya hidup, personal expression, hingga ekosistem industri kreatif yang semakin relevan dengan kehidupan anak muda.

Semangat tersebut terasa dalam talkshow dan konferensi bertajuk “Kebaya Goes Beyond: From Cultural Heritage to Youth Movement” yang menjadi bagian dari Pesta Folka Vol. 2 “Generasi Kebaya” di Urban Forest, Cipete, Jakarta, pada 29 Agustus 2026.

Hadir dalam agenda tersebut Founder Folkakomunal Sara Tobing dan Founder Kebaya Widuri, yang membahas bagaimana kebaya dan wastra dapat terus diperkenalkan kepada generasi baru melalui pendekatan yang lebih santai, kreatif, dan dekat dengan keseharian.

Pesta Folka sendiri merupakan salah satu inisiatif dari Folkacommunal Kreasi Sukaria yang sejak 2019 membangun ruang bagi brand lokal untuk bertemu dengan audiens secara langsung. Namun, bagi Sara Tobing, sebuah market tidak cukup hanya menjadi tempat transaksi antara penjual dan pembeli.

Lahirnya Pesta Folka juga memiliki hubungan personal dengan kecintaan Sara terhadap kebaya dan wastra. Ia mengaku memiliki kedekatan dengan busana dan kain tradisional tersebut sejak melihat koleksi milik mendiang sang ibu.

Pesta Folka 2 “Generasi Kebaya” Bawa Kebaya ke Gaya Hidup Anak Muda, Siap Ekspansi ke Singapura dan Malaysia
Talkshow Pesta Folka 2 “Generasi Kebaya” di Urban Forest Cipete. Foto: Adi/urbanvibes

Sebagai bagian dari keluarga Batak, Sara terbiasa melihat kebaya dan wastra digunakan dalam berbagai kesempatan. Namun, setelah sang ibu meninggal, ketertarikannya terhadap kebaya dan wastra sempat ikut terlupakan.

Perhatiannya kemudian kembali muncul ketika melihat semakin banyak anak muda yang mulai mengenakan kebaya dan wastra. Fenomena tersebut memperlihatkan adanya perubahan cara generasi muda memandang budaya tradisional.

Kebaya tidak lagi harus identik dengan acara formal. Anak muda mulai bereksperimen dengan cara memakai, memadukan, dan melakukan styling kebaya agar sesuai dengan karakter personal mereka.

“From wearing kebaya, to building a movement, to growing the creative economy, to bringing Indonesian creativity to the world,” ujar Sara Tobing dalam konferensi tersebut.

Semangat itu juga diwujudkan melalui program Dara Berkebaya, yang mendorong penggunaan kebaya dalam berbagai casual occasions. Tujuannya bukan hanya mengajak masyarakat untuk mengenakan kebaya, tetapi menjadikan kebaya sebagai bagian dari cultural movement yang tumbuh bersama generasi muda.

Pesta Folka Vol. 2 “Generasi Kebaya” turut menyediakan berbagai pengalaman yang memungkinkan pengunjung berinteraksi langsung dengan kebaya. Salah satunya melalui styling kebaya station, tempat pengunjung dapat mencoba berbagai gaya kebaya yang lebih modern dan sesuai dengan karakter anak muda.

Konsep experience tersebut menjadi penting karena pengunjung tidak hanya melihat kebaya sebagai objek budaya, tetapi dapat mencoba dan merasakan langsung bagaimana busana tersebut bisa digunakan dalam keseharian.

Membuka Ruang bagi Industri Kreatif Lokal

Dalam membangun gerakan tersebut, Pesta Folka juga melibatkan berbagai pelaku industri kreatif dan brand lokal. Salah satunya adalah Kebaya Widuri, yang hadir sebagai representasi brand lokal yang terus mengembangkan kebaya melalui desain dan interpretasi yang lebih dekat dengan kebutuhan generasi saat ini.

Kehadiran brand lokal menjadi bagian penting dalam perjalanan kebaya sebagai cultural movement. Pasalnya, keberlanjutan budaya juga membutuhkan ekosistem kreatif yang mampu menerjemahkan warisan tradisional menjadi produk yang memiliki daya tarik bagi pasar masa kini.

Dengan demikian, kebaya tidak hanya diposisikan sebagai warisan budaya yang harus dijaga, tetapi juga sebagai ruang kreativitas yang dapat membuka peluang bagi desainer, brand lokal, komunitas, hingga pelaku industri kreatif lainnya.

Pendekatan tersebut sejalan dengan visi Folkacommunal yang ingin mempertemukan creative brands, cultural movement, komunitas, dan generasi muda melalui berbagai pengalaman.

Selain Pesta Folka, Folkacommunal juga memiliki IP lain seperti Sukaria Market dan Trinkieland. Ketiganya membawa pendekatan berbeda, tetapi tetap berangkat dari prinsip menghadirkan pengalaman, membangun koneksi, serta mempertemukan masyarakat dengan kreativitas lokal.

Baca juga:

Pesta Folka Siap Ekspansi ke Singapura dan Malaysia

Semangat membawa budaya Nusantara kepada audiens yang lebih luas kemudian berlanjut dengan rencana ekspansi regional Pesta Folka dan Folkacommunal.

Dalam konferensi pers tersebut, Folkacommunal mengumumkan dua agenda besar di kawasan Asia Tenggara. Pertama, Rooang x Pesta Folka yang berkolaborasi dengan @laloolalang dan akan berlangsung pada 24–25 Oktober 2026 di Aliwal Arts Centre, Singapura.

Agenda kedua adalah Sukaria Market Malaysia yang dijadwalkan berlangsung pada 30 Oktober–1 November 2026 di JAMPJ, Malaysia.

Melalui dua agenda tersebut, Folkacommunal tidak hanya membawa konsep event dari Indonesia, tetapi juga berupaya memperkenalkan local brands dan pengalaman kreatif Nusantara kepada audiens regional.

Ekspansi ini menjadi langkah lanjutan dari gerakan yang sebelumnya dibangun melalui Pesta Folka di Jakarta. Kebaya, wastra, brand lokal, serta berbagai pengalaman kreatif Indonesia diharapkan dapat memiliki ruang yang lebih luas untuk dikenal oleh masyarakat Asia Tenggara.

Budaya yang Dekat dengan Anak Muda

Pesta Folka Vol. 2 “Generasi Kebaya” berlangsung pada 29–30 Agustus 2026 di Urban Forest, Cipete, Jakarta. Selain konferensi “Kebaya Goes Beyond”, rangkaian acaranya menghadirkan berbagai pengalaman budaya dan kreatif.

Pertunjukkan Tari Tortor Tor, Foto: Adi/Urbanvibes

Pengunjung dapat menikmati penampilan Mbok Jamu Party, pertunjukan Tortor & Saweran bersama Belantara Budaya dan Nauli Dane, hingga pemutaran film “Jalan Pulang” dari Indonesia Kaya yang menghadirkan Sharon sebagai salah satu pemeran.

Berbagai program tersebut memperlihatkan pendekatan Pesta Folka dalam menghadirkan budaya secara lebih cair. Budaya tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang jauh, kaku, atau hanya hadir dalam acara tertentu, melainkan menjadi bagian dari pengalaman sehari-hari dan ruang berekspresi.

Bagi generasi muda, pendekatan seperti ini menjadi semakin penting. Ketika kebaya dan wastra dapat hadir dalam suasana yang casual, kreatif, dan menyenangkan, budaya memiliki kesempatan lebih besar untuk terus digunakan dan diwariskan.

Dari Jakarta menuju Singapura dan Malaysia, gerakan “Generasi Kebaya” akhirnya tidak hanya berbicara tentang bagaimana mempertahankan warisan budaya, tetapi juga bagaimana membawa kebaya dan kreativitas Nusantara memasuki ruang baru.

Pesta Folka ingin menunjukkan bahwa budaya dapat terus bergerak mengikuti zaman tanpa kehilangan akar. Dari kebaya yang dikenakan sehari-hari, brand lokal yang terus berinovasi, hingga ekspansi ke pasar regional, semuanya menjadi bagian dari perjalanan baru budaya Nusantara bersama generasi muda.