Hi Urbie’s! Indonesia semakin menguat sebagai salah satu destinasi utama wisatawan Eropa yang ingin menikmati liburan musim panas di Asia. Data terbaru platform perjalanan digital Agoda menunjukkan Indonesia naik ke peringkat kedua destinasi Asia yang paling banyak dicari wisatawan Eropa pada musim panas 2026, menggeser Jepang dari posisi tersebut.
Thailand masih menempati peringkat pertama, sementara Jepang berada di posisi ketiga. Peringkat tersebut disusun berdasarkan data pencarian akomodasi di Agoda yang dilakukan wisatawan Eropa pada April hingga Juni 2026 untuk periode perjalanan Juli dan Agustus.
Kenaikan Indonesia dari posisi ketiga pada 2025 menjadi posisi kedua tahun ini menjadi sinyal bahwa minat wisatawan Eropa terhadap Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi juga semakin kuat.
Menariknya, ketertarikan tersebut mulai menunjukkan pola yang lebih beragam. Bali masih menjadi magnet utama, tetapi destinasi seperti Lombok dan Jakarta juga semakin mendapat perhatian.
Bali Masih Jadi Magnet Utama
Bagi wisatawan Eropa, musim panas pada Juli dan Agustus merupakan salah satu periode perjalanan paling sibuk dalam setahun. Masa libur sekolah di sejumlah negara Eropa turut mendorong pencarian destinasi untuk perjalanan jarak jauh, termasuk ke Asia.
Dalam daftar destinasi Asia yang paling banyak dicari, Bali kembali berada di posisi kedua, hanya di bawah Bangkok. Posisi tersebut sekaligus memperlihatkan betapa kuatnya peran Bali dalam mempertahankan daya tarik Indonesia di mata wisatawan internasional.
Di tingkat kota dan destinasi, Bangkok dan Bali masing-masing menempati posisi pertama dan kedua dalam daftar pencarian wisatawan Eropa. Keduanya mempertahankan posisi tersebut selama dua tahun berturut-turut. Setelah itu ada Koh Samui, Tokyo, dan Pattaya.
Bali sendiri juga terus mendapatkan sorotan sebagai destinasi musim panas. Pada riset Agoda sebelumnya, Bali bahkan menjadi destinasi Asia dengan jumlah akomodasi berkolam renang yang paling banyak dicari untuk kebutuhan liburan musim panas.
Namun, data terbaru menunjukkan bahwa daya tarik Indonesia mulai bergerak lebih jauh dari sekadar Bali.
Lombok dan Jakarta Ikut Mengerek Minat
Lombok dan Jakarta termasuk destinasi Indonesia yang mendapat perhatian wisatawan internasional. Keduanya menawarkan karakter perjalanan yang berbeda dari Bali.
Lombok mengandalkan lanskap alam, pantai, dan pengalaman pulau, sedangkan Jakarta menawarkan pengalaman urban dengan kombinasi kuliner, budaya, hiburan, serta kehidupan metropolitan.
Tren tersebut sejalan dengan perkembangan minat wisatawan internasional terhadap destinasi Indonesia yang lebih beragam. Dalam data Agoda untuk paruh pertama 2026, misalnya, Bali masih menjadi destinasi paling banyak dicari wisatawan internasional, tetapi Jakarta, Batam, Lombok, dan Bandung juga masuk dalam lima besar destinasi Indonesia berdasarkan pencarian akomodasi.

Artinya, popularitas Indonesia di pasar internasional berpotensi tidak lagi hanya bertumpu pada satu destinasi ikonik.
Gede Gunawan, Senior Country Director Indonesia di Agoda, melihat meluasnya minat tersebut sebagai perkembangan positif bagi pariwisata Indonesia.
“Naiknya peringkat Indonesia menjadi destinasi kedua yang paling banyak dicari di Asia mencerminkan semakin tingginya daya tarik negara ini di kalangan wisatawan Eropa.”
Menurut Gede, ketertarikan terhadap Lombok dan Jakarta juga menunjukkan adanya keinginan wisatawan untuk menjelajahi lebih banyak destinasi di Indonesia, tidak hanya mengandalkan tujuan wisata yang sudah populer.
Ia juga menyoroti munculnya minat dari pasar Eropa yang sedang berkembang sebagai salah satu perkembangan menarik pada musim panas tahun ini.
“Di luar Bali, minat yang terus berlanjut terhadap destinasi seperti Lombok dan Jakarta menunjukkan bahwa wisatawan semakin ingin menjelajahi lebih banyak destinasi di Indonesia,” kata Gede.
Thailand Masih Memimpin, Vietnam Naik
Indonesia memang berhasil naik satu peringkat, tetapi Thailand masih menjadi destinasi Asia yang paling banyak dicari wisatawan Eropa pada musim panas 2026.
Posisi Thailand sebagai nomor satu sekaligus bertahan selama dua tahun berturut-turut. Jepang kemudian berada di peringkat ketiga. Sementara itu, Vietnam naik dari posisi kelima pada 2025 menjadi posisi keempat tahun ini. Malaysia melengkapi lima besar.
Baca Juga:
- KFC dan Oreo Bikin Burger Ayam dengan Rasa Biskuit, Berani Coba?
- Bukan Bunga, Agnez Mo Malah Dapat 3 Kerambit dari Fans Saat Pulang ke Jakarta
- Weekend Tetap Bisa Trading Emas? XM Rilis GOLD24-7, Instrumen Baru untuk Trader
Perubahan tersebut menunjukkan persaingan destinasi Asia untuk merebut perhatian wisatawan Eropa semakin kompetitif.
Agoda juga mencatat bahwa pada daftar 20 destinasi teratas, India mencatat pertumbuhan pencarian sebesar 14 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Korea Selatan tumbuh 13 persen, sedangkan Vietnam naik 12 persen.
Dengan demikian, peningkatan minat terhadap Asia tidak hanya terjadi di kawasan Asia Tenggara, tetapi juga meluas ke Asia Selatan dan Asia Timur.
Prancis Jadi Pasar Eropa Terbesar untuk Indonesia
Dari sisi negara asal wisatawan, Prancis menjadi pasar Eropa dengan minat pencarian akomodasi ke Indonesia yang paling besar.
Jerman, Inggris, Belanda, dan Spanyol kemudian melengkapi lima pasar Eropa utama yang menunjukkan minat terhadap perjalanan ke Asia. Menariknya, kelima negara tersebut konsisten menjadi pasar utama dalam data Agoda 2025 dan 2026.

Selain pasar utama tersebut, Agoda juga melihat pertumbuhan minat dari sejumlah negara Eropa lainnya. Agen perjalanan online tersebut mencatat bahwa Finlandia mencatat pertumbuhan minat perjalanan ke Indonesia tercepat di antara negara-negara Eropa pada musim panas ini (+73%), disusul Hungaria (+45%). Hal ini menunjukkan munculnya nehara-negara Eropa baru yang diperkirakan akan menunjukkan minat yang terus meningkat terhadap perjalanan ke Indonesia.
Fenomena tersebut membuka peluang bagi destinasi Indonesia untuk menjangkau pasar wisatawan Eropa yang lebih luas.
Minat Wisatawan Mulai Bergeser ke Destinasi yang Lebih Beragam
Kenaikan Indonesia ke posisi kedua juga memperlihatkan perubahan yang lebih luas dalam pola perjalanan wisatawan.
Jika sebelumnya destinasi ikonik menjadi titik utama perjalanan, data Agoda menunjukkan wisatawan kini semakin tertarik menjelajahi lokasi alternatif, kota kedua, kawasan pesisir, dan destinasi di luar rute wisata konvensional.
Tren tersebut menjadi peluang bagi Indonesia yang memiliki karakter geografis sangat beragam. Selain Bali, wisatawan dapat menemukan pilihan perjalanan berbasis alam di Lombok, pengalaman urban di Jakarta, hingga destinasi lain di berbagai wilayah nusantara.
Bagi industri pariwisata Indonesia, meluasnya minat tersebut juga dapat menjadi momentum untuk mendistribusikan manfaat ekonomi pariwisata ke lebih banyak daerah.
Indonesia Punya Modal Kuat di Pasar Eropa
Posisi kedua dalam pencarian wisatawan Eropa bukan berarti Indonesia telah mengalahkan Thailand sebagai destinasi nomor satu di Asia. Namun, kenaikan dari posisi ketiga ke posisi kedua menunjukkan bahwa Indonesia berhasil meningkatkan daya tariknya di tengah kompetisi destinasi Asia yang semakin ketat.
Kekuatan Indonesia terletak pada variasi pengalaman yang ditawarkan. Bali memberikan kombinasi pantai, budaya, dan fasilitas wisata internasional; Lombok menawarkan pengalaman pulau yang lebih tenang; sementara Jakarta menghadirkan wajah Indonesia sebagai kota metropolitan.
Perpaduan tersebut menjadi semakin relevan ketika wisatawan mulai mencari pengalaman yang lebih beragam dalam satu kawasan.
Gede Gunawan menilai perkembangan pasar tersebut memberikan ruang bagi Indonesia untuk memperkenalkan lebih banyak destinasi kepada wisatawan Eropa.
“Kami juga senang melihat permintaan datang dari negara Eropa yang sudah mapan maupun yang sedang berkembang.”
Ia menambahkan, Agoda ingin membantu wisatawan menemukan pengalaman perjalanan di berbagai destinasi Indonesia, tidak terbatas pada tujuan yang sudah populer.
Dengan Indonesia kini berada di posisi kedua dalam daftar destinasi Asia yang paling banyak dicari wisatawan Eropa untuk musim panas 2026, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar mendatangkan wisatawan, tetapi memastikan mereka memiliki alasan untuk tinggal lebih lama, menjelajahi lebih banyak daerah, dan kembali lagi ke Indonesia.


















































