Iklan
Home Highlight Poster Makanan AI Kafe di Harajuku Malah Bikin Netizen Kehilangan Selera Makan

Poster Makanan AI Kafe di Harajuku Malah Bikin Netizen Kehilangan Selera Makan

0
19
poster promosi milik MUUN Seoul, kafe bakery bergaya Korea di kawasan Harajuku, Tokyo, yang menggunakan gambar hasil AI - sumber foto X
poster promosi milik MUUN Seoul, kafe bakery bergaya Korea di kawasan Harajuku, Tokyo, yang menggunakan gambar hasil AI - sumber foto X
Iklan Urbanvibes Banner
Iklan

Hi Urbie’s!, pernah nggak kalian melihat poster makanan yang seharusnya bikin perut keroncongan, tetapi justru membuat selera makan menghilang dalam hitungan detik? Hal itulah yang terjadi pada sebuah poster promosi milik MUUN Seoul, kafe bakery bergaya Korea di kawasan Harajuku, Tokyo, yang menggunakan gambar hasil AI untuk menampilkan menu paket spesial mereka.

Alih-alih terlihat menggugah selera, visual makanan dalam poster tersebut justru mengundang reaksi negatif dari warganet. Tekstur roti dan isiannya terlihat tidak natural, dengan bentuk yang terasa terlalu aneh untuk sebuah makanan yang seharusnya lembut, renyah, dan menggoda.

Ketika AI Disuruh Bikin Makanan Menggoda

Dalam dunia pemasaran kuliner, foto makanan memiliki satu tugas sederhana: membuat orang ingin makan. Warna roti yang hangat, tekstur pastry yang renyah, lelehan saus, hingga detail isian biasanya sengaja ditampilkan sedemikian rupa agar mata lebih dulu “mencicipi” sebelum pelanggan benar-benar memesan.

Namun, formula tersebut tampaknya tidak berjalan mulus dalam poster MUUN Seoul. Gambar AI yang digunakan justru menghadirkan tekstur makanan yang terlihat janggal, terutama pada bagian roti dan isiannya.

Alih-alih terasa fresh from the oven, visual tersebut terlihat seperti sesuatu yang bentuk dan permukaannya sulit ditebak. Bahkan, semakin diperhatikan, semakin muncul kesan uncanny yang membuat makanan itu terlihat jauh dari kata appetizing.

“Lumpur yang Tajam dan Meruncing”

Internet tentu tidak akan melewatkan kesempatan untuk memberikan komentar. Poster tersebut langsung menjadi bahan pembicaraan karena bentuk makanan yang dianggap terlalu aneh dan tidak menyerupai tekstur makanan sungguhan.

Salah satu komentar bahkan menggambarkannya seperti “lumpur yang tajam dan meruncing.” Ada pula warganet yang melontarkan candaan bahwa visual tersebut merupakan “penghinaan buat kaum bagel.”

Komentar-komentar tersebut memang terdengar kocak, tetapi di baliknya ada persoalan yang cukup serius untuk industri kuliner. Ketika visual sebuah makanan terasa tidak masuk akal, otak konsumen bisa memberikan respons yang berlawanan dengan tujuan iklan: bukan ingin mencicipi, tetapi justru ingin menjauh.

Kenapa Gambar Makanan AI Sering Terasa Aneh?

Urbie’s!, masalahnya bukan semata-mata karena gambar tersebut dibuat menggunakan AI. Teknologi generatif sebenarnya bisa menjadi alat kreatif yang sangat powerful untuk berbagai kebutuhan branding dan pemasaran.

Persoalannya muncul ketika AI digunakan untuk merepresentasikan sesuatu yang sangat bergantung pada detail fisik, seperti makanan. Konsumen memiliki pengalaman visual yang kuat terhadap roti, daging, keju, krim, pastry, dan bahan makanan lainnya, sehingga sedikit saja teksturnya terlihat tidak masuk akal, keanehan tersebut langsung terasa.

Permukaan roti yang terlalu halus, isian yang seolah menyatu dengan adonan, keju yang memiliki bentuk tidak wajar, atau bayangan yang tidak sesuai dengan objek bisa menciptakan efek uncanny. Mata manusia mungkin tidak selalu bisa menjelaskan apa yang salah, tetapi otak tetap menangkap sinyal bahwa “ada sesuatu yang tidak beres”.

Baca juga:

Foto Asli Masih Punya Kekuatan

Di tengah semakin mudahnya membuat visual dengan AI, kejadian ini justru mengingatkan bahwa fotografi makanan konvensional masih memiliki nilai yang sulit digantikan. Foto asli mampu memperlihatkan tekstur dan ketidaksempurnaan makanan yang justru membuatnya terasa nyata.

Remah roti yang berantakan, permukaan pastry yang sedikit tidak rata, lelehan saus yang tidak sempurna, bahkan potongan makanan yang tidak simetris bisa menjadi elemen yang membuat sebuah menu terasa lebih manusiawi. Detail-detail kecil tersebut justru dapat meningkatkan kepercayaan calon pelanggan terhadap apa yang akan mereka dapatkan ketika memesan.

Bagi bisnis kuliner, ini penting karena ekspektasi pelanggan dibentuk sejak mereka pertama kali melihat materi promosi. Jika visual terlalu berbeda dari produk asli, pengalaman pelanggan bisa berakhir mengecewakan.

Tren Iklan AI Mulai Mendapat Sorotan

Kasus poster MUUN Seoul juga menjadi bagian dari fenomena yang lebih luas. Semakin banyak brand menggunakan AI untuk membuat materi visual, semakin banyak pula konsumen yang mulai kritis terhadap hasilnya.

Di media sosial, iklan makanan berbasis AI sering menjadi bahan lelucon ketika visualnya menghasilkan bentuk yang tidak masuk akal. Alih-alih mendapatkan engagement positif, sebuah brand justru berisiko mendapatkan perhatian karena alasan yang sama sekali tidak mereka inginkan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa teknologi bukan selalu tentang menggantikan proses kreatif manusia. Dalam beberapa kasus, AI mungkin lebih tepat digunakan sebagai alat bantu ideasi, moodboard, atau eksplorasi konsep, sementara representasi produk sebenarnya tetap menggunakan foto asli.

Kreativitas Boleh Digital, Tapi Makanan Harus Terlihat Nyata

Ada pelajaran menarik dari poster yang satu ini: dalam marketing makanan, “sempurna” belum tentu berarti “menggugah selera.” Justru, sedikit ketidaksempurnaan yang terlihat nyata sering kali jauh lebih efektif daripada visual fantastis yang membuat konsumen bertanya-tanya apakah makanan tersebut benar-benar ada.

Urbie’s!, penggunaan AI tentu tidak harus dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Namun, ketika teknologi tersebut digunakan untuk menjual produk yang bisa langsung disentuh, dicium, dan dimakan, keaslian visual menjadi faktor yang tidak bisa disepelekan.

Pada akhirnya, konsumen membeli makanan bukan karena gambar yang terlihat canggih, tetapi karena mereka bisa membayangkan pengalaman menyantapnya. Jadi, kalau sebuah poster malah membuat orang bertanya, “Ini sebenarnya makanan atau lumpur dari planet lain?”, mungkin sudah waktunya brand kembali memotret makanan aslinya.

Iklan