Hi Urbie’s! Kalau kamu mengikuti tren collectible toys global, nama Pop Mart pasti sudah nggak asing lagi. Brand asal China ini sukses membangun hype lewat karakter-karakter unik seperti Labubu yang jadi incaran kolektor di seluruh dunia.
Tapi di balik kesuksesan itu, ternyata ada cerita lain yang nggak kalah menarik—bahkan cukup mengejutkan.
Di Balik Panggung Kesuksesan Pop Mart
Baru-baru ini, perhatian publik tertuju pada Wang Ning, sosok di balik kesuksesan Pop Mart. Dalam laporan yang dilansir dari CNBC Indonesia, Wang Ning dikabarkan mengalami penurunan kekayaan hingga US$2,7 miliar atau setara Rp45,87 triliun.
Penurunan ini terjadi setelah saham Pop Mart anjlok lebih dari 22%.
Kalau melihat gambar yang beredar, terlihat Wang Ning berdiri di tengah panggung dengan latar merah khas Pop Mart, ditemani karakter-karakter ikonik mereka. Visual ini seolah menggambarkan dua sisi yang kontras—kesuksesan brand yang tetap bersinar, namun di sisi lain ada tekanan besar dari pasar.
Labubu Masih Kuat, Tapi Tidak Cukup
Selama ini, Labubu memang jadi tulang punggung popularitas Pop Mart. Karakter ini berhasil menciptakan emotional connection dengan para kolektor, terutama Gen Z yang melihat collectible toys sebagai bagian dari lifestyle.
Namun, bergantung pada satu IP saja jelas bukan strategi jangka panjang.
Itulah kenapa Wang Ning menegaskan bahwa Pop Mart memiliki lebih dari sekadar Labubu.
Strategi Baru: Perluas Dunia IP
Untuk menjawab tantangan ini, Pop Mart mulai memperluas portofolio Intellectual Property (IP) mereka.
Salah satu langkah konkretnya adalah mempromosikan karakter baru seperti Twinkle Twinkle. Karakter ini hadir bukan untuk menggantikan Labubu, tapi untuk memperkaya “universe” Pop Mart agar lebih variatif dan sustain.
Strategi ini penting, terutama di industri kreatif yang sangat cepat berubah. Tren hari ini bisa jadi hilang besok, dan brand yang bertahan adalah mereka yang mampu terus beradaptasi.
Analogi F1 yang Relatable Banget
Menariknya, Wang Ning menggambarkan kondisi perusahaan saat ini dengan analogi yang cukup relatable.
Ia mengatakan bahwa ekspansi cepat Pop Mart seperti seorang pembalap pemula yang tiba-tiba masuk ke sirkuit Formula 1. Baik pembalap maupun mobilnya sama-sama berada di bawah tekanan besar.
Analogi ini menggambarkan betapa cepatnya pertumbuhan Pop Mart dalam beberapa tahun terakhir—dan betapa besar ekspektasi yang harus mereka penuhi.
Baca Juga:
- Bangga! Taman Nasional Komodo Menempati Peringkat kedua Tempat Terindah di Dunia
- Urbie’s, Siap WFH Lagi? Pemerintah Bocorkan Skema Baru!
- 10 Negara Paling Bahagia di Dunia 2026, Finlandia Masih Nomor Satu
Antara Hype dan Realita Pasar
Urbie’s, fenomena Pop Mart sebenarnya mencerminkan dinamika industri kreatif saat ini.
Di satu sisi, mereka berhasil menciptakan hype global lewat produk yang unik dan strategi blind box yang bikin penasaran. Tapi di sisi lain, tekanan pasar dan ekspektasi investor tetap jadi faktor yang nggak bisa diabaikan.
Penurunan saham lebih dari 22% jadi sinyal bahwa bahkan brand besar pun tidak kebal terhadap fluktuasi pasar.
Kenapa Diversifikasi Itu Penting?
Dengan memperkenalkan karakter seperti Twinkle Twinkle, Pop Mart mencoba membangun ekosistem yang lebih luas.
Karena pada akhirnya, yang mereka jual bukan cuma figurine—tapi juga cerita, identitas, dan koneksi emosional.
Buat Gen Z, collectible toys bukan sekadar barang. Ini adalah bentuk self-expression. Setiap karakter punya vibe yang bisa merepresentasikan kepribadian atau mood mereka.
Dan semakin banyak pilihan karakter, semakin besar peluang brand untuk tetap relevan.
Masa Depan Pop Mart: Masih Cerah?
Meski menghadapi tantangan, langkah Pop Mart untuk memperluas IP bisa jadi kunci untuk bertahan dalam jangka panjang.
Dengan strategi yang tepat, mereka bisa berkembang lebih jauh—bukan hanya sebagai brand mainan, tapi juga sebagai pemain besar di industri kreatif global, mulai dari animasi hingga kolaborasi fashion.
Jadi, Apa Selanjutnya?
Urbie’s, cerita Pop Mart ini adalah pengingat bahwa di balik tren dan hype, selalu ada dinamika bisnis yang kompleks. Labubu mungkin masih jadi ikon. Tapi dengan hadirnya Twinkle Twinkle dan karakter baru lainnya, Pop Mart sedang mencoba menulis bab berikutnya.
Pertanyaannya sekarang: apakah strategi ini cukup untuk menjaga mereka tetap di puncak? Atau justru ini awal dari transformasi besar yang akan mengubah wajah industri collectible toys? Kita tunggu saja, Urbie’s.





