Hi Urbie's! Di era ketika media sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, banyak orang mulai bertanya-tanya: apakah kita masih mengendalikan teknologi, atau justru teknologi yang mengendalikan kita? Pertanyaan itulah yang coba dijawab oleh musisi sekaligus penulis Che melalui proyek terbarunya bertajuk LUKA KOLEKTIF.

Menariknya, proyek ini tidak hanya hadir dalam bentuk lagu, tetapi juga buku kumpulan esai berjudul LUKA KOLEKTIF MANUSIA DIGITAL: 30 Esai Menolak Mati dalam Algoritma.

Alih-alih merilis keduanya secara terpisah, Che memilih menjadikan buku dan lagu sebagai satu kesatuan karya. Menurutnya, keresahan tentang kehidupan digital tidak cukup hanya dibaca, tetapi juga perlu dirasakan.

"Buku lahir dari refleksi kritis, sementara lagu adalah teriakannya," ujar Che saat berbincang dengan Urbanvibes.id.

Buku Mengajak Berpikir, Lagu Mengajak Merasakan

Che mengatakan keputusan menggabungkan buku dan musik bukan sekadar eksperimen artistik. Baginya, sebuah gagasan tidak boleh terjebak hanya dalam satu medium.

Ia mengibaratkan buku sebagai peta yang menunjukkan arah, sedangkan musik adalah perjalanan yang membawa seseorang benar-benar melangkah.

"Tanpa peta, perjalanan bisa tersesat. Tapi tanpa perjalanan, peta hanya menjadi gambar mati," katanya.

Lewat pendekatan tersebut, Che berharap publik tidak hanya memahami keresahan tentang dunia digital secara intelektual, tetapi juga mampu merasakan dampaknya secara emosional.

Baginya, LUKA KOLEKTIF bukan sekadar karya seni, melainkan usaha membuka luka bersama agar dapat diubah menjadi energi bersama.

Media Sosial Adalah Panggung, Tapi Algoritma Sutradaranya

Sebagai musisi yang aktif berkarya di era digital, Che mengakui media sosial memiliki peran penting dalam perjalanan kariernya.

Namun, ia juga menyadari bahwa platform digital bukan ruang yang benar-benar bebas.

"Media sosial itu panggung sekaligus pasar. Tapi panggung itu dikendalikan algoritma. Ada sutradara yang tidak kelihatan, yang menentukan siapa boleh tampil dan siapa harus tenggelam," jelasnya.

Che mengaku pernah merasakan bagaimana algoritma perlahan membentuk cara seseorang berkarya.

Menurutnya, algoritma tidak memaksa pengguna, melainkan membujuk melalui angka-angka seperti jumlah like, views, dan followers.

Angka-angka tersebut perlahan menjadi candu yang membuat banyak orang rela mengorbankan idealisme demi mengejar perhatian.

Baca Juga:

"Kita merasa sedang bermain, padahal sebenarnya sedang diperah," ungkapnya.

Karena itulah, Che menyebut buku dan lagu yang ia rilis sebagai bentuk "peluru budaya" untuk mengganggu dominasi algoritma.

Ia menegaskan tidak ingin menyerahkan kesadaran kreatifnya kepada mesin yang hanya mengejar keterlibatan pengguna.

Mengalami Digital Burnout

Tak hanya berbicara soal algoritma, Che juga mengaku pernah mengalami digital burnout.

Menurutnya, kelelahan digital bukan sekadar rasa lelah akibat terlalu lama menatap layar, melainkan kondisi ketika seseorang terus-menerus dituntut hadir di ruang digital.

Ia menggambarkan pengalaman tersebut seperti seorang tentara yang berperang tanpa jeda.

Bukan melawan musuh secara fisik, melainkan menghadapi banjir informasi, notifikasi, dan tuntutan untuk terus tampil di media sosial.

"Kita merasa sedang produktif, padahal sebenarnya sedang dikuras," katanya.

Che bahkan merasa ada kekuatan tak terlihat yang perlahan mengatur ritme kehidupan manusia, mulai dari kapan seseorang merasa berhasil hingga kapan merasa gagal.

Seni Menjadi Cara Keluar dari Dunia Digital

Untuk menjaga kesehatan mental, Che memiliki caranya sendiri.

Ia memilih kembali ke aktivitas kreatif yang lebih nyata seperti melukis, menulis, dan bermain musik.

Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mengembalikan hubungan antara tubuh, pikiran, dan dunia nyata.

"Melukis, menulis, dan musik adalah terapi sekaligus benteng," ujarnya.

Ia mengibaratkan media sosial seperti treadmill yang tidak pernah berhenti bergerak.

Jika seseorang terus berlari tanpa jeda, cepat atau lambat akan mengalami kelelahan.

Karena itu, ia memilih menentukan sendiri kapan harus aktif di media sosial dan kapan perlu mengambil jarak.

"Tumbuhkan keberanian untuk berkata cukup," tegasnya.

Teknologi Adalah Alat, Bukan Tuhan

Dalam wawancara tersebut, Che juga memberikan pesan bagi generasi muda yang tumbuh bersama internet.

Menurutnya, teknologi seharusnya diposisikan sebagai alat untuk membantu kehidupan, bukan sesuatu yang mengendalikan manusia.

"Teknologi itu alat, bukan Tuhan," katanya.

Ia mengingatkan bahwa media sosial dapat digunakan untuk menyebarkan gagasan, membangun komunitas, maupun menciptakan perubahan positif.

Namun di sisi lain, platform digital juga bisa menjadi ruang untuk memelihara ego apabila digunakan tanpa kesadaran.

Karena itu, ia mengajak anak muda tetap meluangkan waktu bertemu secara langsung, berdiskusi, berdebat, bahkan sekadar berbincang tanpa layar.

"Manusia bukan cuma data. Kita harus bertemu fisik, bercakap, berpelukan, merasakan dunia nyata. Tanpa itu kita hanya menjadi avatar kosong yang digerakkan mesin," ujarnya.

Ingin Memantik Percakapan

Harapan terbesar Che terhadap proyek LUKA KOLEKTIF bukan sekadar angka penjualan buku atau jumlah streaming lagu.

Ia berharap karya tersebut mampu membangunkan kesadaran masyarakat mengenai dampak kehidupan digital terhadap kemanusiaan.

"Mungkin buku dan lagu ini bisa membuat orang berhenti sejenak dari arus digital lalu bertanya, 'Apa yang sebenarnya terjadi pada kemanusiaan kita?'" katanya.

Baginya, jika karya tersebut mampu memunculkan diskusi, perdebatan, bahkan kegelisahan, maka fungsi utamanya telah tercapai.

Sudah Punya Bayangan Pemeran Film

Menariknya, saat ditanya siapa yang akan memerankan tokoh utama apabila LUKA KOLEKTIF diadaptasi menjadi film, Che langsung menyebut dua nama.

Ia memilih Ramon Y. Tungka sebagai pemeran utama pria dan Wulan Guritno sebagai pemeran utama wanita.

Alasannya sederhana.

"Karena saya kenal," ujarnya sambil tertawa.

Meski terdengar santai, jawaban tersebut menjadi penutup yang ringan dari obrolan panjang mengenai keresahan manusia di tengah derasnya arus algoritma. Melalui LUKA KOLEKTIF, Che ingin mengingatkan bahwa luka yang dirasakan banyak orang di era digital bukanlah persoalan pribadi semata, melainkan pengalaman bersama yang perlu disadari agar manusia tidak kehilangan sisi paling penting dalam dirinya: kemanusiaan.

[Block type not supported: rawTool]