Urbie's kasus peretasan yang menimpa Ariana Grande memasuki babak baru. Penyanyi pop asal Amerika Serikat tersebut kini mendapatkan izin dari pengadilan untuk mempercepat proses pengumpulan bukti dalam gugatan hukum terkait pencurian musik, foto, serta berbagai materi pribadinya yang belum dirilis.

Keputusan tersebut menjadi perkembangan penting dalam upaya Grande mengungkap identitas pihak-pihak yang diduga berada di balik aksi peretasan. Berdasarkan dokumen pengadilan yang diajukan di Los Angeles pada Rabu, permohonan tim hukum Grande untuk melakukan proses penemuan bukti atau discovery secara lebih cepat telah dikabulkan oleh pengadilan.

Ariana Grande Gugat Peretas yang Belum Diketahui Identitasnya

Ariana Grande pertama kali mengajukan gugatan pada Juli terhadap sejumlah pihak yang masih disebut sebagai John Does. Istilah tersebut digunakan dalam proses hukum ketika identitas tergugat belum diketahui secara pasti.

Dalam gugatannya, Grande menuduh para peretas telah menargetkan perangkat milik orang-orang yang berada di lingkaran dalamnya. Dari perangkat tersebut, mereka diduga berhasil mendapatkan berbagai materi yang belum dipublikasikan, termasuk musik, foto, dan konten pribadi lainnya.

Materi yang dicuri kemudian diduga diperjualbelikan secara ilegal melalui internet, termasuk melalui jaringan yang dikenal sebagai dark web. Nilai jual konten tersebut disebut sangat tinggi karena berisi materi eksklusif yang belum pernah dirilis kepada publik.

Bagi seorang musisi seperti Grande, kebocoran materi sebelum waktu perilisan tentu dapat memberikan dampak besar. Selain menghilangkan unsur kejutan dalam sebuah karya, kebocoran juga berpotensi memengaruhi strategi promosi, jadwal perilisan, hingga nilai komersial sebuah proyek.

Pengadilan Setujui Pengumpulan Bukti Dipercepat

Tim hukum Ariana Grande sebelumnya meminta izin untuk mempercepat pemanggilan dan pengambilan keterangan dari sejumlah pihak ketiga. Biasanya, proses tersebut membutuhkan masa tunggu tertentu sebelum dapat dilakukan.

Namun, tim Grande berpendapat bahwa penundaan justru dapat menyulitkan proses identifikasi para pelaku. Mereka mengklaim telah menemukan sejumlah platform internet dan entitas pihak ketiga yang diduga digunakan untuk menyebarkan maupun melakukan transaksi atas materi ilegal tersebut.

Pihak-pihak tersebut diyakini menyimpan informasi digital yang dapat membantu mengungkap identitas para tergugat yang hingga kini belum diketahui.

Hakim Mark H. Epstein kemudian mengabulkan permohonan tersebut. Pengadilan menilai tidak masuk akal apabila Grande harus menunggu lebih lama, mengingat identitas pihak yang hendak digugat belum diketahui dan proses penemuan bukti menjadi langkah penting untuk mengidentifikasi mereka.

“Periode tunggu 20 hari tidak akan pernah berjalan karena penggugat tidak dapat menemukan identitas tergugat tanpa penemuan ini,” tulis hakim dalam putusannya.

Keputusan tersebut memungkinkan tim hukum Grande bergerak lebih cepat untuk memperoleh data yang dibutuhkan dari pihak ketiga terkait dugaan aktivitas peretasan tersebut.

Baca Juga:

Puluhan Lagu Ariana Grande Pernah Bocor

Kasus ini bukan pertama kalinya karya Ariana Grande mengalami kebocoran. Dalam gugatannya, Grande menyebut dirinya telah menjadi korban kampanye peretasan selama bertahun-tahun.

Salah satu kejadian yang menjadi perhatian terjadi pada 2023. Saat itu, sekitar 45 lagu Grande yang belum dirilis dilaporkan bocor dan beredar secara online.

Beberapa lagu yang disebut dalam kasus tersebut antara lain “Fantasize”, “That Bitch Is Mine”, dan “White Tee”. Bagi penggemar Grande, lagu-lagu tersebut memang sudah dikenal sebagai bagian dari materi yang beredar sebelum perilisan resmi.

Kebocoran karya musisi sebenarnya bukan persoalan baru di industri musik. Namun, perkembangan teknologi dan keberadaan berbagai platform digital membuat penyebaran materi ilegal dapat berlangsung sangat cepat dan sulit dikendalikan.

Upaya Mengungkap Pelaku Masih Berlanjut

Dengan dikabulkannya proses pengumpulan bukti yang dipercepat, langkah hukum Ariana Grande kini memasuki tahap yang lebih agresif. Timnya dapat berupaya memperoleh informasi dari pihak ketiga yang diduga memiliki data mengenai aktivitas penyebaran dan transaksi materi curian.

Tujuan utamanya adalah menemukan identitas para pelaku yang saat ini masih belum diketahui. Setelah identitas tersebut berhasil diungkap, proses hukum terhadap pihak yang diduga bertanggung jawab dapat dilanjutkan secara lebih spesifik.

Kasus ini juga menunjukkan bagaimana keamanan digital menjadi semakin penting bagi para musisi dan figur publik. Materi yang belum dirilis dapat memiliki nilai ekonomi dan kreatif yang sangat besar sehingga menjadi target menarik bagi pihak-pihak yang ingin mendapatkan keuntungan secara ilegal.

Buat Grande, proses hukum ini bukan hanya soal menjaga karya yang belum dirilis, tetapi juga menjadi upaya untuk melindungi privasi dan hasil kreativitasnya. Dengan izin pengadilan untuk mempercepat pengumpulan bukti, publik kini menantikan apakah langkah tersebut dapat membantu mengungkap siapa saja yang berada di balik dugaan aksi peretasan selama bertahun-tahun tersebut.

[Block type not supported: rawTool]