
Hi Urbie’s! Siapa sangka, di balik kemewahan visual video musik terbaru Ariana Grande, ada sentuhan tangan kreator asal Indonesia? Kabar ini datang dari Rising67 Studio, tim kreatif asal Indonesia yang kembali mendapat kesempatan untuk terlibat dalam proyek visual Ariana Grande. Setelah sebelumnya mengerjakan artwork untuk single Hate That I Made You Love Me, Rising67 Studio kembali dipercaya berkontribusi dalam video musik terbaru bertajuk “Petal”.
Yang menarik, kolaborasi kali ini membawa nama Tsaqif Baihaqi, ilustrator asal Depok, ke dalam produksi visual berskala internasional tersebut.
Bukan sekadar menjadi bagian dari tim di belakang layar, Tsaqif dipercaya menggarap sejumlah elemen visual yang muncul dalam beberapa adegan video musik. Dua pekerjaan utamanya adalah desain teks dan matte painting.
Bagi industri kreatif Indonesia, keterlibatan tersebut menjadi sinyal menarik. Sebab, karya visual buatan kreator lokal kini semakin berani muncul di proyek artis global dengan standar produksi yang tentunya tidak main-main.
Dari Depok ke Dunia Ariana Grande
Nama Tsaqif Baihaqi mungkin belum terlalu familiar bagi sebagian besar penonton musik pop internasional. Namun, keterlibatannya dalam Petal menunjukkan bahwa industri kreatif global tidak selalu melihat asal negara ketika mencari talenta.
Yang berbicara adalah karya.
Dalam proyek ini, Tsaqif bekerja bersama Rising67 Studio untuk menerjemahkan referensi visual menjadi elemen yang sesuai dengan kebutuhan video musik Ariana Grande.
Kolaborasi tersebut juga bukan kali pertama Rising67 Studio bersinggungan dengan proyek visual Ariana Grande.
Sebelumnya, studio tersebut telah dipercaya mengerjakan artwork untuk Hate That I Made You Love Me. Kini, kepercayaan itu kembali diberikan lewat Petal.
Buat Urbie’s yang mengikuti perkembangan industri kreatif, perjalanan ini menarik untuk diperhatikan. Satu proyek bisa menjadi portofolio, tetapi ketika talenta yang sama kembali dipercaya untuk proyek berikutnya, itu menunjukkan adanya kepercayaan terhadap kualitas kerja.
Font “Psycho” Diubah Jadi Retakan yang Punya Identitas Sendiri
Salah satu bagian menarik dari pekerjaan Tsaqif adalah desain teks yang muncul dalam video musik.
Alih-alih sekadar menggunakan font yang sudah tersedia, Tsaqif mengambil referensi dari film klasik Psycho karya sutradara legendaris Alfred Hitchcock.
Namun, referensi tersebut tidak kemudian ditempel begitu saja.
Tsaqif mengembangkan karakter font tersebut menjadi efek retakan dengan pola dan arah yang berbeda. Proses ini menghasilkan tampilan yang terasa lebih personal sekaligus memiliki identitas visual yang lebih orisinal.
Di sinilah menariknya proses kreatif di balik layar.
Sebuah referensi lama bisa mendapatkan kehidupan baru ketika diterjemahkan melalui pendekatan visual yang berbeda. Bukan sekadar meniru estetika Psycho, tetapi mengambil inspirasi dari karakter visualnya kemudian mengolahnya menjadi elemen baru yang sesuai dengan kebutuhan Petal.
Bagi penonton, hasil akhirnya mungkin hanya terlihat sebagai bagian kecil dari sebuah adegan.
Namun bagi kreator, detail seperti bentuk retakan, arah pola, karakter huruf, hingga bagaimana elemen tersebut menyatu dengan gambar merupakan bagian penting dari storytelling visual.
Baca Juga:
- 3 Spot Kuliner Baru di iLLago Grande Gading Serpong yang Wajib Dicoba, Ada Sushi Mulai Rp5.000 hingga Cafe Work From Cafe
- Sinopsis Film Deep Water (2026): Berawal dari Satu Power Bank, Penerbangan Berubah Jadi Neraka di Laut Penuh Hiu
- Bunga di Tepi Jurang Tayang 31 Juli, Kisah Perjuangan Andini Siap Bikin Penonton Ikut Merasakan Setiap Emosinya
Matte Painting Terinspirasi “North by Northwest”
Tidak berhenti pada desain teks, Tsaqif juga mengerjakan matte painting untuk beberapa bagian visual.
Kali ini, inspirasinya datang dari film North by Northwest, karya Alfred Hitchcock lainnya.
Referensi sinematik tersebut kemudian diolah menjadi sebuah lanskap Hollywood Boulevard, lengkap dengan elemen Walk of Fame.
Hasilnya bukan sekadar membuat latar belakang terlihat lebih megah. Matte painting memungkinkan sebuah adegan mendapatkan lingkungan visual yang mungkin sulit atau tidak memungkinkan untuk diwujudkan secara langsung dalam proses pengambilan gambar.
Dengan pendekatan tersebut, referensi dari sinema klasik kembali dipertemukan dengan kebutuhan visual musik pop modern.
Dan menariknya, proses tersebut melibatkan kreator dari Indonesia.
Kreator Indonesia Makin Sering Masuk Panggung Global?
Keterlibatan Rising67 Studio dan Tsaqif Baihaqi dalam proyek Ariana Grande membawa pesan yang lebih besar daripada sekadar kredit nama dalam sebuah video musik.
Ini menjadi contoh bagaimana talenta kreatif Indonesia memiliki peluang untuk masuk ke industri hiburan internasional melalui keahlian yang sangat spesifik.
Dunia kreatif global membutuhkan ilustrator, animator, visual artist, designer, matte painter, hingga berbagai profesi di balik layar lainnya. Ketika kualitas karya mampu memenuhi kebutuhan produksi, batas geografis menjadi semakin tidak relevan.
Apa yang terjadi pada Petal juga menunjukkan bahwa karya kreator Indonesia tidak harus selalu tampil membawa identitas Indonesia secara eksplisit untuk bisa mendapatkan pengakuan global.
Terkadang, karya itu sendiri yang menjadi kartu nama.
Dari Depok, Tsaqif Baihaqi ikut meninggalkan jejak dalam proyek visual Ariana Grande. Dari Rising67 Studio, talenta kreatif Indonesia kembali mendapatkan ruang dalam produksi musik internasional.
Buat Urbie’s yang sedang menekuni dunia desain, ilustrasi, film, musik, atau industri kreatif lainnya, kolaborasi ini mungkin menjadi pengingat sederhana: karya yang bagus bisa berjalan jauh lebih jauh daripada tempat kreatornya berasal.
Dan siapa tahu, proyek global berikutnya yang kita lihat ternyata kembali menyimpan nama kreator Indonesia di balik layar.

















































