Hi Urbie’s! Buat banyak anak muda Indonesia, cek tekanan darah mungkin terdengar seperti aktivitas yang identik dengan orang tua. Selama masih bisa nongkrong sampai larut malam, minum kopi beberapa gelas sehari, lembur mengejar deadline, dan tetap beraktivitas seperti biasa, rasanya tubuh baik-baik saja.
Padahal, di balik rutinitas itu, ada ancaman yang sering datang tanpa tanda yang jelas: hipertensi atau tekanan darah tinggi.
Sebuah kisah dari Vietnam menjadi pengingat penting bahwa mengabaikan tekanan darah tinggi bisa berujung pada kondisi yang mengubah hidup seseorang. Cerita ini terasa relevan bagi Gen Z Indonesia yang kini semakin akrab dengan gaya hidup serba cepat, minim istirahat, dan penuh tekanan.
Seorang pria berusia 40 tahun yang diidentifikasi dengan inisial NVM beberapa kali mendapatkan hasil pemeriksaan kesehatan yang menunjukkan dirinya mengalami hipertensi. Namun karena tidak merasakan keluhan apa pun, ia memilih tidak menjalani pengobatan dan tetap menjalani aktivitas seperti biasa.
Keputusan tersebut berujung pada kondisi yang tidak pernah ia bayangkan. Setelah mulai sering merasa lelah, kulitnya terlihat pucat, dan kemampuan bekerja menurun, ia memeriksakan diri ke rumah sakit dan didiagnosis mengalami gagal ginjal stadium akhir. Penyebab utamanya adalah tekanan darah tinggi yang berlangsung lama tanpa pengobatan.
Kisah dari Vietnam yang Bisa Jadi Pelajaran untuk Indonesia
Meski kasus ini terjadi di Vietnam, pesannya sangat dekat dengan kehidupan anak muda Indonesia.
Budaya minum kopi setiap hari, mengonsumsi makanan cepat saji, tidur larut malam, bekerja di depan laptop selama berjam-jam, hingga tingginya tingkat stres menjadi pola hidup yang kini banyak dijumpai di kota-kota besar Indonesia.
Tidak sedikit Gen Z yang merasa dirinya masih muda sehingga menganggap pemeriksaan tekanan darah sebagai sesuatu yang belum diperlukan.
Padahal, menurut Profesor Madya Tran Song Giang, Wakil Direktur Institut Kardiovaskular Rumah Sakit Bach Mai, Vietnam, kondisi tersebut justru menjadi masalah yang sering ditemui di lapangan.
"Pada kenyataannya, banyak orang didiagnosis menderita hipertensi tetapi tidak menerima pengobatan karena mereka tidak memiliki gejala yang jelas. Tekanan darah tinggi yang berkepanjangan adalah salah satu penyebab umum gagal jantung dan gagal ginjal. Banyak pasien mengetahui tekanan darah tinggi mereka sebelum komplikasi muncul, tetapi mereka merasa puas dengan kondisi tersebut," ujar Profesor Madya Tran Song Giang.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa merasa sehat bukan berarti tubuh benar-benar bebas dari penyakit.
Hipertensi, Silent Killer yang Tidak Pandang Usia
Hipertensi sering disebut sebagai silent killer karena berkembang tanpa gejala yang mudah dikenali.
Seseorang bisa tetap bekerja, berolahraga, atau beraktivitas normal meski tekanan darahnya sudah berada di level yang berbahaya.
Menurut penjelasan Profesor Madya Tran Song Giang, jantung dapat diibaratkan sebagai pompa yang terus bekerja mengalirkan darah ke seluruh tubuh.
Ketika tekanan darah berada di kisaran normal sekitar 110–120 mmHg, jantung dapat bekerja dengan relatif ringan. Namun jika tekanan darah terus berada di angka 160–170 mmHg, jantung harus memompa dengan tenaga yang jauh lebih besar untuk melawan tekanan di dalam pembuluh darah.
Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, otot jantung akan melemah dan risiko gagal jantung pun meningkat.
Baca Juga:
- Pokémon Champions Resmi Rilis di Mobile, Gratis Download di Android dan iPhone
- 3 Tempat Kuliner Gading Serpong Terbaru yang Unik & Wajib Dicoba
- BTS Rilis Video Musik “Merry Go Round”, Suguhkan Dunia Fantasi yang Sarat Makna
Gagal Ginjal Bisa Datang Tanpa Gejala
Tidak hanya jantung yang terdampak, ginjal juga menjadi salah satu organ yang paling rentan mengalami kerusakan akibat hipertensi.
Profesor Madya Tran Song Giang menjelaskan bahwa fungsi utama ginjal adalah menyaring darah. Ketika tekanan darah tetap tinggi dalam waktu yang lama, pembuluh darah di ginjal dapat mengeras, menyempit, atau mengalami konstriksi sehingga kemampuan ginjal dalam menyaring darah terus menurun.
Seiring waktu, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi gagal ginjal kronis bahkan gagal ginjal stadium akhir seperti yang dialami pasien NVM.
Yang membuat penyakit ini berbahaya adalah proses kerusakannya berlangsung perlahan dan sering kali tidak menimbulkan gejala yang berarti sampai fungsi ginjal sudah menurun drastis.
Gaya Hidup Gen Z Indonesia Perlu Lebih Diperhatikan
Kondisi yang dialami pasien di Vietnam menjadi refleksi bagi anak muda Indonesia.
Kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi garam, minuman manis, kopi berlebihan, kurang aktivitas fisik, stres karena pekerjaan maupun kuliah, serta tidur yang tidak teratur merupakan kombinasi faktor risiko yang dapat meningkatkan tekanan darah.
Ironisnya, banyak Gen Z lebih rutin mengecek notifikasi media sosial dibandingkan mengecek kondisi kesehatannya sendiri.
Padahal, mengukur tekanan darah hanya membutuhkan waktu beberapa menit dan bisa menjadi langkah awal untuk mencegah berbagai penyakit kronis.
Jangan Tunggu Sampai Terlambat
Menurut para ahli jantung, hipertensi tidak hanya meningkatkan risiko stroke yang sudah dikenal luas masyarakat, tetapi juga dapat menyebabkan gagal jantung, gagal ginjal, kerusakan retina hingga kehilangan penglihatan, serta berbagai penyakit kardiovaskular serius lainnya.
Karena itu, Profesor Madya Tran Song Giang merekomendasikan masyarakat melakukan pemeriksaan kesehatan rutin satu hingga dua kali setiap tahun. Pemeriksaan dasar dan pengukuran tekanan darah secara berkala dapat membantu mendeteksi faktor risiko lebih dini sehingga pengobatan dapat dilakukan sebelum terjadi kerusakan permanen pada jantung maupun ginjal.
Jadi Urbie's, kisah dari Vietnam ini bukan sekadar cerita tentang seorang pasien, melainkan sebuah pengingat bahwa hipertensi bisa menyerang siapa saja, termasuk anak muda Indonesia yang merasa masih sehat.
Mulailah dengan langkah sederhana: tidur lebih cukup, kurangi makanan tinggi garam, rutin berolahraga, dan jangan ragu mengecek tekanan darah secara berkala. Karena menjaga kesehatan hari ini jauh lebih mudah daripada menyesali penyakit yang datang di kemudian hari.





