Hi Urbie’s! Internet kembali dibuat heboh oleh sebuah klaim aneh dari Jepang yang menyebut adanya praktik underground berupa mengisap UNI Octopus yang dikeringkan dan dicampur dengan tembakau. Sejumlah pengguna bahkan mengklaim praktik tersebut dapat memicu halusinasi intens selama berjam-jam, mulai dari penglihatan yang terdistorsi hingga lingkungan sekitar terasa seperti bergerak dan “menari”.

Namun, di balik cerita yang terdengar seperti eksperimen dari film fiksi ilmiah tersebut, ada satu hal yang jauh lebih penting daripada rasa penasaran: keamanan dan risiko kesehatan. Praktik menghirup asap dari material hewan yang dibakar atau zat yang tidak diketahui kandungannya tidak memiliki profil keamanan yang jelas dan berpotensi menyebabkan masalah serius.

Dari Cerita Underground hingga Viral di Internet

Klaim mengenai UNI Octopus disebut muncul dari praktik yang berkembang secara underground di sejumlah bagian Jepang. Berdasarkan cerita yang beredar, gurita tersebut dikeringkan terlebih dahulu sebelum kemudian dibakar dan diisap bersama tembakau.

Pengguna yang mengaku pernah mencobanya menggambarkan pengalaman yang sangat tidak biasa. Beberapa klaim menyebut adanya perubahan persepsi visual, kesadaran yang terasa berbeda, hingga objek di sekitar terlihat seperti bergerak atau menari.

Ada pula klaim bahwa efek tersebut dapat berlangsung hingga sekitar 10 jam. Durasi yang terdengar ekstrem inilah yang kemudian membuat cerita tersebut semakin menarik perhatian di media sosial.

Tetapi Urbie’s perlu berhati-hati membedakan antara cerita yang beredar secara online dengan fakta medis yang telah terbukti. Klaim mengenai efek halusinogen dari praktik tersebut tidak boleh dianggap sebagai bukti bahwa metode itu aman atau memang memiliki efek tertentu secara konsisten.

Kenapa Efeknya Sulit Diprediksi?

Salah satu masalah terbesar dari praktik semacam ini adalah ketidakjelasan mengenai apa sebenarnya yang masuk ke dalam tubuh. Ketika material hewan dikeringkan dan dibakar, proses pembakaran dapat menghasilkan berbagai senyawa yang berbeda dari material aslinya.

Ditambah lagi, jika bahan tersebut dicampur dengan tembakau atau zat lain, semakin sulit mengetahui komposisi asap yang kemudian dihirup. Konsentrasi zat juga dapat berubah tergantung pada jenis material, cara pengeringan, suhu pembakaran, hingga jumlah yang digunakan.

Artinya, tidak ada alasan untuk menganggap bahwa pengalaman satu orang akan sama dengan orang lainnya. Bahkan jika seseorang mengklaim mendapatkan sensasi tertentu, hal tersebut tidak berarti orang berikutnya akan mengalami efek serupa.

Sebaliknya, reaksi tubuh bisa jauh lebih serius dan tidak terduga.

Asap Bahan Hewan Bukan Berarti Aman

Ada anggapan bahwa sesuatu yang berasal dari bahan alami otomatis lebih aman. Padahal, ketika sebuah material organik dibakar dan asapnya dihirup, tubuh dapat terpapar berbagai produk hasil pembakaran.

Menghirup asap dari material yang tidak dirancang untuk dikonsumsi melalui paru-paru dapat mengiritasi sistem pernapasan. Dalam kondisi tertentu, paparan zat yang tidak diketahui juga dapat meningkatkan risiko keracunan atau gangguan kesehatan lainnya.

Baca juga:

Tenaga kesehatan memperingatkan bahwa menghirup material hewan yang dibakar maupun zat dengan komposisi tidak diketahui berpotensi menyebabkan gangguan pernapasan, keracunan, kejang, hingga komplikasi yang mengancam nyawa.

Karena itu, klaim bahwa suatu praktik dapat menghasilkan halusinasi tidak seharusnya diterjemahkan sebagai rekomendasi untuk mencobanya.

Halusinasi Bukan “Efek Samping” yang Bisa Diremehkan

Bagian yang paling sering membuat tren semacam ini menarik perhatian adalah klaim mengenai pengalaman halusinasi. Penglihatan yang berubah, objek yang terasa bergerak, atau kesadaran yang terdistorsi mungkin terdengar seperti pengalaman unik bagi sebagian orang.

Namun secara kesehatan, perubahan persepsi yang tidak terkendali bukan sesuatu yang dapat diprediksi atau dikendalikan dengan mudah. Seseorang yang mengalami gangguan persepsi dapat kehilangan kemampuan menilai lingkungan secara normal dan berpotensi melakukan tindakan yang membahayakan dirinya sendiri.

Situasinya semakin berisiko ketika seseorang tidak mengetahui zat apa yang sebenarnya menyebabkan perubahan tersebut. Tanpa informasi mengenai kandungan, dosis, atau mekanisme zat, tidak ada cara sederhana untuk memperkirakan seberapa kuat atau berapa lama reaksinya akan berlangsung.

Jangan Jadikan Tren Viral sebagai Eksperimen

Fenomena UNI Octopus juga menjadi pengingat tentang bagaimana media sosial dapat membuat praktik yang sangat tidak biasa terlihat seperti sebuah tren yang patut dicoba. Cerita mengenai efek ekstrem sering kali menjadi bagian paling menarik dari sebuah unggahan, sementara risiko kesehatannya justru berada di bagian belakang.

Urbie’s juga perlu ingat bahwa pengalaman yang diceritakan seseorang di internet bukan pengganti bukti ilmiah. Bahkan ketika sebuah klaim disertai cerita pribadi yang terdengar meyakinkan, kita tetap tidak mengetahui kondisi kesehatan, bahan yang digunakan, maupun faktor lain yang mungkin memengaruhi pengalaman tersebut.

Membagikan informasi tanpa konteks juga dapat membuat praktik berisiko terlihat lebih normal daripada kenyataannya.

Lebih Baik Penasaran daripada Ikutan?

Untuk saat ini, klaim mengenai UNI Octopus yang dikeringkan lalu diisap sebagai cara mendapatkan halusinasi sebaiknya diperlakukan dengan skeptis dan sangat hati-hati. Tidak ada alasan untuk mempertaruhkan kesehatan hanya demi mengejar pengalaman yang digambarkan orang lain di internet.

Jika sebuah tren melibatkan pembakaran dan penghirupan bahan yang tidak diketahui kandungannya, risikonya sudah cukup menjadi alasan untuk tidak mencobanya. Efek yang tidak terduga bukanlah bagian menarik dari eksperimen—justru itulah bagian yang paling berbahaya.

Jadi, Urbie’s, kalau menemukan tren aneh seperti ini di media sosial, cukup tahu ceritanya tanpa perlu menjadi bagian dari ceritanya. Viral beberapa hari mungkin terasa menarik, tetapi masalah kesehatan bisa bertahan jauh lebih lama.

[Block type not supported: rawTool]