Hi Urbie’s! Kalau beberapa tahun lalu menjadi perempuan baik, ramah, dan selalu siap membantu terasa seperti standar ideal, sekarang narasinya mulai berubah. Di media sosial, semakin banyak cewek urban justru bercanda menyebut dirinya sedang masuk “villain era”—fase ketika mereka berhenti terlalu peduli pada penilaian orang lain, mulai mengatakan “tidak”, dan tidak lagi merasa wajib menyenangkan semua orang.
Tapi jangan buru-buru mengartikannya sebagai keinginan untuk berubah menjadi perempuan antagonis. Di balik istilah “villain era” sebenarnya ada fenomena yang jauh lebih relatable: keinginan untuk berhenti menjadi people pleaser dan mulai memprioritaskan diri sendiri.
Dari Good Girl ke Villain Era
Dulu, perempuan sering mendapatkan pujian ketika mampu menjadi sosok yang pengertian, sabar, mudah membantu, dan tidak banyak menuntut. Masalahnya, standar “perempuan baik” tersebut kadang membuat seseorang terbiasa mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri demi menjaga kenyamanan orang lain.
Di sinilah villain era muncul sebagai bentuk perlawanan kecil. Bukan benar-benar ingin menjadi jahat, tetapi mulai berani mengatakan, “Aku nggak mau,” tanpa merasa harus memberikan presentasi PowerPoint sepanjang 20 slide untuk menjelaskan alasannya.
Cewek yang dulu selalu membalas pesan secepat mungkin kini berani membalas ketika punya waktu. Yang biasanya menerima semua ajakan mulai mengatakan tidak ketika memang sedang tidak ingin pergi.
Bahkan dalam hubungan pertemanan, mereka mulai belajar bahwa menjaga hubungan bukan berarti harus selalu tersedia. Ada kalanya seseorang perlu memilih tidur, bekerja, menikmati waktu sendiri, atau sekadar tidak melakukan apa-apa tanpa merasa bersalah.
Villain Era 2.0 Bukan Tentang Menjadi Jahat
Kalau villain era generasi pertama identik dengan “aku nggak peduli lagi”, versi 2.0 terasa lebih dewasa. Fokusnya bukan lagi sekadar memberontak terhadap ekspektasi orang lain, tetapi memahami batasan diri atau boundaries.
Perbedaannya cukup penting. Tidak peduli terhadap perasaan orang lain bisa berubah menjadi perilaku egois, sedangkan memiliki boundaries berarti memahami mana yang menjadi tanggung jawab kita dan mana yang bukan.
Misalnya, menolak pekerjaan tambahan ketika kapasitas sudah penuh bukan berarti malas. Tidak membalas chat tengah malam bukan berarti sombong, dan memilih mengakhiri hubungan yang terus membuat lelah bukan berarti tidak punya hati.
Villain Era 2.0 justru berbicara tentang kemampuan mengenali batas sebelum rasa lelah berubah menjadi resentment. Karena terkadang, menjadi terlalu baik kepada semua orang justru membuat seseorang diam-diam marah kepada dirinya sendiri.
“No” Sekarang Nggak Perlu Pakai Alasan Panjang
Salah satu tanda paling jelas dari era ini adalah perubahan cara perempuan memandang kata “tidak”. Jika dulu penolakan sering disertai berbagai alasan agar tidak dianggap mengecewakan, kini semakin banyak yang memahami bahwa sebuah keputusan tidak selalu membutuhkan pembenaran panjang.
“Aku nggak bisa datang” bisa berarti memang tidak bisa datang. “Aku nggak mau” juga bisa menjadi jawaban yang valid ketika menyangkut pilihan personal.
Bagi people pleaser, perubahan sederhana ini sebenarnya cukup sulit. Ada rasa takut dianggap egois, takut membuat orang kecewa, atau bahkan takut hubungan berubah hanya karena kita mulai memiliki batas.
Baca juga:
- Digital Detox, Apa yang Terjadi Jika Kamu Tidak Main Media Sosial Selama 7 Hari?
- Kenapa Lagu Galau Selalu Laris? Ternyata Ini Penjelasan Psikolog
Namun justru di situlah prosesnya. Belajar berkata tidak berarti belajar menerima bahwa kita tidak mungkin selalu disukai semua orang.
Ketika Self-Care Berubah Menjadi Self-Respect
Villain Era 2.0 juga memperlihatkan perubahan menarik dalam cara perempuan melihat self-care. Kalau sebelumnya self-care sering diasosiasikan dengan skincare, staycation, membeli kopi mahal, atau menikmati me time, kini konsepnya bergerak lebih dalam.
Self-care juga berarti berani meninggalkan situasi yang membuat kita tidak nyaman. Bisa berarti berhenti mengejar seseorang yang tidak memberikan kepastian, berhenti menjelaskan diri kepada orang yang memang tidak mau memahami, atau berhenti mempertahankan pertemanan hanya karena sudah berlangsung bertahun-tahun.
Di titik ini, self-care berubah menjadi self-respect. Bukan sekadar melakukan sesuatu yang membuat kita merasa nyaman hari ini, tetapi membuat keputusan yang melindungi diri dalam jangka panjang.
Dan yes, Urbie’s, kadang keputusan paling sehat memang terlihat seperti keputusan paling “jahat” bagi orang lain.
Kenapa Tren Ini Dekat dengan Cewek Urban?
Kehidupan urban membawa tekanan yang cukup unik. Di satu sisi, seseorang dituntut produktif, sukses, aktif bersosialisasi, punya karier, menjaga hubungan, mengikuti tren, dan tetap terlihat baik-baik saja.
Di tengah semua tuntutan tersebut, kemampuan untuk mengatakan “cukup” menjadi semakin berharga. Perempuan yang hidup dalam ritme cepat membutuhkan ruang untuk menentukan sendiri kapan harus bekerja, bersosialisasi, beristirahat, atau benar-benar menghilang dari radar.
Media sosial kemudian menjadi ruang untuk membagikan pengalaman tersebut dengan cara yang lebih ringan. Istilah “villain era” bekerja karena terdengar dramatis, lucu, sekaligus mudah dipahami.
Daripada mengatakan, “Saya sedang belajar membangun personal boundaries setelah bertahun-tahun mengalami people-pleasing,” jauh lebih simpel menulis, “Sorry, I'm in my villain era.”
Humornya membuat topik yang sebenarnya cukup serius terasa lebih ringan untuk dibicarakan.
Tapi Jangan Sampai Villain Era Jadi Alasan untuk Egois
Meski terdengar keren, ada satu garis yang perlu diperhatikan. Memiliki boundaries bukan berarti bebas memperlakukan orang lain sesuka hati.
Menolak sesuatu dengan tegas tetap bisa dilakukan tanpa merendahkan orang lain. Mengakhiri hubungan tetap bisa dilakukan tanpa mempermalukan mantan pasangan, dan menjaga kesehatan mental tidak harus dilakukan dengan sengaja menyakiti orang lain.
Jadi, villain era yang sehat bukan tentang menjadi dingin atau tidak punya empati. Justru seseorang bisa memiliki boundaries sekaligus tetap menjadi manusia yang hangat.
Mungkin inilah alasan mengapa Villain Era 2.0 terasa lebih relevan. Ini bukan deklarasi bahwa perempuan ingin menjadi “jahat”, tetapi pengakuan bahwa mereka tidak ingin terus-menerus menjadi karakter pendukung dalam hidupnya sendiri.
Pada akhirnya, Urbie’s, mungkin kita memang tidak perlu menjadi villain. Kita hanya perlu berhenti berusaha menjadi good girl bagi semua orang.
Karena hidup terlalu singkat untuk terus mengatakan “iya” ketika hati sebenarnya ingin mengatakan “nggak”. Dan kalau keputusan itu membuat seseorang menganggap kita jahat? Well, maybe that's their problem, not ours.






