Home Highlight Riset Ungkap: Marah Bisa Bikin Fokus dan Kreativitas Meningkat, Ini Penjelasannya

Riset Ungkap: Marah Bisa Bikin Fokus dan Kreativitas Meningkat, Ini Penjelasannya

12
0
Riset Ungkap: Marah Bisa Bikin Fokus dan Kreativitas Meningkat, Ini Penjelasannya
Foto: chatgptAI
Iklan Top Ad

Hi Urbie’s, selama ini marah sering banget dicap sebagai emosi negatif yang harus dihindari. Banyak orang berpikir kalau marah hanya akan merusak hubungan, bikin stres, atau bahkan menurunkan produktivitas. Tapi ternyata, perspektif itu nggak sepenuhnya benar. Dalam konteks tertentu, marah justru bisa jadi dorongan kuat untuk mencapai tujuan, asalkan dikelola dengan tepat.

Sebuah riset dari Heather C. Lench bersama timnya di Texas A&M University menemukan fakta menarik tentang emosi ini. Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal psikologi, mereka mengungkapkan bahwa individu yang sedang marah cenderung menunjukkan fokus yang lebih tinggi dalam menyelesaikan tugas yang menantang. Bahkan, mereka terlihat lebih gigih dan tidak mudah menyerah dibandingkan orang dengan kondisi emosi netral.

Hal ini terjadi karena marah bisa memicu peningkatan energi dan dorongan untuk “melawan” hambatan. Ketika seseorang merasa ada sesuatu yang mengganggu atau tidak berjalan sesuai harapan, emosi marah muncul sebagai respons alami. Alih-alih menghambat, emosi ini justru bisa diarahkan menjadi bahan bakar untuk bekerja lebih keras dan lebih cepat dalam menyelesaikan masalah.

Nggak cuma soal fokus dan ketekunan, manfaat marah juga terlihat dalam aspek kreativitas. Penelitian lain yang diterbitkan di Journal of Experimental Social Psychology pada tahun 2010 menunjukkan bahwa emosi marah dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif, terutama pada individu yang memiliki motivasi tinggi. Saat marah, otak menjadi lebih aktif dalam mencari solusi dan alternatif baru, sehingga ide-ide segar lebih mudah muncul.

Baca Juga:

Fenomena ini bisa dijelaskan secara sederhana. Marah menciptakan ketegangan emosional yang mendorong otak untuk segera mencari jalan keluar. Dalam kondisi ini, seseorang jadi lebih “terpacu” untuk berpikir out of the box demi menyelesaikan masalah yang dihadapi. Nggak heran kalau banyak orang justru mendapatkan ide brilian saat sedang berada di bawah tekanan emosional.

Meski begitu, penting banget untuk diingat bahwa manfaat ini hanya bisa dirasakan jika emosi marah dikelola dengan baik. Marah yang tidak terkontrol justru bisa berdampak sebaliknya, seperti merusak hubungan, menurunkan kualitas keputusan, hingga memicu konflik yang nggak perlu. Kuncinya ada pada bagaimana kita menyalurkan emosi tersebut secara konstruktif.

Urbie’s bisa mulai dengan mengenali penyebab marah dan mengubahnya menjadi motivasi. Misalnya, saat merasa kesal karena pekerjaan yang menumpuk, gunakan energi tersebut untuk fokus menyelesaikan satu per satu tugas, bukan malah meluapkannya secara impulsif. Teknik seperti menarik napas dalam, menulis perasaan, atau mengambil jeda sejenak juga bisa membantu mengontrol emosi sebelum bertindak.

Pada akhirnya, marah bukanlah musuh yang harus selalu dihindari. Emosi ini adalah bagian alami dari manusia yang, jika dimanfaatkan dengan bijak, justru bisa membantu meningkatkan performa dan kreativitas. Jadi, daripada menekan atau mengabaikannya, lebih baik belajar mengelola marah agar bisa menjadi energi positif dalam kehidupan sehari-hari.