Hi Urbie’s! Gelombang film auteur kembali mengguncang layar lebar lewat rilisan terbaru dari A24, Mother Mary. Tayang di bioskop Indonesia mulai 24 April 2026, film ini langsung mencuri perhatian berkat premisnya yang tak biasa—menggabungkan drama musikal dengan lapisan thriller psikologis yang perlahan merayap ke dalam emosi penonton.
Disutradarai oleh David Lowery, Mother Mary bukan sekadar film tentang musik atau ketenaran. Dengan tagline provokatif “This is Not a Ghost Story”, film ini justru mengajak penonton masuk ke wilayah yang lebih sunyi: trauma, identitas, dan relasi yang retak oleh waktu. Sebuah pendekatan yang khas A24—sunyi, berani, tapi menghantui.
Transformasi Anne Hathaway yang Tak Terduga
Nama Anne Hathaway menjadi magnet utama dalam film ini. Ia tampil total sebagai Mary, seorang diva pop ikonik yang sedang berada di titik rapuh dalam hidupnya. Setelah lama menghilang dari sorotan publik, Mary berusaha bangkit dan kembali ke panggung—namun masa lalu ternyata belum selesai dengannya.
Performa Hathaway di sini disebut-sebut sebagai salah satu yang paling berani dalam kariernya. Ia tak hanya berakting, tetapi juga menyelami sisi gelap karakter: kesepian, tekanan popularitas, hingga konflik identitas antara sosok publik dan pribadi.

Sinopsis Film Mother Mary
Cerita Mother Mary berpusat pada pertemuan Mary dengan sahabat lamanya, Sam, yang diperankan oleh Michaela Coel. Pertemuan ini terjadi di lokasi terpencil, jauh dari hiruk-pikuk dunia hiburan—sebuah ruang sunyi yang justru memaksa keduanya menghadapi masa lalu.
Apa yang awalnya tampak seperti reuni biasa perlahan berubah menjadi konfrontasi emosional. Dialog demi dialog membuka lapisan luka lama, menghadirkan ketegangan yang terasa intim sekaligus mencekam. Relasi mereka berkembang menjadi semacam “pertarungan psikologis” yang mengaburkan batas antara kebenaran, persepsi, dan kenangan.
Seiring cerita berjalan, identitas Mary sebagai figur publik mulai retak. Persona yang selama ini ia bangun perlahan runtuh, memperlihatkan sisi manusiawi yang rapuh—dan terkadang mengganggu.
Baca Juga:
- Anne Hathaway Viral Ucap “Inshallah”, Fans Hadiahi Terjemahan Al-Qur’an Saat Promosi The Devil Wears Prada 2
- Kuliner Kekinian Gading Serpong: 3 Spot Hits dari Ramen Jepang hingga Pempek Autentik yang Wajib Dicoba
- Purbaya Pastikan Pajak Mobil Listrik Tak Naik, Cuma Ubah Skema Pemungutan
Kekuatan Musik yang Menjadi Nyawa Cerita
Sebagai drama musikal, Mother Mary tak hanya mengandalkan narasi, tetapi juga kekuatan musik. Lagu-lagu orisinal dalam film ini digarap oleh Jack Antonoff dan Charli XCX, menciptakan atmosfer yang emosional sekaligus modern.
Tak kalah menarik, FKA twigs juga terlibat, baik sebagai penyanyi maupun pemeran karakter Imogene. Kehadirannya memberi warna eksperimental yang memperkuat nuansa artistik film ini.

Musik dalam Mother Mary bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian integral dari cerita—menjadi medium untuk mengekspresikan konflik batin yang tak selalu bisa diucapkan lewat dialog.
Bukan Film Musikal Biasa
Dengan durasi 112 menit, Mother Mary menawarkan pengalaman sinematik yang padat, emosional, dan penuh lapisan. Ini bukan film musikal biasa yang ringan dan menghibur, melainkan karya yang menantang penonton untuk ikut merasakan kegelisahan karakter-karakternya.
Bagi pecinta Anne Hathaway, film ini membuka sisi baru yang mungkin belum pernah terlihat sebelumnya.
Pada akhirnya, Mother Mary adalah tentang suara—bukan hanya suara musik, tetapi juga suara hati yang selama ini terpendam. Dan ketika semuanya akhirnya terdengar, yang tersisa bukan sekadar pertunjukan, melainkan kejujuran yang tak bisa lagi disembunyikan.



















































