Hi Urbie’s! Dunia fashion lagi-lagi membuktikan kalau batas kreativitas itu… sebenarnya nggak ada. Kali ini, giliran Chanel yang bikin semua mata melirik—bahkan mungkin sedikit mengernyit—lewat koleksi terbarunya di runway Chanel Cruise 2026.
Di bawah arahan artistic director Matthieu Blazy, Chanel memperkenalkan sesuatu yang bisa dibilang sebagai “sepatu paling minimal” yang pernah ada. Bayangin sandal… tapi hampir nggak kelihatan. Bukan karena transparan, tapi karena desainnya benar-benar direduksi sampai ke esensi paling dasar: sebuah heel sheath yang membungkus tumit, nyaris tanpa bagian lain.
Ketika Sepatu Hampir “Menghilang”
Di atas runway bernuansa pasir, desain sandal ini tampil seolah menyatu dengan kaki model. Nggak ada straps kompleks, nggak ada sol tebal, bahkan hampir nggak ada “bentuk sepatu” seperti yang kita kenal selama ini.
Konsep ini jelas bukan sekadar estetika, tapi juga pernyataan. Dalam beberapa tahun terakhir, dunia fashion memang lagi terobsesi dengan ekstrem minimalism—gaya yang mengurangi elemen hingga ke titik paling fundamental.
Kita sudah melihat tren ini lewat siluet-siluet unik seperti Vibram FiveFingers yang menyerupai kaki manusia, hingga sandal ultra-sederhana dari Balenciaga lewat desain “Zero sandal”-nya.
Tapi Chanel? Mereka membawa konsep ini ke level yang berbeda. Kalau sebelumnya sepatu masih terlihat seperti sepatu, kali ini hampir terasa seperti… tidak ada sama sekali.
Minimal, Tapi Penuh Statement
Di sinilah letak kekuatan desain ini, Urbie’s. Meski terlihat “kosong”, justru di situlah statement-nya. Chanel seperti menantang definisi kita tentang apa itu sepatu.
Apakah sepatu harus selalu melindungi seluruh kaki?
Apakah fungsi masih lebih penting daripada bentuk?
Atau justru fashion sekarang sudah sepenuhnya tentang ekspresi?
Jawabannya mungkin berbeda untuk setiap orang. Dan Chanel tampaknya sadar betul bahwa desain ini akan jadi perdebatan.
Ada yang melihatnya sebagai inovasi visioner. Ada juga yang menganggapnya terlalu ekstrem, bahkan impractical. Tapi satu hal yang pasti: semua orang membicarakannya.
Timing yang Nggak Kebetulan
Menariknya, momen ini datang di waktu yang sangat strategis. Berdasarkan laporan dari Lyst, Chanel baru saja dinobatkan sebagai brand luxury paling “hot” di dunia saat ini.
Artinya, setiap langkah yang mereka ambil—termasuk eksperimen desain seperti ini—langsung punya dampak besar di industri fashion global.
Baca Juga:
- Riset Ungkap: Marah Bisa Bikin Fokus dan Kreativitas Meningkat, Ini Penjelasannya
- First Look Spin-off The Big Bang Theory: Stuart Fails to Save the Universe Siap Tayang Juli di HBO Max
- Mirumi, Robot Imut dari Jepang yang Disebut “Labubu Hidup”, Viral karena Bisa Ngintip dari Tas
Dan di sinilah kelihaian Matthieu Blazy terlihat. Selama ini, ia dikenal dengan pendekatan yang fokus pada craftsmanship dan detail halus. Tapi lewat koleksi ini, ia menunjukkan sisi lain: berani, eksperimental, dan siap menciptakan perbincangan.
Ini bukan sekadar sepatu. Ini adalah strategi.
Antara Seni, Spektakel, dan Kontroversi
Kalau dipikir-pikir, “barefoot sandal” ini berada di titik pertemuan yang menarik: antara desain, seni, dan spektakel.
Di satu sisi, ini adalah eksplorasi bentuk yang sangat radikal. Di sisi lain, ini juga jadi semacam performance—sesuatu yang memang dirancang untuk dilihat, dibicarakan, bahkan diperdebatkan.
Dan jujur aja, Urbie’s, di era media sosial seperti sekarang, desain seperti ini punya satu keunggulan besar: viral potential.
Sepatu yang “hampir nggak ada” justru lebih mencuri perhatian dibanding sepatu yang penuh detail.
Apakah Ini Masa Depan Fashion?
Pertanyaan besarnya: apakah ini cuma tren sesaat, atau justru arah baru dalam dunia fashion?
Kalau melihat pola sebelumnya, tren ekstrem seperti ini seringkali dimulai dari runway, lalu diadaptasi menjadi versi yang lebih wearable untuk pasar luas.
Jadi jangan kaget kalau beberapa waktu ke depan, kita mulai melihat versi “lebih masuk akal” dari sandal minimal ini—mungkin dengan sedikit tambahan struktur, tapi tetap mempertahankan esensi clean dan ringan.
Atau, bisa jadi ini memang hanya akan tetap jadi statement piece—sesuatu yang eksis di dunia high fashion tanpa harus benar-benar dipakai sehari-hari.
Love It or Hate It?
Pada akhirnya, desain ini memang nggak dibuat untuk semua orang. Dan itu justru poin utamanya.
Chanel tidak sedang mencoba menyenangkan semua pihak. Mereka sedang mendorong batas, menguji reaksi, dan membuka diskusi baru tentang fashion itu sendiri.
Jadi, Urbie’s, kamu di tim mana?
Visionary atau terlalu jauh?
Yang jelas, satu langkah kecil di runway ini membuktikan satu hal besar: fashion selalu punya cara untuk mengejutkan kita.












































