Hi Urbie’s! Bayangkan sebuah platform dengan lebih dari satu miliar pengguna melakukan perubahan logo setelah bertahun-tahun, lalu respons pertama yang datang bukan tepuk tangan, melainkan netizen ramai-ramai bertanya, “Ini Instagram atau Instagzam?” Itulah yang terjadi ketika Instagram memperkenalkan pembaruan logo pertamanya dalam 10 tahun dan internet langsung melakukan pekerjaan favoritnya: mengolok-olok sesuatu yang baru.
Alih-alih menjadi momen rebranding yang elegan, perubahan tersebut justru berubah menjadi bahan meme. Bahkan sejumlah brand besar seperti McDonald’s, KitKat, Canva, dan Uber ikut masuk ke dalam percakapan dengan membuat versi logo “baru” mereka sendiri sebagai sindiran terhadap tampilan Instagram.
Setelah 10 Tahun, Instagram Akhirnya Ubah Logo
Instagram bukanlah platform yang asing dengan perubahan visual. Sejak pertama kali diperkenalkan pada 2010, identitas visual Instagram telah mengalami beberapa transformasi besar, terutama ketika logo kamera bergaya retro digantikan dengan ikon gradasi yang jauh lebih minimalis pada 2016.
Namun perubahan terbaru kali ini terasa berbeda karena bukan sekadar mengganti ikon aplikasi. Instagram juga memperbarui wordmark, atau tulisan “Instagram” yang menjadi bagian dari identitas brand mereka.
Masalahnya muncul ketika netizen mulai memperhatikan bentuk huruf pada logo tersebut. Bagi sebagian pengguna, huruf “r” dalam wordmark baru terlihat terlalu mirip dengan huruf “z”, sehingga tulisan Instagram justru terbaca seperti “Instagzam.”
Dan ketika internet sudah menemukan satu bahan lelucon, biasanya tidak butuh waktu lama sampai meme bermunculan.
“Instagzam” Jadi Bintang Baru di Internet
Perubahan kecil dalam tipografi ternyata mampu menciptakan reaksi yang jauh lebih besar daripada yang mungkin diperkirakan Instagram. Di media sosial, pengguna mulai memperbesar, membandingkan, dan mempertanyakan mengapa bentuk huruf tersebut terasa berbeda.
Ada yang menganggap wordmark baru terlihat lebih modern, tetapi tidak sedikit yang justru merasa perubahan itu membuat nama Instagram menjadi lebih sulit dibaca. Bagi mereka, masalahnya bukan apakah logo baru terlihat lebih futuristis, melainkan apakah orang masih bisa langsung mengenali tulisan tersebut tanpa harus melihat dua kali.
Di sinilah fenomena “Instagzam” muncul. Nama tersebut mungkin terdengar konyol, tetapi justru menunjukkan betapa sensitifnya mata manusia terhadap perubahan tipografi—terutama pada brand yang identitasnya sudah tertanam kuat selama bertahun-tahun.
Kalau selama satu dekade kita terbiasa melihat satu bentuk tulisan, sedikit perubahan saja bisa terasa seperti ada sesuatu yang “salah”.
McDonald’s hingga Uber Ikut Turun Tangan
Internet ternyata belum cukup puas hanya dengan membuat meme. Beberapa brand besar malah memanfaatkan momentum tersebut untuk ikut bercanda.
McDonald’s, KitKat, Canva, dan Uber termasuk brand yang membuat unggahan dengan gaya logo “refresh” versi mereka sendiri. Tujuannya bukan benar-benar melakukan rebranding, melainkan ikut menyentil tren perubahan logo Instagram yang dianggap terlalu mudah menjadi bahan roasting.
Langkah ini menarik karena menunjukkan bagaimana komunikasi brand di era media sosial sudah berubah. Brand besar tidak selalu harus berbicara dengan bahasa korporat yang kaku. Ketika sebuah topik sedang ramai, mereka bisa ikut menjadi bagian dari percakapan dengan humor yang relevan.
Dan ketika yang membuat lelucon adalah brand dengan jutaan pengikut, meme tersebut otomatis mendapatkan panggung yang jauh lebih besar.
Baca juga:
- Instagram Mendadak Kehilangan Followers, Netizen Panik, Baru Tadi 10K, Sekarang Tinggal 9,2K!
- Instagram Perketat Aturan, Konten Repost Terancam Kehilangan Reach Kata Adam Moseeri!
Kenapa Logo Baru Mudah Jadi Bahan Roasting?
Ada satu alasan sederhana: orang tidak suka ketika sesuatu yang sudah familiar tiba-tiba berubah.
Dalam branding, logo bukan hanya gambar atau tulisan. Logo merupakan shortcut visual yang membuat otak langsung mengenali sebuah produk tanpa perlu berpikir panjang. Karena itu, ketika elemen yang sudah sangat familiar diubah, respons pertama manusia sering kali bukan apresiasi, melainkan perbandingan dengan versi sebelumnya.
Hal ini juga menjelaskan mengapa perubahan logo perusahaan besar sering mendapatkan reaksi ekstrem di internet. Desain baru mungkin dibuat melalui riset, diskusi panjang, dan pertimbangan strategi brand, tetapi bagi pengguna, penilaiannya sering jauh lebih sederhana: “yang lama lebih bagus.”
Instagram sendiri sebenarnya bukan brand pertama yang mengalami fenomena tersebut. Setiap kali perusahaan besar melakukan perubahan visual, internet hampir selalu menyediakan ruang untuk kritik, meme, hingga parodi.
Rebranding atau Sekadar Evolusi?
Di sisi lain, tidak semua reaksi negatif berarti perubahan tersebut gagal. Sebuah identitas visual baru membutuhkan waktu untuk menjadi familiar.
Logo lama Instagram sudah digunakan selama bertahun-tahun. Pengguna telah melihatnya di layar smartphone, iklan, website, hingga berbagai materi digital dalam jumlah yang tidak terhitung. Maka wajar jika versi baru terasa aneh pada awal kemunculannya.
Pertanyaan sebenarnya adalah apakah wordmark tersebut akan terasa lebih natural setelah digunakan selama beberapa bulan atau tahun. Bisa saja “Instagzam” hari ini menjadi Instagram yang terasa normal di masa depan.
Tetapi untuk sekarang, internet sudah menentukan verdict sementaranya.
Ketika Brand Besar Pun Tidak Kebal Meme
Kasus Instagram menjadi pengingat bahwa di era media sosial, sebesar apa pun sebuah brand, tetap tidak kebal dari roasting netizen. Bahkan perubahan yang dirancang dengan serius oleh tim branding profesional bisa berubah menjadi bahan candaan hanya karena satu bentuk huruf terlihat sedikit berbeda.
Urbie’s, sekarang pertanyaannya balik ke kalian: apakah logo baru Instagram memang benar-benar lebih buruk, atau kita hanya sedang mengalami “culture shock” karena terlalu terbiasa dengan desain lama?
Kalau kalian membaca “Instagram” tanpa ragu, mungkin desainnya baik-baik saja. Tapi kalau mata kalian sempat membaca “Instagzam”, well… internet mungkin punya poin juga.






