
Hi Urbie’s! Di tengah ritme kota Jakarta yang tak pernah pelan, ruang-ruang seni kerap menjadi jeda yang menenangkan. Salah satunya hadir di ARTOTEL Casa Kuningan, yang kembali membuka pintu Artspace dengan sebuah pengalaman visual yang tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga menyentuh sisi paling subtil dari emosi manusia.
Mulai 10 April 2026 hingga 12 Juli 2026, ruang Artspace di G Floor ARTOTEL Casa Kuningan akan disulap menjadi lanskap penuh warna lewat pameran tunggal bertajuk “Whispers in Bloom: A Private Floral Affair” karya seniman cat air, Puti Mustika.
Cat Air sebagai Bahasa Emosi yang Tak Terucapkan
Di pameran ini, Puti menghadirkan karya-karya yang tidak hanya menampilkan keindahan visual, tetapi juga menjadi medium ekspresi emosi yang tidak selalu dapat diungkapkan dengan kata-kata. Ada sesuatu yang sengaja dibiarkan mengalir—tidak dikontrol sepenuhnya—seperti perasaan manusia itu sendiri.
Proses kreatifnya dimulai dari air. Dari sana, pigmen hadir dan menyebar secara bebas, melampaui kontrol, membentuk wujud-wujud yang rapuh dan tak terduga. Dalam ketidakteraturan itu, justru muncul kejujuran.
Di dalam proses tersebut, terdapat ruang untuk penerimaan—di mana kerentanan bukan sesuatu yang disembunyikan, melainkan menjadi bagian dari karya itu sendiri.

Lima Bunga, Lima Kisah Emosi
Dalam pameran ini, terdapat lima lukisan bunga yang masing-masing membawa kisah di baliknya. Bunga-bunga tersebut tidak sekadar menjadi simbol keindahan, melainkan refleksi dari kondisi emosional manusia: mekar, melembut, hingga perlahan memudar.
Setiap karya seperti menangkap satu momen perasaan yang berbeda—yang kadang hadir tanpa nama, tetapi terasa sangat nyata.
Makna dalam karya-karya ini tidak terletak pada bentuk semata, melainkan pada bagaimana warna bergerak, berpadu, dan pada akhirnya menghilang. Ada ritme yang tidak bisa dipaksakan, ada kebebasan yang justru melahirkan keindahan.
Setiap lukisan menjadi ruang pelepasan, tanpa tuntutan kesempurnaan. Di dalamnya, rasa bahagia, melankolis, hingga kegelapan larut dalam gerak dan warna, seolah semuanya memiliki tempat yang setara.
Baca Juga:
- Indonesia Tiga Besar Agoda Awards 2025, Bali Destinasi Favorit Wisatawan
- Harapan Baru Dunia Medis, Peneliti UNAIR Temukan Senyawa Antikanker dari Tanaman “Apa-apa”
- Bocah 9 Tahun Datangi Polisi untuk Mengaku Salah, Kisah Ini Jadi Pelajaran Soal Tanggung Jawab
Perjalanan Seorang Seniman Otodidak
Di balik karya-karya tersebut, Puti Mustika merupakan seniman cat air yang belajar secara otodidak dan mulai fokus pada tema floral serta botani sejak 2017. “Perjalanan saya di dunia melukis tidak dibangun melalui jalur akademik formal, melainkan melalui eksplorasi studio yang terus berkembang dari waktu ke waktu,” ujarnya saat konferensi pers di ARTOTEL Casa Kuningan, Jumat (10/4/2026).
Karyanya, sambung Puti, tumbuh dari pendekatan yang intuitif—melalui repetisi, observasi, serta sensitivitas terhadap bentuk-bentuk organik di sekitarnya. Proses ini membuat setiap karya terasa hidup dan tidak kaku, seolah terus dalam keadaan “menjadi”.
Melalui teknik sapuan berlapis dan gerakan kuas yang mengalir, ia menghadirkan komposisi yang ringan, terbuka, dan terus berkembang. Di dalamnya, terlihat jelas bagaimana emosi halus ikut membentuk arah visual, bukan hanya teknik semata.

Ruang Intim di Tengah Kota
Kolaborasi antara ARTOTEL Casa Kuningan dan EIARTI dalam pameran ini menghadirkan lebih dari sekadar ruang pamer. Artspace di G Floor disulap menjadi ruang yang mengundang pengunjung untuk masuk lebih dalam—bukan hanya melihat, tetapi merasakan.
General Manager ARTOTEL Casa Kuningan, Hassanudin, menegaskan bahwa Artspace dirancang sebagai ruang pengalaman yang lebih personal.
“Melalui ARTOTEL Artspace, kami ingin terus menghadirkan karya-karya yang tidak hanya estetis, tetapi juga memiliki kedalaman emosional. Kolaborasi dengan EIARTI dan Puti Mustika dalam pameran ini menjadi salah satu upaya kami untuk memberikan pengalaman seni yang lebih intim dan bermakna bagi para tamu dan penikmat seni,” ujarnya.
Mengalami Seni, Bukan Sekadar Melihat
“Whispers in Bloom” pada akhirnya bukan hanya tentang lukisan bunga. Ia adalah ajakan untuk memperlambat langkah, memperhatikan detail kecil, dan merasakan bagaimana sesuatu yang sederhana bisa menyimpan emosi yang kompleks.
Setiap karya membuka ruang refleksi—tentang bagaimana manusia mengalami perasaan yang terus bergerak, berubah, dan kadang sulit dijelaskan.
Ketika Emosi Menjadi Warna
Melalui pameran ini, ARTOTEL Casa Kuningan kembali menegaskan dirinya sebagai ruang yang bukan hanya menampilkan seni, tetapi juga menghadirkan pengalaman.
Di antara warna-warna yang mengalir bebas dan bunga-bunga yang seolah bernapas di atas kertas, “Whispers in Bloom” mengingatkan bahwa tidak semua hal perlu dikendalikan untuk menjadi indah.
Kadang, justru dalam ketidakpastian itulah, keindahan paling jujur muncul.


















































