Hi Urbie’s! Indonesia punya tempe, rempah, hasil laut, perkebunan, peternakan, sampai beragam pangan tradisional yang diwariskan lintas generasi, tetapi kekayaan itu belum otomatis berubah menjadi inovasi yang punya dampak luas.
Di titik inilah riset menjadi penting, karena pangan lokal tidak cukup hanya dikenal sebagai warisan budaya, tetapi juga perlu dipahami secara ilmiah, diuji manfaatnya, dijaga keamanannya, dan dikembangkan agar relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.
Memasuki dua dekade perjalananIndofood Riset Nugraha (IRN), PT Indofood Sukses Makmur Tbk kembali membawa isu tersebut ke ruang diskusi melaluiSimposium Pangan Nasional 2026di Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2026.
Mengusung tema“Inovasi Pangan Fungsional Berbasis Sumber Daya Lokal untuk Kemandirian Bangsa”, forum ini mempertemukan pemerintah, akademisi, peneliti, dan pelaku industri untuk membicarakan satu pertanyaan besar: bagaimana hasil riset pangan bisa keluar dari ruang akademik dan benar-benar bergerak menuju penerapan?
Dari Pangan Lokal Menuju Inovasi yang Bisa Dipakai
Pangan fungsional menjadi salah satu topik yang mendapat perhatian dalam simposium tahun ini. Bukan hanya soal menciptakan produk baru, pembahasannya juga menyentuh bagaimana bahan pangan lokal dapat dikembangkan dengan memperhatikan manfaat kesehatan, keamanan, mutu, regulasi, hingga kesiapan industri.
Keynote speech disampaikan Prof. Dr. Ir. Rachmat Pambudy, M.S., Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, yang membahas kebijakan dan arah pembangunan nasional terkait pangan, gizi, kesehatan, serta kemandirian bangsa.

Diskusi kemudian mempertemukan perspektif dari Kementerian Perindustrian, Kementerian Kesehatan, BPOM, akademisi, dan praktisi. Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa perjalanan sebuah inovasi pangan ternyata tidak berhenti ketika peneliti menemukan sesuatu yang menarik di laboratorium.
Ada proses panjang yang harus dilalui, mulai dari pembuktian ilmiah, pengujian keamanan dan mutu, pemenuhan regulasi, ketepatan klaim, hingga kesiapan untuk masuk ke industri. Dengan kata lain, riset yang bagus membutuhkan jembatan agar bisa benar-benar sampai kepada masyarakat.
Tempe, Rempah, sampai Kekayaan yang Sering Dianggap Biasa
Urbie’s, mungkin kita sering melihat pangan lokal sebagai sesuatu yang begitu dekat dengan keseharian sampai lupa bahwa di baliknya terdapat potensi penelitian yang besar.
Indonesia memiliki sumber daya pangan dari pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, rempah-rempah, hingga pangan fermentasi tradisional seperti tempe. Kekayaan tersebut juga berjalan berdampingan dengan pengetahuan masyarakat yang telah berkembang selama bertahun-tahun dalam mengolah dan memanfaatkannya.
Menurut Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc., Guru Besar IPB sekaligus Ketua Tim Pakar IRN, kekayaan pangan lokal dan pengetahuan tradisional dapat menjadi sumber gagasan inovasi, tetapi tetap membutuhkan riset untuk memahami potensinya secara ilmiah.
Pendekatan tersebut membuat pangan lokal tidak sekadar dipandang sebagai sesuatu yang harus dilestarikan. Ia juga dapat menjadi sumber ide untuk menciptakan pangan yang aman, bergizi, beragam, sekaligus memiliki nilai tambah bagi masyarakat.
Semangat itu sejalan dengan temaHari Pangan Sedunia 2026, “Innovate today. Nourish tomorrow”, yang menempatkan inovasi dan pengetahuan sebagai bagian dari upaya membangun masa depan pangan.
20 Tahun, Lebih dari 1.100 Penelitian Mahasiswa
Perjalanan IRN sendiri bukan program yang baru kemarin sore. Diluncurkan pada 2006 sebagai kelanjutan dari Program Bogasari Nugraha yang telah dirintis sejak 1998, IRN kini telah memasuki dua dekade perjalanan.
Selama periode tersebut, IRN telah menerima lebih dari19.200 proposal penelitiandan mendanai lebih dari1.100 penelitian mahasiswa S1dari lebih dari 200 universitas dan perguruan tinggi di Indonesia, dengan cakupan dari Aceh hingga Papua.
Baca juga:
- Karhutla Kembali Melanda Gunung Semeru, Jalur Pendakian Ditutup dan 170 Pendaki Dievakuasi
- Chef Stephane Carrade di Jakarta: Dari Dua Bintang Michelin hingga Pesan untuk Chef Muda Indonesia
Dukungan yang diberikan bukan hanya berupa dana penelitian. Para mahasiswa juga mendapatkan pendampingan dari tim pakar lintas disiplin, proses seleksi, bimbingan, hingga penilaian hasil penelitian yang dapat membantu mereka membangun kemampuan berpikir kritis dan ilmiah.
Bagi Indofood, investasi terhadap peneliti muda menjadi bagian dari investasi terhadap masa depan pangan Indonesia. Stefanus Indrayana, Head of Corporate Communications PT Indofood Sukses Makmur Tbk, menyebut perjalanan dua dekade IRN sebagai wujud konsistensi perusahaan dalam membuka ruang bagi mahasiswa untuk bereksplorasi dan mengembangkan gagasan.
83 Peneliti Muda Memulai Babak Baru
Simposium Pangan Nasional 2026 sekaligus menjadi momentum dimulainyaProgram IRN 2026–2027. Dari total595 proposal penelitianyang diterima, sebanyak83 peneliti mahasiswa S1terpilih untuk melanjutkan penelitian dengan dukungan dana dan pendampingan Tim Pakar IRN selama satu tahun.
Program tahun ini telah dimulai sejak pertengahan 2026 melalui sosialisasi ke berbagai universitas dan perguruan tinggi pada Juni. Setelah pendaftaran dibuka hingga akhir Agustus, proposal kemudian melewati proses seleksi oleh tim pakar IRN.
Selain memulai periode baru, rangkaian kegiatan juga mencakup penghargaan bagi peneliti terbaik IRN 2025–2026 serta penandatanganan kerja sama dan penyerahan simbolis bantuan dana riset.
Dua dekade kemudian, mungkin ukuran keberhasilan sebuah program riset bukan hanya berapa banyak proposal yang diterima atau penelitian yang dibiayai. Yang lebih menarik justru adalah apa yang terjadi setelahnya: ketika mahasiswa yang pernah meneliti hari ini tumbuh menjadi akademisi, peneliti, profesional, atau entrepreneur yang kembali menciptakan sesuatu untuk masyarakat.
Di situlah IRN mencoba membangun sesuatu yang lebih panjang dari sekadar satu periode pendanaan. Jejaring alumni yang telah terbentuk selama dua dekade menjadi modal untuk memperluas pertukaran pengetahuan dan membuka peluang kolaborasi baru di bidang pangan.
Pada akhirnya, kekayaan pangan Indonesia mungkin sudah ada sejak lama di sekitar kita. Tantangannya sekarang adalah menemukan cara agar kekayaan tersebut bisa diteliti, dibuktikan, dikembangkan, dan diwariskan dalam bentuk inovasi yang benar-benar berguna untuk generasi berikutnya.



